TABLOIDBINTANG.COM - RS Mandaya Royal Puri resmi menghadirkan teknologi High Intensity Focused Ultrasound (HIFU) sebagai metode terapi tanpa operasi untuk penanganan kanker hati hingga kanker pankreas.
Teknologi ini diperkenalkan pada Sabtu (23/5) dan disebut menjadi harapan baru bagi pasien dengan tumor yang sulit dioperasi.
HIFU bekerja menggunakan gelombang ultrasound berkekuatan tinggi yang difokuskan langsung ke jaringan tumor tanpa sayatan.
Energi panas yang dihasilkan mencapai 60–90 derajat Celsius untuk menghancurkan sel abnormal secara bertahap, lalu jaringan yang rusak akan diserap alami oleh tubuh dalam beberapa minggu hingga bulan.
Peluncuran layanan ini turut dihadiri sejumlah pakar HIFU internasional, termasuk Prof. David Cranston dan Prof. Zhang Lian.
Menurut Public Relation Manager Mandaya Hospital Group, Erwin Suyanto, teknologi HIFU memberi peluang terapi baru bagi pasien kanker stadium lanjut.
“HIFU dapat digunakan untuk membantu mengecilkan ukuran tumor dan mengurangi nyeri pada pasien kanker hati maupun kanker pankreas stadium lanjut, sehingga pasien dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Erwin kepada awak media di sela acara.
Alternatif Modern Minim Sayatan
HIFU dinilai cocok untuk pasien dengan tumor yang berada dekat organ vital atau pembuluh darah besar, sehingga operasi terbuka memiliki risiko tinggi.
Di Mandaya sendiri, teknologi ini sudah digunakan untuk menangani kanker pankreas dan kanker hati dengan komplikasi trombus vena porta.
Selain kanker, HIFU juga dimanfaatkan untuk penanganan miom dan adenomiosis tanpa operasi terbuka.
Bahkan, rumah sakit tersebut mengklaim telah menangani kasus miom berukuran besar hingga 17x16 cm menggunakan teknologi ini.
Co-Founder dan President Director Mandaya Hospital Group, dr. Ben Widaja, mengatakan perkembangan teknologi medis membuat pasien Indonesia kini memiliki akses ke terapi kelas dunia.
“Evolusi penanganan miom di Indonesia telah berkembang luar biasa pesat. Dari operasi terbuka hingga kini teknologi HIFU sudah tersedia di Indonesia, di Mandaya," jelas dr. Ben.
"Ini adalah bukti bahwa pasien Indonesia berhak dan bisa mendapatkan akses terhadap standar pengobatan terdepan di dunia,” lanjutnya.
Secara global, HIFU telah digunakan di lebih dari 37 negara seperti Inggris, China, Jerman, dan Italia dengan lebih dari 500 ribu kasus penanganan berbagai penyakit.
Meski tergolong minim invasif, HIFU tetap memiliki risiko efek samping ringan seperti nyeri sementara, pembengkakan, kesemutan, hingga infeksi.
Namun secara umum, prosedur ini dinilai lebih nyaman dengan masa pemulihan yang relatif cepat dibanding operasi konvensional.




