Setelah 30 Tahun di Eropa, Anggun C Sasmi Akhirnya Kembali ke Indonesia

eranasional.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM – Penyanyi internasional Anggun C. Sasmi membagikan kisah emosional mengenai perjalanannya kembali ke Indonesia setelah puluhan tahun menetap di Eropa. Momen tersebut terjadi usai dirinya memperoleh fasilitas Golden Visa dari Direktorat Jenderal Imigrasi Indonesia, sebuah program yang menurutnya menjadi “jalan pulang” untuk kembali menetap dan berkontribusi di tanah kelahirannya.

Dalam acara sosialisasi Golden Visa yang digelar Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di kawasan Karet Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Mei 2026, Anggun mengenang awal keputusannya meninggalkan Indonesia demi mengejar karier internasional pada pertengahan 1990-an.

Ia mengaku keputusan tersebut bukan hal mudah, terlebih saat itu usianya masih sangat muda. Namun, impian untuk menembus industri musik dunia membuatnya memberanikan diri meninggalkan Indonesia dan memulai kehidupan baru di Eropa.

“Pada saat itu belum ada internet, belum ada smartphone. Jadi kalau mau punya karier di luar Indonesia otomatis harus keluar dari Indonesia. Sekarang kan enggak harus seperti itu,” ujar Anggun.

Perjalanan karier internasional Anggun dimulai dari Inggris sebelum akhirnya menetap di Prancis. Di negara tersebut, ia mendapatkan kontrak rekaman yang kemudian menjadi titik penting dalam karier globalnya. Album internasional yang dirilis Anggun berhasil dipasarkan di puluhan negara dan mencatat penjualan jutaan kopi.

Kesuksesan itu menjadikan nama Anggun dikenal sebagai salah satu penyanyi Indonesia yang berhasil membangun karier internasional secara konsisten. Lagu-lagunya tidak hanya dikenal di Eropa, tetapi juga menjangkau berbagai negara di Asia, Timur Tengah, hingga Amerika Latin.

Meski demikian, perjalanan menuju panggung internasional ternyata tidak selalu berjalan mulus. Anggun mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami pengalaman pahit terkait pengurusan visa ketika masih memegang paspor Indonesia.

Saat itu, hampir setiap pekan ia harus mendatangi berbagai kedutaan besar untuk mengurus izin masuk ke sejumlah negara demi kebutuhan promosi dan konser. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena jadwal pekerjaannya sangat padat.

“Hampir setiap hari Senin saya harus mengantre ke banyak sekali kedutaan besar negara-negara yang tadinya harus saya kunjungi untuk promosi, untuk konser-konser,” kata Anggun.

Ia kemudian menceritakan salah satu pengalaman yang paling membekas dalam hidupnya. Menurut Anggun, ada sebuah kedutaan yang menolak permohonannya hanya setelah melihat paspor yang ia gunakan saat itu.

“Saya ingat banget ada satu kedutaan, saya sudah mengisi formulir, begitu melihat paspor, warna paspor saya, loketnya ditutup dan saya diusir,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut membuatnya merasa terpukul. Akibat penolakan visa itu, sejumlah agenda konser dan promosi yang sudah direncanakan akhirnya batal terlaksana.

“Ini membuat saya sangat terpukul. Otomatis enggak dapat visa, enggak bisa ke negara itu, dan semuanya promosi, jadwal konser dibatalkan. Cerita seperti ini sebenarnya banyak. Diskriminasi itu riil, benar-benar ada,” lanjut Anggun.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan yang membuatnya mempertimbangkan perubahan kewarganegaraan. Setelah tinggal sekitar tujuh tahun di Paris dan memikirkan berbagai konsekuensinya secara matang, Anggun akhirnya memutuskan menjadi warga negara Prancis.

Ia menegaskan keputusan tersebut bukan hal mudah karena menyangkut identitas dan keterikatannya dengan Indonesia sebagai tanah kelahirannya.

“Saya dengan berat hati memutuskan untuk mengganti kewarganegaraan. Ini sama sekali bukan keputusan yang mudah,” ujarnya.

Meski telah berganti kewarganegaraan, Anggun menegaskan bahwa identitas dirinya sebagai orang Indonesia tidak pernah hilang. Ia mengatakan perubahan itu hanya terjadi pada dokumen kewarganegaraan, bukan pada akar budaya maupun ikatan emosionalnya dengan Indonesia.

“Yang berganti itu cuma warna buku kecil paspor saya. Warna aja yang beda. Saya tetap menjadi anaknya Pak Soedarto Singo Widjojo dan Ibu Dien Herdiana. Tidak ada yang bisa mengubah darah saya, masa lalu saya, masa kecil saya, asal-usul saya,” kata Anggun.

Selama menetap di Prancis, Anggun mengaku tetap menjaga kedekatan budaya Indonesia di dalam keluarganya. Hal tersebut juga terlihat dari nama putrinya, Kirana Cipta Montana Sasmi, yang masih memiliki unsur Indonesia.

Ia merasa bangga karena putrinya juga dapat berbahasa Indonesia dengan lancar meskipun tumbuh besar di lingkungan internasional. Menurut Anggun, menjaga identitas budaya merupakan bagian penting dari kehidupannya sebagai diaspora Indonesia.

Kedekatan emosional dengan Indonesia itulah yang membuat Anggun merasa antusias ketika pemerintah Indonesia meluncurkan program Golden Visa pada 2024. Program tersebut memberikan kemudahan izin tinggal bagi warga negara asing maupun diaspora yang dinilai memiliki kontribusi positif terhadap Indonesia, termasuk di bidang ekonomi, investasi, seni, hingga pengembangan talenta global.

Bagi Anggun, program tersebut menjadi kesempatan besar untuk kembali tinggal lebih dekat dengan Indonesia setelah tiga dekade menetap di Eropa.

“Akhirnya setelah sekarang sudah 30 tahun saya menetap di Eropa, saya ingin pulang bersama suami dan anak. Dan dengan sukacita saya mendapatkan Golden Visa Global Talent,” ujarnya.

Ia menilai program tersebut menjadi langkah penting pemerintah dalam membuka ruang bagi diaspora Indonesia untuk kembali berkontribusi bagi tanah air tanpa harus menghadapi berbagai hambatan administratif.

“Ini sebuah terobosan baru Imigrasi yang memberi fasilitas kepada diaspora Indonesia yang berprestasi di mancanegara untuk bisa menetap di Indonesia dan berkontribusi pada ekonomi dan bisnis negara,” sambungnya.

Kini, Anggun mengaku mulai kembali menjalani aktivitas layaknya warga lokal Indonesia. Ia bahkan berseloroh bahwa dirinya sudah merasa menjadi “warlok” atau warga lokal setelah mengurus berbagai administrasi di Indonesia.

“Saya sudah punya NPWP dan kemarin sempat membuat kampanye bersama Direktorat Jenderal Pajak untuk mengimbau masyarakat agar melapor SPT tepat waktu,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Anggun menyampaikan rasa terima kasih kepada Direktorat Jenderal Imigrasi dan pemerintah Indonesia yang telah menghadirkan program tersebut. Ia berharap keberadaannya di Indonesia dapat memberi kontribusi lebih besar di bidang seni, ekonomi kreatif, dan promosi budaya Indonesia di tingkat internasional.

“Sebagai diaspora saya seperti anak rantau yang sekarang kembali lagi ke Ibu Pertiwi,” ujar Anggun.

Ia juga berharap Golden Visa yang dimilikinya dapat terus diperpanjang sehingga dirinya dan keluarga bisa lebih lama tinggal serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan Indonesia di masa mendatang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramai Isu Kebocoran Data Bank, Ini Kata Praktisi Keamanan TI
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Persib Bandung dan Warisan Cinta untuk Anak Cucu
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menggugat Mandat Menuju "Kenyamanan Konstitusional"
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Detik-detik Pembunuh Wanita di Bogor Ditangkap, Sempat Ngebut Hindari Polisi
• 9 jam laludetik.com
thumb
Terkait Kampus Kelola SPPG, Rektor UM: Kampus Lebih Relevan pada Riset dan Pengawasan Mutu Gizi
• 17 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.