- Mengapa gajah sumatera melintas di kawasan padat penduduk?
- Mengapa konflik gajah dan manusia makin sering terjadi?
- Apakah gajah sengaja memasuki kampung dan pasar warga?
- Mengapa memindahkan gajah bukan solusi mudah?
- Apa yang perlu dilakukan agar konflik tidak menjadi bom waktu?
Gajah liar pada dasarnya memiliki naluri menghindari manusia. Karena itu, kemunculan dua gajah di tengah Pasar Jukung, Air Sugihan, Sumatera Selatan, bukan peristiwa biasa, melainkan tanda ada gangguan serius pada ruang hidup mereka. Kehadiran satwa sebesar itu di pusat aktivitas warga merupakan alarm bahwa keseimbangan habitat sedang terganggu.
Menurut Ali Akbar, anggota Forum Konservasi Gajah Indonesia, gajah biasanya baru mendekati manusia ketika menghadapi situasi darurat. Ancamannya dapat berupa kekurangan makanan dan air, perburuan, atau tekanan lain yang membuat mereka merasa tidak aman.
Ali mengatakan, kemungkinan besar gajah yang melintasi pasar sedang berada dalam kondisi terancam. Mereka bahkan diduga sangat lapar atau merasa dikejar sehingga berani memasuki area yang sebelumnya dihindari.
”Peristiwa itu bukan kejadian biasa. Gajah-gajah itu kemungkinan besar sedang merasa terancam,” ujar Ali. Bagi para peneliti, kemunculan gajah di pusat keramaian lebih menyerupai sinyal bahaya daripada kejadian unik.
Konflik meningkat karena ruang hidup gajah dan manusia kini semakin tumpang tindih. Dahulu Air Sugihan merupakan wilayah jelajah alami gajah. Namun, dalam puluhan tahun terakhir, kawasan itu berubah menjadi permukiman, perkebunan, lahan pertanian, dan area industri.
Data yang dikutip dari buku Gajah Palembang: Sejarah, Akar Konflik, dan Solusinya menunjukkan sekitar 83 persen habitat lama gajah di Air Sugihan telah berubah menjadi perkebunan monokultur.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna menjelaskan, kondisi tersebut membuat interaksi antara manusia dan gajah tidak lagi dapat dihindari. Ruang yang dahulu menjadi jalur migrasi satwa kini dipenuhi aktivitas manusia.
Ketika jalur historis gajah dipotong oleh kebun, permukiman, dan industri, perjumpaan akan makin sering terjadi. Jika dibiarkan, interaksi berulang dapat berkembang menjadi konflik terbuka yang merugikan kedua pihak.
Tidak selalu. Dalam banyak kasus, gajah justru sedang mengikuti jalur yang sudah mereka kenal sejak lama. Persoalannya, jalur tersebut kini berubah menjadi kawasan yang dipadati manusia.
Camat Air Sugihan Ardhiles Siahaan mengatakan, Pasar Jukung sejak awal sebenarnya berada di kawasan yang bersinggungan dengan koridor historis gajah. Kawasan itu perlahan berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi.
Ardhiles menjelaskan bahwa hampir semua desa di Air Sugihan dikelilingi koridor gajah dengan populasi sekitar 140 individu yang terbagi dalam beberapa kelompok besar.
Karena itu, ketika gajah muncul di pasar atau dekat rumah warga, bukan berarti satwa itu sedang menyerbu manusia. Bisa jadi manusialah yang kini berada di jalur yang selama puluhan, bahkan ratusan, tahun telah menjadi jalan hidup gajah.
Sekilas, memindahkan gajah tampak seperti solusi cepat. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa langkah itu tidak sesederhana memindahkan satwa dari satu tempat ke tempat lain.
Polisi Hutan BKSDA Sumsel Ruswanto mengatakan, pemindahan berpotensi mencabut gajah dari kehidupan asalnya. Gajah memiliki ingatan ruang yang kuat dan mengenali wilayah jelajahnya.
Pengalaman Operasi Ganesha tahun 1982 menunjukkan sebagian gajah yang dipindahkan justru kembali lagi ke Air Sugihan meski telah dipindah puluhan kilometer.
Selain itu, lokasi baru juga memiliki kelompok gajah lain. Kehadiran kelompok asing bisa memicu gangguan baru. Karena itu, pendekatan hidup berdampingan dinilai lebih realistis dibandingkan memindahkan seluruh populasi.
Penanganan konflik tidak cukup hanya mengusir gajah setiap kali muncul. Solusi harus menyentuh akar masalah, yakni memastikan gajah memiliki ruang hidup yang aman dan sumber pakan yang cukup.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna mengatakan, masyarakat perlu mendapat pelatihan mengenai perilaku gajah dan cara penghalauan yang aman. Infrastruktur mitigasi mulai dari menara pantau, GPS collar, tim patroli, hingga tanaman penghalau juga perlu diperkuat.
Belantara Foundation juga mengusulkan penanaman serai wangi karena tanaman tersebut tidak disukai gajah dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Dolly, langkah paling penting adalah membuat gajah merasa nyaman di wilayah koridornya sendiri. Jika habitatnya aman, gajah tidak perlu masuk ke kebun atau permukiman warga. Dengan begitu, manusia dan satwa dapat hidup berdampingan tanpa saling mengancam.





