Sebuah survei terbaru di Jepang mengungkap hampir separuh perempuan lanjut usia (lansia) di negara itu ternyata lebih memilih meminta saran kepada AI dibanding manusia saat menghadapi konflik interpersonal.
Melansir laporan Kyodo News, Sabtu (1/5/2026), hasil survei yang dilakukan Japan Institute for Promotion of Digital Economy and Community menunjukkan sebanyak 47,8 persen perempuan berusia 60 hingga 70 tahun memilih AI sebagai tempat berkonsultasi, mengenai persoalan hubungan antarmanusia.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding responden perempuan pada kelompok usia yang sama, yang memilih berkonsultasi dengan manusia, yakni sebesar 37,3 persen. Survei daring itu dilakukan pada pertengahan Januari 2026 dan melibatkan 1.449 responden berusia 18 hingga 79 tahun di Jepang.
Secara keseluruhan, sebanyak 45,8 persen responden mengaku lebih memilih manusia ketika mencari saran yang objektif terkait persoalan interpersonal. Sementara 36,5 persen responden memilih AI, dan 17,7 persen lainnya mengaku tidak tahu atau tidak ingin memilih.
Berbeda dengan responden perempuan lansia, mayoritas laki-laki berusia 60 hingga 70 tahun masih lebih nyaman berkonsultasi dengan manusia. Sebanyak 57 persen responden laki-laki pada kelompok usia tersebut memilih manusia, sedangkan hanya 25,2 persen yang memilih AI.
Atsushi Nakagomi Profesor Madya di Universitas Chiba yang meneliti hubungan AI dan kesehatan manusia mengaku terkejut dengan hasil survei tersebut, khususnya tingginya kecenderungan perempuan lansia memilih AI.
Menurutnya, AI memberikan rasa aman bagi pengguna untuk berbicara lebih terbuka tanpa takut dihakimi. “AI membuat orang merasa lebih nyaman untuk terbuka karena mereka dapat meminta saran tanpa khawatir bagaimana komentar mereka akan dipersepsikan,” ujar Nakagomi. (bil/faz)




