Sedikitnya 90 orang dilaporkan meninggal dunia akibat ledakan gas di tambang batu bara wilayah utara China. Insiden itu terjadi di Tambang Batu Bara Liushenyu yang dikelola Tongzhou Group di Provinsi Shanxi.
Media pemerintah China melaporkan ledakan terjadi pada, Jumat (22/5/2026) pukul 19.29 waktu setempat, saat sebanyak 247 pekerja sedang bertugas di dalam tambang.
Ratusan tim penyelamat langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi korban dan pencarian pekerja yang masih hilang. Rekaman media pemerintah memperlihatkan petugas medis membawa tandu di sekitar lokasi kejadian, sementara ambulans bersiaga di area tambang.
Selain itu, Kementerian Manajemen Darurat China dikabarkan juga telah mengirimkan 345 personel dari enam tim penyelamat untuk membantu proses evakuasi dan penanganan di lokasi.
Melansir BBC, selain korban meninggal, lebih dari 100 orang dilaporkan telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Hingga kini proses penyelamatan masih terus berlangsung.
Menanggapi tragedi tersebut, Xi Jinping Presiden China meminta seluruh pihak melakukan upaya maksimal untuk merawat korban luka dan mencari korban selamat.
Xi Jinping juga memerintahkan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab ledakan serta meminta pihak yang bertanggung jawab diproses hukum. Media pemerintah China juga menyebut sejumlah pejabat pengelola tambang telah ditahan usai kejadian tersebut.
Hingga saat ini penyebab pasti ledakan belum diumumkan secara resmi. Namun media setempat melaporkan kadar karbon monoksida di dalam tambang ditemukan melebihi batas aman. Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau.
Provinsi Shanxi sendiri dikenal sebagai pusat industri tambang batu bara terbesar di China, sekaligus salah satu wilayah dengan tingkat ekonomi yang relatif rendah.
Pada awal 2000-an, kecelakaan tambang mematikan cukup sering terjadi di China. Meski standar keselamatan kini telah diperketat, insiden serupa masih terus berulang.
Pada 2023 lalu, longsor di tambang batu bara terbuka wilayah Inner Mongolia menyebabkan 53 orang meninggal. Sementara pada 2009, ledakan tambang di Provinsi Heilongjiang menewaskan lebih dari 100 pekerja.
China sendiri masih menjadi konsumen batu bara terbesar di dunia sekaligus penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, meskipun negara itu juga terus mempercepat pembangunan energi terbarukan. (bil/faz)




