Liputan6.com, Jakarta - Komando Operasi (Koops) TNI Habema membantah keras tuduhan yang menyebut aparat TNI melakukan serangan terhadap Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Narasi yang beredar di media sosial tersebut dinilai menyesatkan dan berpotensi memperkeruh situasi keamanan di wilayah setempat.
Tuduhan tersebut muncul setelah beredarnya informasi yang langsung mengaitkan insiden ledakan di lingkungan gereja dengan aparat keamanan. Padahal, saat ini proses investigasi masih terus berjalan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Advertisement
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Infanteri M. Wirya Arthadiguna, mengungkapkan bahwa jenis granat yang ditemukan di lokasi ledakan bukan merupakan senjata standar yang digunakan oleh TNI.
"Kami menyesalkan adanya pemberitaan dan narasi di media sosial yang langsung menuduh TNI-Polri sebagai pelaku. Di sini kami tegaskan bahwa TNI bukan pelaku pengeboman tersebut," kata Wirya dalam keterangan tertulisnya.
Wirya juga meluruskan isu mengenai penggunaan teknologi militer dalam insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa TNI tidak pernah menggunakan drone bersenjata untuk menyerang warga sipil, terlebih di area rumah ibadah yang harus dilindungi dari konflik.
Menurut Wirya, Koops TNI Habema selama ini mengedepankan pendekatan keamanan yang humanis dalam menjalankan tugas di Papua. Perlindungan terhadap masyarakat sipil, tempat ibadah, serta fasilitas umum tetap menjadi prioritas utama aparat di lapangan.




