Jember, ERANASIONAL.COM – Mahasiswa Manajemen Agroindustri Politeknik Negeri Jember (Polije) sukses menciptakan peluang bisnis berbasis daur ulang. Saat ini, mereka menerapkan skema Project Based Learning (PBL) dalam ajang AGROFORGE 2026 di Roxy Mall Jember. Oleh karena itu, pameran ini fokus mentransformasikan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi.
Ajang ini mengusung tema Circular Agroindustry in Creativity: Optimalisasi Sinergi Terapan dalam Pengembangan Produk Agroindustri Inovatif dan Bernilai Tinggi. Melalui tema tersebut, mahasiswa mengolah cangkang telur menjadi asbak, kulit singkong menjadi lumpia, hingga biji durian menjadi kerupuk. Selain itu, pameran inovasi hijau ini efektif menarik perhatian konsumen.
Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Sistem Informasi Polije, Wahyu Kurnia Dewanto, S.Kom., M.T., menjelaskan bahwa inovasi ramah lingkungan lahir dari kreativitas. Maka dari itu, kampus memfasilitasi mahasiswa agar mampu memasarkan produk daur ulang tersebut.
“Mahasiswa tidak hanya belajar merencanakan dan membuat produk, tetapi juga memasarkan hingga meyakinkan konsumen untuk membeli hasil produksinya,” ujar Wahyu Kurnia Dewanto.
Oleh sebab itu, manajemen kampus menaruh harapan besar pada keberlanjutan program ini. Sebab, pemanfaatan barang bekas menjadi produk baru mampu membuka peluang jaringan bisnis hijau sejak dini.
“Kegiatan ini juga melibatkan kolaborasi dengan mitra strategis dan mendapat dukungan dari Dinas Koperasi Kabupaten Jember, sehingga diharapkan dapat berkelanjutan,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Jember, Dra. Sartini, M.M., mengapresiasi keberhasilan mahasiswa dalam mengolah limbah. Bahkan, ia menilai komoditas daur ulang buatan mahasiswa ini sangat kompetitif di pasar.
“Kegiatan yang dilakukan mahasiswa Politeknik Negeri Jember, khususnya Program Studi Manajemen Agroindustri, dinilai sangat luar biasa dan kreatif karena mampu mengolah limbah,” puji Dra. Sartini, M.M.
Selanjutnya, Sartini menyebut aksi penyelamatan lingkungan ini menjadi percontohan bagi pelaku usaha mikro lain. Hal ini karena mahasiswa juga menunjukkan komitmen nyata dalam menekan volume sampah.
“Selain itu, mahasiswa peserta juga diapresiasi karena mulai beralih dari kemasan plastik ke kardus, hal ini sejalan dengan program dari Pemerintah Kabupaten Jember untuk mengurangi sampah,” pungkasnya.





