JAKARTA, DISWAY.ID-- Dunia penerbangan Indonesia akan mengimplementasikan Air Traffic Management Automation System (ATMAS) pada Juni 2026 mendatang.
ATMAS ialah sistem otomatisasi manajemen lalu lintas penerbangan yang digunakan untuk membantu pengaturan, pemantauan, dan pengendalian pergerakan pesawat di ruang udara agar lebih aman, efisien, dan terkoordinasi.
BACA JUGA:Bayern Munich Siap Bajak Yann Bisseck dari Inter Milan, Nerazzurri Inginkan Andriy Lunin
Sistem ini dipakai oleh petugas pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC) untuk mengelola pergerakan pesawat mulai dari lepas landas, terbang di jalur udara, hingga mendarat.
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) memastikan kesiapan operasional modernisasi sistem navigasi penerbangan nasional melalui ATMAS di New Jakarta Air Traffic Services Centre (JATSC).
Kesiapan tersebut ditinjau langsung Komisi V DPR RI ke Kantor Pusat AirNav Indonesia di Tangerang, Jumat (22 Mei 2026). Antara lain memantau ke Indonesia Network Management Centre (INMC) dan New JATSC.
BACA JUGA:Promo Superindo Jelang Hari RRaya Idul Adha 23 Mei 2026, Diskon ABC Kecap Manis Cuma Rp16 Ribuan
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa mengatakan, implementasi ATMAS menjadi langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kapasitas, keselamatan, efisiensi, dan ketahanan layanan lalu lintas udara nasional.
“Seluruh tahapan implementasi dilakukan secara hati-hati dengan mitigasi risiko dan contingency plan yang komprehensif guna memastikan pelayanan navigasi penerbangan tetap aman dan andal,” ujar Lukman.
Menurutnya, modernisasi ATMAS sebelumnya telah diterapkan di Medan, Pontianak, dan Balikpapan sebelum nantinya dioperasikan penuh di Jakarta pada Juni 2026.
BACA JUGA:Bumi Berseru Fest 2025: Telkom Apresiasi 17 Inovator Lingkungan Terbaik
Selain memastikan kesiapan implementasi ATMAS, Ditjen Hubud juga memaparkan langkah mitigasi terhadap gangguan Global Navigation Satellite System Radio Frequency Interference (GNSS RFI) yang sempat terjadi di sekitar Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pada April 2026.
Operasional penerbangan disebut tetap berjalan aman melalui optimalisasi sistem navigasi cadangan berbasis terrestrial seperti Instrument Landing System (ILS), Distance Measuring Equipment (DME), dan VHF Omnidirectional Range (VOR), serta dukungan radar vector oleh petugas Air Traffic Controller (ATC).
Ditjen Hubud bersama AirNav Indonesia juga telah meningkatkan koordinasi lintas instansi, menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM), melaporkan kejadian kepada International Civil Aviation Organization Asia Pacific Regional Office, serta menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SE-DJPU 11 Tahun 2026 tentang Pelaporan dan Penanganan GNSS RFI.
BACA JUGA:Penguatan Digital Branding Antar bank bjb Raih Prestasi di Infobank–Isentia Digital Brand Appreciation 2026
- 1
- 2
- »





