BEKASI, KOMPAS.com - Sejumlah harga bahan pokok di Pasar Baru Bekasi, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, mengalami lonjakan. Hal ini dirasakan betul oleh pedagang dan pembeli di pasar tersebut.
Di tengah harga kebutuhan yang terus merangkak naik, kondisi pasar tradisional di Kota Bekasi ini justru semakin sepi sehingga omzet pedagang turun drastis.
Sejumlah pedagang mengaku kondisi pasar saat ini bahkan lebih sulit dibanding masa pandemi Covid-19.
Baca juga: Pagi di Stasiun Senen Terganggu: Lokomotif dan Gerbong KA Anjlok, Perjalanan Kereta Tersendat
Harga Cabai dan Bawang Melonjak
Afrida (55), pedagang cabai dan bawang di Pasar Baru Bekasi, mengatakan kenaikan harga mulai terasa sejak Maret 2026 atau menjelang Lebaran. Ia menilai, tingginya harga membuat daya beli masyarakat terus menurun.
“Pembelinya enggak ada. Semakin ke sini dagang juga mulai sepi, barangnya pada mahal. Omzet jadi turun sekitar 40 persen,” ujar Afrida saat ditemui Kompas.com di lapaknya, Jumat (22/5/2026).
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Afrida (55) pedagang sayur di Pasar Baru, Bekasi Timur, Kota Bekasi mengeluhkan harga cabai bawang yang terus tinggi di tengah sepinya pembeli. Jumat (22/5/2026).
Ia mengatakan, harga cabai dan bawang menjadi komoditas yang paling terasa kenaikannya. Harga cabai merah yang sebelumnya sekitar Rp 35.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per kilogram. Sementara cabai rawit merah mencapai Rp 85.000 per kilogram.
“Cabai sekarang lagi mahal. Bawang merah juga sama. Enggak ada yang murah sekarang,” kata Afrida.
Menurut dia, kondisi pasar semakin sepi karena masyarakat kini lebih memilih berbelanja secara online dibanding datang langsung ke pasar tradisional.
“Pasar enggak ada orang, masih pagi aja sudah sepi. Kalah sama online lah. Sekarang orang seperlunya aja ke pasar,” ujar dia.
Selain persaingan dengan belanja daring, Afrida juga menyoroti banyaknya pedagang yang berjualan di luar area pasar sehingga pembeli enggan masuk ke dalam pasar utama.
Ia menuturkan, pelanggan tetap yang sebelumnya berbelanja hingga Rp 300.000 kini hanya membeli sekitar Rp 100.000.
“Sekarang mah harus sabar. Kalau enggak punya pelanggan, banyak pedagang yang sudah tutup,” kata Afrida.
Baca juga: Mandi-Cuci Pakai Air Kali Tercemar, Warga Cikarang Bekasi Alami Gatal hingga Diare
Kondisi Disebut Lebih Sulit dari Masa Covid-19
Keluhan serupa disampaikan Imas (50), pedagang ayam yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Baru Bekasi.
Ia mengatakan harga ayam broiler kini berada di kisaran Rp 33.000 hingga Rp 38.000 per kilogram, naik sekitar 35 persen dibanding sebelumnya yang hanya Rp 28.000 per kilogram.
“Dulu sehari bisa jual 50 sampai 60 ekor ayam. Sekarang bawa 20 ekor aja masih sering sisa,” ujar Imas.
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Suasana aktivitas jual beli di Pasar Baru Bekasi, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jumat (22/5/2026).
Menurut dia, kondisi pasar saat ini terasa lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19 karena harga terus naik, sedangkan jumlah pembeli menurun.
“Sekarang mah pasar sepi atau ramai enggak jadi masalah, kalau harga naik ya naik aja,” kata dia.
Imas mengaku omzet penjualannya turun lebih dari separuh. Jika sebelumnya ia bisa memperoleh omzet hingga Rp 5 juta per hari, kini hanya sekitar Rp 2 juta.
Harga Minyak dan Plastik Ikut Naik
Tak hanya bahan pangan, kenaikan harga juga terjadi pada kebutuhan dagangan lain, di antaranya minyak goreng dan kantong plastik.