Trio yang digawangi oleh Ryan Lott, Rafiq Bhatia, dan Ian Chang ini menerangkan bahwa "Endlessly" didapuk sebagai fokus trek yang unik secara sonik. Lagu ini sekaligus menjadi cuplikan awal dari album mereka yang diklaim paling berwarna secara ritmis, namun tetap memiliki urgensi lirik yang mendalam.
Selama dua dekade berkarier, Son Lux identik dengan lanskap musik yang megah dan sinematik. Lewat Out Into, mereka memilih arah kemudi yang berbeda. Album ini menghormati percikan kreativitas paling murni, di mana draf rekaman suara (voice note) pertama dari sebuah lagu diperlakukan sebagai versi yang paling sakral untuk dikembangkan melalui improvisasi kolektif yang dinamis.
Menariknya, kemegahan "Endlessly" turut disokong oleh kolaborasi bersama grup marching band ternama dunia, The Bluecoats. Lagu ini dirancang sebagai sebuah selebrasi diri sekaligus pengingat bahwa setiap orang berhak menjadi siapa pun yang mereka inginkan.
Baca Juga :
Diproduseri Coki KPR, Black Horses Hadirkan Sisi Gelap Kehidupan di Album Jahanam“Lagu-lagu di album ini tentang kehilangan dan menemukan diri sendiri,” ujar Ryan Lott dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id pada Jumat, 22 Mei 2026.
“Bagaimana kita kehilangan diri sendiri dalam sebuah hubungan, di pekerjaan, di anak-anak kita, dan dalam pengejaran serta keinginan kita. Jadi, bagaimana kita menemukan diri sendiri? Bagaimana kita menemukan satu sama lain?," lanjutnya.
“Kami terus berubah seiring kita terus mempelajari diri sendiri. Itulah sebagian makna dari album ‘Out Into’. Kita keluar dari sesuatu dan berubah menjadi hal lain. Tiap momen adalah sebuah jalan keluar dan sebuah pintu masuk secara bersamaan,” tambah Ryan Lott.
Dari departemen ritme, intensitas bait-bait yang ditulis Ryan berpadu apik dengan ketukan drum dari Ian Chang serta cabikan bass dari Rafiq Bhatia. Ian Chang mengungkapkan bahwa salah satu benang merah dari aransemen di album ini adalah kecintaan mereka terhadap musik hip-hop, khususnya era boom-bap.
“Kami sangat mencintai sosok seperti J Dilla dan Madlib; beat yang mengalir, terstruktur tapi tidak kaku. Kami selalu tertarik pada sisi kemanusiaan di dalam musik. Dengan maraknya kecerdasan buatan (AI) di industri musik saat ini, kami justru tertarik membuat karya-karya di mana pendengar dapat merasakan langsung sentuhan tangan manusia," tutur Ian Chang menegaskan visi mereka. Rekam Jejak Son Lux: Dari Nominasi Oscar hingga Marvel Studios Bagi penikmat sinema, nama Son Lux tentu sudah tidak asing lagi. Mereka sukses mengantongi dua nominasi piala Oscar dan dua nominasi BAFTA (kategori Best Original Song dan Best Original Score) berkat mahakarya scoring mereka di film produksi A24 yang memenangkan Best Picture, Everything Everywhere All at Once.
Baca Juga :
Jessie J Nangis Berjam-jam Setelah Dinyatakan Bebas KankerSentuhan magis scoring mereka juga dipastikan bakal menggema lewat film pahlawan super Thunderbolts* milik Marvel Studios serta film Your Mother Your Mother Your Mother persembahan Amazon MGM Studios yang akan segera tayang.
Di ranah pop, warisan musik Son Lux juga sangat masif. Single legendaris mereka yang berjudul "Easy" telah di-sample oleh musisi papan atas seperti Halsey (dalam lagu "Hold Me Down"), G-Eazy ("Eazy"), hingga Fall Out Boy ("Fourth of July"), serta sempat melahirkan kolaborasi epik bersama Lorde pada tahun 2020 silam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)





