REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI — Otoritas Penerbangan Sipil Iran mengumumkan penutupan sementara wilayah udara di atas Iran bagian barat pada Sabtu(23/5/2026) waktu setempat. Kebijakan tersebut diambil seiring dengan adanya laporan jika militer Amerika Serikat (AS) tengah bersiap untuk memulai serangan baru terhadap Iran meski di tengah upaya diplomatik tak langsung antara kedua negara untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Dalam sebuah pernyataan, lembaga tersebut menyampaikan bahwa seluruh izin penerbangan sipil telah ditangguhkan di bandara-bandara yang terletak di sektor barat Wilayah Informasi Penerbangan (Flight Information Region) Teheran. Saat ini, hanya delapan bandara di seluruh negeri yang tetap beroperasi, termasuk Bandara Mehrabad dan Bandara Imam Khomeini di Tehran, serta bandara di Isfahan dan Yazd, lapor Gulf News.
Baca Juga
Paris Jatuhkan Sanksi, Menteri Israel Ben-Gvir Dilarang Masuk Prancis
Kemenag Ajak Majelis Taklim Naik Kelas, Tekankan Peran Jaga Ketahanan Keluarga
KDM Ajak Bobotoh Tertib Saat Pawai Juara Persib
Di bandara-bandara yang masih beroperasi tersebut, penerbangan bahkan dibatasi hanya pada siang hari antara matahari terbit hingga matahari terbenam. Selain itu, maskapai penerbangan diwajibkan untuk mendapatkan persetujuan baru dari Otoritas Penerbangan Sipil untuk setiap jadwal penerbangan.
Kebijakan ketat tersebut diberlakukan di tengah meningkatnya ketegangan regional dan kembali mencuatnya spekulasi mengenai kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sebuah bilboard ukuran raksasa merujuk pada Selat Hormuz dengan teks berbahasa Persia yang artinya Selamanya dalam genggaman Iran, ditampilkan di Teheran, Iran, 15 April 2026. - (EPA/Abedin Taherkenareh)