Listrik Sumatera Bagian Utara Masih Padam, Dirut PLN: Butuh 15-20 Jam Hidupkan Kembali PLTU

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

MEDAN, KOMPAS – Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Darmawan Prasodjo menyebut proses pemulihan kelistrikan di Sumatera bagian utara masih butuh waktu. Proses paling lama dalah menghidupkan dan menyambungkan kembali pembangkit listrik tenaga uap yang memakan waktu 15-20 jam.

“Untuk sistem PLTU batu bara prosesnya membutuhkan waktu yang cukup panjang. Karena kami harus memanaskan air untuk menjadi uap. Dengan proses yang harus dinyalakan satu per satu,” kata Darmawan dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Darmawan menjelaskan, sistem kelistrikan di wilayah Sumatera bagian utara meliputi Sumut, Aceh, Sumbar, Riau, dan Jambi lumpuh hampir seluruhnya sejak Jumat pukul 18.44 WIB. Indikasi awal, lumpuh total atau blackout itu terjadi akibat gangguan di jalur transmisi 275 kV Muarabugo – Sungai Rumbai di Jambi karena cuaca buruk.

Gangguan transmisi itu menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera bagian tengah terputus dari sistem Sumbagut. Hal ini membuat sistem Sumbagut mengalami shock karena putusnya pasokan maupun beban kelistrikan secara tiba-tiba.

“Akibatnya, pembangkit listrik di Sumbagut langsung secara otomatis keluar dari sistem. Pembangkitnya juga secara otomatis padam,” kata Darmawan.

Darmawan menjelaskan, pembangkit listrik otomatis padam karena menanggung beban yang sangat besar. Pembangkit lainnya padam karena kehilangan beban sehingga tegangan naik dan otomatis padam.

Padamnya sejumlah pembangkit listrik menyebabkan efek domino di seluruh sistem Sumbagut, sehingga semua pembangkit di sistem itu padam.

Darmawan menjelaskan, PLN telah mengambil sejumlah langkah awal. Pertama, mereka melakukan asesmen atau pemeriksaan apakah ada dampak kerusakan pada gardu induk dan sistem transmisi. “Dalam waktu sekitar dua jam, seluruh sistem gardu induk dan transmisi bisa kami pulihkan,” katanya.

Namun, listrik tak bisa otomatis menyala. PLN harus menghidupkan kembali pembangkit listrik, menyambungkan, dan menyingkronkan ke sistem secara bertahap.

Darmawan mengatakan, Sumbagut ditopang berbagai jenis pembangkit listrik. Pembangkit bertenaga air dan gas lebih mudah dan cepat untuk dihidupkan kembali. “Cepat dalam hal ini adalah 5-15 jam,” kata Darmawan.

Namun, untuk PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, proses menghidupkan kembali mesin yang padam memakan waktu 15-29 jam.

Langkah selanjutnya, kata Darmawan, adalah menyambungkan pembangkit tersebut kepada sistem transmisi melalui gardu induk lalu menyinkronkannya ke sistem.

Dalam jangka panjang, kata Darmawan, PLN akan memperbaiki sistem kelistrikan Sumatera agar kejadian blackout atau padam total tidak terjadi lagi di Sumatera. “PT PLN menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang berada di Sumatera, terutama di Jambi, Sumbar, Riau, Sumut, dan Aceh karena adanya gangguan di sistem kelistrikan sejak tadi malam,” kata Darmawan.

Pantauan Kompas, aliran listrik sudah mulai pulih di beberapa daerah di Sumbagut. Di Medan, listrik mulai menyala khususnya di pusat perkotaan. Namun, sebagian besar listrik masih padam.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah mengatakan, pelaku industri menyesalkan padamnya listrik yang berlangsung sangat lama hingga 20 jam. Kerugian akibat padamnya listrik tersebut cukup dalam karena berbarengan dengan harga solar industri yang juga meroket hampir Rp 30.000 per liter.

Beberapa pabrik karet remah tetap beroperasi untuk memenuhi target produksi dan kontrak penjualan meskipun biaya membengkak karena harus menggunakan generator pembangkit. Namun, ada juga pabrik yang memilih berhenti beroperasi karena biaya pengolahan karet meningkat 100 persen jika harus menggunakan generator pembangkit listrik.

“Di Kabupaten Labuhanbatu, sebuah pabrik memilih berhenti beroperasi untuk menghindari kerugian yang lebih dalam akibat biaya pengolahan yang meningkat 100 persen,” kata Edy.

Edy berharap, pemulihan bisa segera dilakukan agar kerugian dunia usaha tidak semakin besar. Bagi industri keret, kata Edy, listrik adalah pasokan energi utama dalam rantai produksi. Pabrik karet remah menggunakan motor listrik yang membutuhkan daya cukup besar untuk melakukan penggilingan dan peremahan karet. Untuk mengolah 1 ton karet membutuhkan listrik 180 kilowat-jam (KWH).  

Lumpuhnya jaringan listrik juga berdampak ke berbagai sektor lain. Jaringan komunikasi seluler lumpuh di berbagai tempat. Sebagian lampu lalu-lintas juga tak bisa hidup sehingga menyebabkan kemacetan lalu-lintas yang cukup parah di beberapa persimpangan. Beberapa mesin ATM juga tak beroperasi karena gangguan listrik tersebut. Sudah 20 jam listrik di Sumbagut padam sejak Jumat pukul 18.44.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
InJourney Airports Sukses Tuntaskan Fase Keberangkatan Jemaah Haji 2026
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Persija Bungkam Semen Padang 3-0 di JIS, Laga Sempat Terhenti karena Flare The Jakmania
• 17 menit lalumedcom.id
thumb
Kasus Covid-19 di Singapura Meledak ke 12.700, Ini Penyebabnya
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hujan Lebat Masih Berpotensi Guyur Jawa Tengah hingga Akhir Mei
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Klasemen Akhir: Meski Menang 3-1 Persis Solo Degradasi ke Liga 2, Madura United Selamat Usai Kalahkan PSM Makassar 2-0
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.