REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puasa intermiten atau intermittent fasting (IF) semakin populer di kalangan masyarakat sebagai metode diet untuk menurunkan berat badan dan menjaga kesehatan. Pola makan ini dilakukan dengan cara mengatur waktu makan dan periode puasa, sehingga tubuh memiliki waktu lebih lama untuk menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi.
Dokter spesialis gastroenterologi dr Anupama K mengatakan diet IF banyak diminati karena dapat membantu penurunan berat badan, mengontrol gula darah, serta membuat sistem pencernaan terasa lebih nyaman. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa intermitten fasting tidak aman untuk semua orang.
Baca Juga
Waspada! Angka Obesitas di Indonesia Naik, Ini Rahasia Diet Sehat dari Dokter
Benarkah Sering Makan Seblak Picu Kista Ovarium? Ini Kata Dokter
Minum Air di Tengah Makan, Sehat atau Ganggu Pencernaan?
Intermittent fasting. (ilustrasi) - (Flickr)
"Beberapa orang mungkin merasa intermittent fasting dapat memberi waktu istirahat bagi sistem pencernaan. Selain itu, IF juga dapat membantu mengurangi perut kembung, menstabilkan metabolisme, dan berpotensi meningkatkan kesehatan usus," kata dia dilansir laman Hindustan Times, Ahad (24/5/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Namun, dr Anupama menegaskan manfaat tersebut tidak berlaku sama pada setiap individu karena kondisi tubuh dan kebutuhan nutrisi tiap orang berbeda. Menurutnya beberapa kelompok harus berhati-hati sebelum mencoba intermittent fasting, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
"Orang dengan diabetes, tukak lambung, refluks asam lambung, gangguan makan, penyakit hati kronis, atau masalah lambung berat harus sangat berhati-hati, terutama di tahap awal," kata dia.
Selain itu, wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, serta orang yang rutin mengonsumsi obat-obatan juga disarankan untuk tidak memulai intermittent fasting tanpa pengawasan dokter.
Ilustrasi Puasa untuk Diet - (Republika)
Dia mengatakan, melewatkan waktu makan dalam beberapa kasus justru dapat memperburuk kondisi kesehatan dan mengganggu tingkat energi tubuh. Puasa terlalu lama juga dapat memicu berbagai keluhan seperti asam lambung meningkat, sakit kepala, pusing, tubuh terasa lemas, hingga sembelit. la menyebut keberhasilan pola makan tidak hanya ditentukan oleh jadwal puasa, tetapi juga kualitas makanan yang dikonsumsi saat waktu makan tiba.