jpnn.com - JAKARTA - Bethsaida Hospital memperkenalkan inovasi fasilitas diagnosis terbaru berupa sistem pemindaian MRI 3.0 Tesla (3T) Signa Hero yang berbasis Artificial Intelligence (AI).
Teknologi dihadirkan seiring meningkatnya kebutuhan akan diagnosis presisi pada penyakit kompleks seperti gangguan saraf (stroke dan tumor otak), jantung, ortopedi, hingga onkologi (kanker).
BACA JUGA: Pemahaman Gangguan Saraf pada Milenial & Gen Z Masih Rendah
Dalam kondisi tersebut, efisiensi waktu dan ketajaman gambar menjadi faktor penentu.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menjelaskan kehadiran MRI 3 Tesla Signa Hero bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan diagnostik berteknologi tinggi.
BACA JUGA: Siloam Hospitals Lippo Village Perkuat Keahlian & Teknologi Onkologi Paru
Layanan ini mengusung standar pelayanan modern yang berorientasi pada kebutuhan konsumen, khususnya bagi masyarakat Tangerang dan sekitarnya.
“Kami terus memperkuat fasilitas medis melalui pemanfaatan teknologi diagnostik terkini yang mendukung ketepatan, kecepatan, serta keselamatan pasien," kata Margareth di kawasan Gading Serpong, Tangerang, belum lama ini.
BACA JUGA: Beban Kanker Meningkat, Butuh Banyak Spesialis Perawat Onkologi
Selain menghadirkan keunggulan klinis, Bethsaida Hospital juga menjawab tantangan utama dalam prosedur MRI, yakni ketidaknyamanan dan rasa cemas pasien selama pemeriksaan.
Teknologi ini dilengkapi dengan desain bore (lubang pemindaian) berdiameter 70 cm, yang memberikan pengalaman pemeriksaan lebih nyaman serta meminimalkan rasa cemas atau klaustrofobia.
Alat baru ini diperkuat teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui fitur AIR Recon DL dan Sonic DL.
Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Radiologi Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Thio Ananda Steven, Sp. Rad., menjelaskan dengan dukungan AI ini, hasil pencitraan MRI 3 Tesla dapat diperoleh lebih detail.
Teknologi ini mampu menghasilkan kualitas pencitraan lebih tajam, meningkatkan akurasi diagnostik, serta mempercepat proses akuisisi gambar, termasuk pada organ dengan pergerakan tinggi seperti jantung.
Hal ini membantu proses evaluasi secara presisi sekaligus mendukung dokter klinis dalam menentukan langkah penanganan yang tepat bagi pasien.
Di bidang saraf (neuro), teknologi ini membantu menilai kondisi seperti stroke, tumor otak, epilepsi, gangguan saraf, saraf terjepit, dan kelainan tulang belakang.
Sementara di bidang jantung dan pembuluh darah, alat ini dapat mengevaluasi struktur dan fungsi, gangguan atau peradangan otot, gangguan katup, bekas serangan, hingga kelainan bawaan tertentu.
"Bidang ortopedi, teknologi ini bermanfaat melihat kondisi sendi, ligamen, tendon, otot, tulang rawan, cedera olahraga, robekan ligamen lutut, cedera meniskus, nyeri bahu, nyeri lutut, dan nyeri punggung,” kata Steven menjelaskan. (mcr31/jpnn)
Redaktur : Soetomo Samsu
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah




