Kejuaraan Pencak Silat Piala Wali Kota Surabaya yang digelar di mal City of Tomorrow (Cito) pada 22–24 Mei 2026 menjadi ajang penting bagi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Surabaya dalam melakukan pembinaan sekaligus memantau atlet potensial untuk persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Ajang ini diikuti sebanyak 1.357 atlet dari berbagai perguruan pencak silat se-Surabaya.
Nur Azmi Rifai, Kepala Lembaga Pelatih IPSI Surabaya, mengatakan bahwa kejuaraan ini memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai sarana pembinaan dan proses pantauan atlet menuju Porprov.
“Pertandingan ini dua-duanya, sebagai pembinaan sekaligus ajang pantauan untuk rekrutmen atlet Porprov. Nantinya atlet-atlet yang tampil bagus akan diseleksi kembali bersama atlet eks Porprov dan hasil Piala KONI.” ujarnya.
Ia menjelaskan, atlet yang masuk ‘radar’ seleksi sebelumnya berasal dari peraih medali Porprov Malang Kota serta juara pada ajang Piala KONI. Dari hasil Piala Wali Kota ini, IPSI kembali mencari atlet potensial yang dinilai mampu memperkuat tim Surabaya.
“Rekrut pertama itu adalah eks Porprov di Malang Kota itu yang mendapat medali. Kemudian yang kedua adalah hasil Piala KONI. Ini nanti menjadi pantauan. Kalau ada atlet yang bagus, nanti kita akan seleksi kembali dengan yang eks Porprov dan hasil Piala KONI.” jelasnya.
Kejuaraan tersebut terbagi menjadi dua kategori, yakni pemasalan dan prestasi. Kategori pemasalan difokuskan pada pengenalan serta pembibitan atlet secara umum, sedangkan kategori prestasi menggunakan standar resmi IPSI dengan kelas bobot sesuai regulasi pertandingan.
“Pemasalan itu pengenalan dan pembibitan secara massal, secara umum. Kalau prestasi, itu kategori murni prestasi dengan waktu yang sesuai standar aturan IPSI, dan kelas bobotnya juga sesuai kualifikasi.” katanya
Ia menambahkan sejumlah atlet yang sebelumnya meraih juara dua dan tiga pada kompetisi lain masih menunjukkan performa menonjol di ajang ini. Hal itu membuat mereka masuk dalam pertimbangan IPSI Surabaya untuk kebutuhan seleksi lanjutan.
“Di antara mereka kemarin juara dua, juara tiga, itu di sini masih tetap menonjol. Sehingga nanti mungkin akan dipertimbangkan menjadi pantauan kalau sekiranya memang dibutuhkan untuk seleksi.” tambahnya.
IPSI Surabaya sendiri telah menjalankan program pembinaan berkelanjutan melalui Training Center (TC) sejak Januari 2026. Program tersebut berlangsung di dua lokasi, yakni KONI Jawa Timur dan SMA Muhammadiyah 2 Klenteng Surabaya.
“Training Center-nya itu dilaksanakan di dua tempat, di KONI Jatim dan di SMA Muhammadiyah 2 Klenteng. Itu sudah sejak Januari. Bahkan yang eks Porprov itu sudah sebelumnya dimulai latihan.” ungkapnya
Ia menyebutkan, Trainint Center sempat difokuskan untuk menghadapi Kejuaraan Provinsi yang berlangsung di Gelora Pancasila. Setelah itu, pembinaan kembali dilanjutkan untuk persiapan Popda yang akan digelar pada November mendatang.
“Target kami di Piala Wali Kota ini adalah menemukan atlet-atlet potensial untuk melengkapi ‘puzzle’ yang masih kurang di tim Surabaya. Harapannya nanti saat Popda maupun Porprov, tim kita sudah full team dan lengkap di setiap kelas,” ucapnya.
Nur Azmi juga berharap pencak silat Surabaya terus berkembang dan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi hingga tingkat internasional.
“Jargon kita adalah ‘Surabaya Kota Pesilat’. Kami berharap prestasi pencak silat Surabaya terus menggema, baik di tingkat nasional maupun internasional. Karena sudah banyak atlet Surabaya yang masuk Pelatnas hingga menjadi juara dunia,” pungkasnya.(rzl/kir/iss)




