EtIndonesia. Konflik Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. Dalam beberapa hari terakhir, Ukraina dilaporkan meningkatkan intensitas serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia, termasuk menyerang target militer strategis, pusat operasi pasukan khusus, hingga fasilitas energi vital yang berada jauh dari garis depan perang.
Gelombang serangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran baru di Moskow karena kemampuan drone Ukraina dinilai semakin canggih, presisi, dan mampu menembus sistem pertahanan udara Rusia hingga ratusan kilometer dari perbatasan.
Operasi “Salju Akhmat” Guncang Donetsk
Salah satu operasi terbesar terjadi pada 19 Mei malam hingga 20 Mei 2026. Dalam operasi yang disebut “Salju Akhmat”, militer Ukraina dilaporkan menyerang kota Snizhne di wilayah Donetsk yang saat ini berada di bawah pendudukan Rusia.
Menurut sumber militer Ukraina, target utama operasi tersebut bukan sekadar posisi tempur biasa, melainkan fasilitas penting yang digunakan untuk mendukung operasi drone Rusia di medan perang.
Beberapa sasaran yang disebut terkena serangan antara lain:
- pusat pelatihan operator drone,
- bengkel perakitan UAV,
- gudang amunisi,
- serta fasilitas operasi pasukan khusus Chechnya.
Serangan itu disebut dilakukan menggunakan kombinasi drone jarak jauh dan sistem serangan presisi yang mampu menembus pertahanan Rusia pada malam hari.
Laporan awal dari pihak Ukraina menyebut sedikitnya 65 personel Rusia tewas dalam operasi tersebut. Korban dikabarkan mencakup operator drone, instruktur militer, teknisi UAV, dan personel pasukan elite yang selama ini terlibat dalam operasi garis depan.
Jika laporan ini benar, maka serangan tersebut menjadi salah satu pukulan paling berat terhadap jaringan operasi drone Rusia sepanjang Mei 2026.
Ukraina Kini Menyerang Jauh di Belakang Garis Pertahanan Rusia
Yang paling mengkhawatirkan bagi Moskow bukan hanya jumlah korban, melainkan fakta bahwa Ukraina kini mampu menyerang jauh ke belakang wilayah yang selama ini dianggap relatif aman.
Pengamat militer menilai pola serangan Ukraina telah berubah drastis dibanding fase awal perang. Jika sebelumnya fokus utama berada di garis depan Donbas dan wilayah selatan, kini Kyiv mulai menjalankan strategi penghancuran infrastruktur strategis Rusia secara sistematis.
Strategi tersebut mencakup:
- penghancuran fasilitas energi,
- serangan ke depot logistik,
- penghancuran fasilitas drone,
- serta gangguan terhadap jalur pasokan militer Rusia.
Tujuannya diyakini untuk melemahkan kemampuan perang Rusia dalam jangka panjang, bukan hanya memenangkan pertempuran taktis di garis depan.
Kilang Minyak Syzran Dibakar dari Jarak 950 Kilometer
Beberapa jam setelah operasi di Donetsk, Ukraina kembali melancarkan serangan besar lainnya.
Pada malam 20 Mei 2026, drone Ukraina menyerang kilang minyak Syzran yang berada lebih dari 950 kilometer dari perbatasan Ukraina. Jarak tersebut menunjukkan bahwa kemampuan serangan jarak jauh Ukraina kini telah berkembang jauh melampaui perkiraan banyak pihak.
Menurut laporan yang beredar, serangan menghantam menara distilasi utama di kompleks kilang dan memicu ledakan besar yang diikuti kebakaran hebat.
Api dilaporkan membumbung tinggi di area fasilitas energi tersebut dan membutuhkan waktu lama untuk dikendalikan.
Kilang Syzran sendiri merupakan salah satu fasilitas penting dalam jaringan energi Rusia. Kerusakan pada instalasi semacam itu tidak hanya berdampak pada distribusi bahan bakar, tetapi juga dapat mempengaruhi logistik militer Rusia.
Zelenskyy Sebut Ini “Sanksi Ekonomi Jarak Jauh”
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, secara langsung mengomentari operasi tersebut.
Dalam pernyataannya, Zelenskyy menyebut serangan terhadap fasilitas energi Rusia sebagai bentuk “sanksi ekonomi jarak jauh” terhadap Moskow.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Ukraina kini tidak lagi sekadar bertahan dari invasi Rusia, melainkan aktif mencoba menghancurkan fondasi ekonomi yang menopang mesin perang Kremlin.
Menurut intelijen Ukraina, sepanjang Mei 2026 saja sudah ada sedikitnya 11 fasilitas energi Rusia yang dihantam melalui serangan presisi.
Target-target tersebut mencakup:
- kilang minyak,
- terminal bahan bakar,
- depot logistik energi,
- dan fasilitas distribusi bahan bakar strategis.
Serangan yang terus berulang membuat banyak analis percaya bahwa Kyiv kini menjalankan strategi perang ekonomi secara penuh.
Rusia Dinilai Mulai Kewalahan
Sejumlah analis militer Barat menilai Rusia mulai menghadapi tekanan serius akibat intensitas serangan drone Ukraina yang terus meningkat.
Masalah utama bagi Moskow bukan hanya menghancurkan drone yang datang, tetapi mempertahankan wilayah yang sangat luas dari serangan kecil namun mematikan.
Drone modern memiliki beberapa keunggulan:
- sulit terdeteksi radar,
- biaya produksi relatif murah,
- dapat diluncurkan dalam jumlah besar,
- dan mampu menyerang target secara presisi.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina juga diyakini berhasil meningkatkan teknologi navigasi, kecerdasan buatan, serta kemampuan penerbangan rendah untuk menghindari radar Rusia.
Akibatnya, sistem pertahanan udara Rusia mulai menghadapi tantangan besar karena harus melindungi ribuan kilometer wilayah sekaligus.
Kremlin Dikabarkan Gelar Rapat Darurat
Di tengah meningkatnya serangan tersebut, sumber internal Rusia melaporkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, langsung memanggil para jenderal senior dan pejabat keamanan ke Kremlin untuk menggelar rapat darurat.
Menurut bocoran yang beredar di berbagai kanal pengamat militer, suasana rapat disebut berlangsung sangat tegang.
Putin dikabarkan meluapkan kemarahan terhadap kegagalan sistem pertahanan udara Rusia yang dinilai tidak mampu menghentikan gelombang drone Ukraina yang semakin sulit dideteksi.
Beberapa laporan bahkan menyebut Kremlin mulai khawatir bahwa Ukraina akan terus meningkatkan frekuensi serangan ke pusat industri, fasilitas energi, dan basis militer jauh di wilayah Rusia.
Jika tren ini terus berlangsung, tekanan terhadap ekonomi Rusia diperkirakan akan semakin berat, terutama karena biaya perbaikan infrastruktur energi dan pertahanan udara terus meningkat.
Perang Memasuki Babak Baru
Serangan-serangan terbaru ini memperlihatkan bahwa perang Rusia–Ukraina kini telah memasuki babak baru yang jauh lebih kompleks.
Perang tidak lagi hanya terjadi di parit-parit garis depan atau pertempuran artileri di Donbas. Kini, konflik berubah menjadi perang teknologi, perang drone, dan perang penghancuran infrastruktur strategis.
Banyak analis percaya bahwa kemampuan Ukraina menyerang target hingga hampir 1.000 kilometer ke wilayah Rusia akan menjadi faktor yang dapat mengubah arah perang dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Rusia diperkirakan akan meningkatkan sistem pertahanan udara, memperketat keamanan fasilitas energi, dan mungkin melancarkan serangan balasan yang lebih besar terhadap Ukraina.
Dengan eskalasi yang terus meningkat sepanjang Mei 2026, dunia internasional kini semakin khawatir bahwa konflik ini dapat berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas dan sulit dikendalikan. (***)





