Jakarta, VIVA – Pelemahan nilai tukar rupiah disebut-sebut tak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), melainkan juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal lainnya yang terjadi dalam dinamika geopolitik global.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, saat ditanya pendapatnya terkait pandangan Gubernur BI, Perry Warjiyo, soal pergerakan rupiah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar.
"Kalau perhitungan saya mestinya sama (dengan perhitungan Gubernur BI), tetapi rupiah ini kan tidak berada di ruang hampa,” kata Josua dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 23 Mei 2026.
- [Mohammad Yudha Prasetya]
Dia menjelaskan bahwa ada beragam faktor lain yang turut memengaruhi pergerakan rupiah di pasar keuangan global. Misalnya seperti kondisi pasar modal, keputusan investor asing, indeks global seperti MSCI, hingga dinamika aliran modal asing ke Indonesia.
"Faktor lain misalnya seperti mood investor, ada MSCI, ada keputusan foreign inflow kita. Itu yang turut memengaruhi sehingga kita tidak bisa melihat kebijakan Bank Indonesia secara kosong,” ujarnya.
Karenanya, Josua justru menilai bahwa kebijakan suku bunga maupun langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dari Bank Sentral sangat penting untuk merespons ragam dinamika sekaligus menjaga kepercayaan pasar.
Meskipun Dia juga mengakui bahwa efektivitas kebijakan BI itu juga sangat dipengaruhi sentimen global, kondisi geopolitik, hingga arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).
Josua menilai, volatilitas rupiah saat ini masih berada dalam kondisi yang wajar, meskipun pasar keuangan global tengah menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi dunia.
Terlebih, koordinasi antara pemerintah dan BI menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah.
“Jadi kita harus melihatnya secara menyeluruh, bukan hanya satu kebijakan Bank Indonesia saja,” ujarnya.





