Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom senior sekaligus mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menilai langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate masih tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
Hal itu disampaikan Burhanuddin usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Meski mengaku tidak secara khusus membahas kebijakan BI Rate dalam rapat, Burhanuddin menyinggung pengalamannya saat memimpin Bank Indonesia pada 2005 ketika harus menaikkan suku bunga secara agresif untuk meredam lonjakan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Enggak, saya tidak membahas itu. Tapi saya cerita tahun 2005 itu saya menaikkan bukan 25 basis poin. Yang pertama itu 75, yang kedua 100 basis poin,” ujar Burhanuddin.
Ia menjelaskan, saat itu suku bunga acuan dinaikkan dari 8 persen menjadi 12,5 persen. Namun, kebijakan tersebut dinilai masih relevan karena inflasi pada saat itu mencapai sekitar 17 persen.
“Sehingga dari 8 waktu itu jadi 12,5 persen. Itu masih positif dampaknya karena inflasi diperkirakan 17 persen, sehingga suku bunga dengan 12,5 persen saja masih negatif,” katanya.
Baca Juga
- Hasil Pertemuan Prabowo dengan Ekonom Senior, Diskusi soal Krisis 2005 hingga Koordinasi Fiskal-Moneter
- Prabowo Panggil Menteri Ekonomi ke Istana, Bahas Stabilitas Rupiah?
- Strategi Optimistis Prabowo Jaga Mesin Ekonomi di Tengah Badai Global
Menurut Burhanuddin, respons pasar terhadap kebijakan tersebut justru positif. Nilai tukar rupiah perlahan stabil dan inflasi kembali turun pada tahun berikutnya.
“Setelah tahu bahwa direspon positif, turun pelan-pelan, rupiah stabil, turun pelan-pelan, akhirnya tahun 2006 inflasi kita kembali ke tahun 2004,” ujarnya.
Ia menambahkan, inflasi Indonesia sempat melonjak menjadi 17 persen pada 2005 akibat kenaikan harga BBM, sebelum akhirnya kembali ke level sekitar 6 persen pada 2006.
Burhanuddin juga menilai masyarakat perlu memahami bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini masih jauh lebih terkendali dibandingkan masa krisis ekonomi sebelumnya.
“16.000-17.000 ini kan kenaikannya 5 persen. Tetapi orang cenderung memikirkannya itu dulu 2.500 kan,” katanya.
Menurut dia, depresiasi rupiah saat ini masih relatif kecil bila dibandingkan dengan krisis ekonomi masa lalu.
“Selama satu tahun 2005 itu hanya 3,4 persen depresiasinya. Sekarang 5 persen. Jadi kecil sekali sebetulnya dibandingkan dengan dulu itu 42 persen zaman krisis,” ujar Burhanuddin.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memperkuat komunikasi publik agar masyarakat memahami kondisi ekonomi secara lebih proporsional.
“Nah ini yang barangkali perlu di-exercise kepada masyarakat, lebih disosialisasikan,” tandasnya.





