Aroma kopi kini tak lagi hanya mengepul dari sudut mal atau deretan kafe di pinggir jalan protokol Jakarta. Di gang-gang perumahan suburban Jabodetabek, kedai-kedai kecil mulai tumbuh di sela rumah warga. Menghadirkan ruang baru yang lebih dekat dan akrab, perlahan mengubah wajah kehidupan sosial perkotaan.
Dari gerbang masuk Vila Pamulang, Tangerang Selatan, berjejer rumah warga dengan pagar besi dan pot tanaman yang memadati teras. Tak jauh dari gerbang tersebut, berjarak sekitar 2,2 kilometer, tampak sebuah kafe yang letaknya cukup terpencil.
Kafe kecil bernama Dankee itu berdiri membelakangi rumah-rumah warga. Bangunannya sederhana, tak terlalu besar, dengan teras semiterbuka yang dipenuhi kursi kayu dan lampu temaram. Dari ujung jalan, aroma kopi samar-samar mulai tercium.
Tiba di kafe, beberapa pengunjung duduk bercengkerama sambil menyeruput kopi susu dan menikmati berbagai jenis makanan ringan dan berat. Di dalam, seorang barista perempuan sibuk menyiapkan segelas kopi di balik meja racik. Bunyi mesin espreso bersahutan dengan percakapan pengunjung.
Angga Galih (28), warga sekitar, adalah salah satu pengunjung yang kerap mampir di Kafe Dankee. Ia biasanya datang hanya untuk menikmati sore ditemani segelas kopi panas atau sembari merampungkan beberapa urusan pekerjaan.
”Itu rumah saya di sana. Enggak jauh. Jalan kaki sepedaan sampai dalam beberapa menit saja. Dekat, kok,” kata Angga, Jumat (22/5/2025).
Bagi Angga, tak perlu jauh-jauh mencari tempat nongkrong atau menikmati kopi. ”Di sekitar sini ada beberapa kafe, lumayan banyak dan enak. Aku enggak perlu pergi jauh, jadi irit bensin dan enggak capek,” ucapnya.
Beberapa tahun lalu, sebelum 2023, lokasi tempat Kafe Dankee berdiri hanyalah tanah lapang biasa yang nyaris tak dilirik orang. ”Dulu, di sini belum ada kafe. Paling hanya warung kopi biasa,” kata Head Bar Kafe Dankee, Ahmad Ryan.
Belakangan ini, kehadiran kafe di gang-gang kecil dan pinggir jalan kawasan pinggiran Jabodetabek semakin menjamur. Berbeda dengan kafe di pusat kota yang identik dengan lalu lintas padat dan ruang komersial formal, kafe suburban menawarkan kedekatan dengan lingkungan sehari-hari. Pengunjung tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk bersantai.
Kehadiran kafe-kafe lingkungan ini menjawab kebutuhan akan ruang untuk bekerja jarak jauh, berbincang santai, bertemu komunitas, atau sekadar menikmati sore. Suasana tenang, interior hangat, playlist musik yang apik, aroma roti artisan, hingga kesan hidden gem, memberi nilai tambah.
Ryan bercerita, meski ukurannya tidak besar, pengunjung dari berbagai kalangan kerap menyambangi. Ruang kecil di tengah permukiman itu menjadi titik temu berbagai kelompok warga. Tak hanya anak muda pencinta kopi, tetapi juga warga sekitar yang menjadikan kafe sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.
”Pengunjungnya semua kalangan karena lokasinya memang berdampingan dengan permukiman,” ujar Ryan.
Pada pagi hari, kafe sering diisi oleh bapak-bapak warga sekitar yang datang untuk mengobrol santai sebelum memulai aktivitas. Bahkan, beberapa orang kerap datang menjelang kafe tutup.
“Terkadang bapak-bapak ini datang pas kami mau closing. Jam sembilan malam baru nongkrong. Sementara, kami hari biasa, kan, tutup pukul 22.00,” katanya, tersenyum.
Menjelang siang, pengunjung yang datang beda lagi. Beberapa ibu rumah tangga datang sambil menunggu anak mereka pulang sekolah. Sebagian memilih duduk di teras, sebagian lain memesan minuman dingin untuk dibawa pulang.
Sementara itu, sore hingga malam menjadi waktu paling ramai bagi kalangan mahasiswa dan anak muda. Laptop terbuka di beberapa meja. Percakapan mengalir seru. Beberapa anak tampak bersama-sama bermain game di handphone, sementara musik pelan menjadi latar suasana.
Pengunjung Kafe Dankee bukan hanya berasal dari sekitar Pamulang. Media sosial dan rekomendasi teman membuat kafe kecil itu mulai dikenal lebih luas.
”Ada juga yang datang dari Depok dan Bogor,” ujar Ryan. Sesekali, rombongan pesepeda juga mampir untuk beristirahat selepas gowes pagi atau sore.
Pemandangan para pengunjung itu mencerminkan perubahan pola ruang urban di wilayah penyangga Jakarta. Aktivitas sosial kelas menengah tidak lagi terkonsentrasi di pusat kota. Kawasan suburban perlahan membangun pusat-pusat aktivitasnya sendiri yang tumbuh dari keseharian warga.
Pemilik Kafe Dankee, kata Ryan, juga tinggal tidak jauh dari lokasi kafe. Ide mendirikan tempat itu berangkat dari pemikiran sederhana bahwa ruang santai tidak harus mewah atau berada jauh dari rumah.
Ketika biaya sewa ruang komersial di kota semakin mahal, rumah tinggal berubah fungsi menjadi aset produktif.
Oleh karena itu, Dankee tidak semata-mata dipandang sebagai peluang usaha. Kehadirannya juga menjadi ruang pertemuan warga di tengah kehidupan suburban yang semakin padat dan individual. Ini barangkali nuansa yang belum tentu didapat di kafe-kafe di pusat kota.
”Lucunya, bahkan saya sering diajak ngobrol bapak-bapak, ada-ada saja topiknya. Ada yang curhat juga. Ini yang membuat (kafe di daerah suburban) jadi unik,” ujarnya.
Wakil Ketua I Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI), Karya Elly, menilai bahwa perkembangan kota dan permukiman di kawasan Bodetabek secara tidak langsung meningkatkan kemunculan kafe di kawasan perumahan.
Kafe-kafe seperti itu lebih banyak dipicu oleh dorongan wirausaha para pekerja industri kopi hingga barista yang ingin berusaha mandiri.
”Seorang manajer restoran, manajer kafe, atau barista yang sudah memahami seluk-beluk bisnis kopi kemudian punya modal sedikit, rumahnya direnovasi, beli mesin kopi, lalu ingin berbisnis mandiri,” ujarnya.
Elly memperkirakan jumlah usaha kopi di Indonesia, dari skala kecil hingga besar, dapat mencapai sekitar 400.000 unit atau terbanyak kedua setelah China. Data tersebut juga tecermin dari laporan Indonesia Coffee Report 2026, yang menunjukkan bahwa jumlah kedai kopi di Indonesia telah menembus 461.991 gerai.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri kopi memang mengalami transformasi besar. Profesi barista tidak lagi dipandang sekadar pekerjaan pelengkap industri makanan dan minuman, melainkan jalur karier yang dapat menjadi batu loncatan menuju usaha mandiri.
Pengetahuan tentang racikan kopi, akses peralatan yang semakin murah, hingga kekuatan media sosial membuat hambatan untuk masuk ke bisnis kopi saat ini relatif rendah dibandingkan dengan usaha kuliner lain.
Situasi ini melahirkan gelombang baru ”wirausaha kopi rumahan”. Mereka tidak perlu menyewa ruko mahal di pusat kota. Rumah sendiri dianggap cukup untuk memulai usaha.
Garasi menjadi area seduh kopi. Halaman depan dipenuhi kursi lipat. Sebuah mesin espreso dan beberapa meja kayu sudah cukup sebagai modal untuk membuka kedai.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana ekonomi informal urban bekerja. Ketika biaya sewa ruang komersial di kota semakin mahal, rumah tinggal berubah fungsi menjadi aset produktif.
Di kota-kota penyangga Jakarta, di mana pertumbuhan kelas menengahnya terus meningkat, pola ini berkembang cepat karena didukung pasar yang dekat dan budaya nongkrong yang menguat.
Media sosial turut menjadi akselerator utama. Kafe kecil yang semula hanya melayani tetangga sekitar bisa mendadak ramai setelah muncul di TikTok atau Instagram. ”Konsumen sekarang bisa dijangkau dengan media sosial. Kalau viral, orang datang ramai-ramai,” kata Elly.
Kafe suburban menjadi contoh konkret bagaimana ruang ketiga bekerja dalam konteks sosial Indonesia hari ini. Di ruang itu, percakapan tidak berhenti pada obrolan santai.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai, fenomena kafe suburban menunjukkan pergeseran cara masyarakat memaknai kopi dan ruang berkumpul. Kopi tidak lagi semata-mata produk konsumsi kelas menengah perkotaan, di jalan protokol, pusat bisnis kota, mal, melainkan telah menjadi medium interaksi sosial lintas kelompok.
”Keberadaan kafe di daerah suburban menawarkan cara pandang yang berbeda tentang kopi. Mereka lebih non-mainstream, menjadi antitesis dari konsep kafe yang mapan di pusat kota,” ujar Rakhmat.
Fenomena itu melahirkan apa yang populer disebut sebagai hidden gem, atau tempat tersembunyi yang justru dicari karena menawarkan pengalaman berbeda.
Pengunjung rela masuk ke gang, menyusuri permukiman, atau menempuh lokasi yang tidak strategis demi suasana yang berbeda. Bagi warga lokal, mereka tak perlu jauh-jauh mencari dan menikmati segelas kopi.
Menurut Rakhmat, daya tarik kafe suburban tidak hanya terletak pada lokasinya yang unik, tetapi juga pada pengalaman yang ditawarkan. Sebagian menghadirkan konsep ruang yang lebih natural, artistik, dan tenang karena jauh dari lalu lintas dan hiruk-pikuk keramaian kota, atau lebih intim dibandingkan kafe komersial di pusat kota.
Di Aceh, misalnya, kedai kopi telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat jauh sebelum istilah ”kafe” populer.
”Ini mendekonstruksi kemapanan konsep kopi yang selama ini identik dengan ruang-ruang modern dan mahal. Keberadaan kafe suburban menunjukkan kopi kini melampaui batas kelas sosial,” katanya.
Dalam kajian urban dan sosiologi budaya, fenomena tersebut dikenal sebagai third place atau ruang ketiga. Konsep ini merujuk pada ruang sosial di luar rumah sebagai ruang pertama dan tempat kerja sebagai ruang kedua. Di ruang ketiga itulah masyarakat bertemu, berbincang, membangun relasi, hingga memproduksi gagasan.
Menurut Rakhmat, kafe suburban menjadi contoh konkret bagaimana ruang ketiga bekerja dalam konteks sosial Indonesia hari ini. Di ruang itu, percakapan tidak berhenti pada obrolan santai.
Kafe berubah menjadi ruang perjumpaan isu publik seperti politik, ekonomi, budaya, ideologi, jejaring bisnis, hingga obrolan ringan seputar kehidupan.
”Ketika orang menikmati kopi lalu berbincang dengan kolega, berdiskusi, merancang gerakan, membangun ide bisnis, bahkan mengkritik negara, di situlah konsep ruang ketiga bekerja,” kata Rakhmat.
Di Aceh, misalnya, kedai kopi telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat jauh sebelum istilah ”kafe” populer. Sejak dulu, kedai kopi di sana hidup hampir 24 jam dan menjadi ruang diskusi warga lintas profesi serta identitas kultural warga Aceh.
”Dalam sejarah sosial-kultural kita, kopi memang tidak bisa dilepaskan dari identitas masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Fenomena serupa tampak di daerah lain. Di Yogyakarta, angkringan dan kedai kopi joss menjadi ruang bertemu mahasiswa, seniman, hingga aktivis. Di Pontianak, kopi Asiang berkembang sebagai bagian dari identitas kota dan ruang interaksi sosial warga.
Bedanya, ruang ketiga hari ini tampil lebih modern dan terdigitalisasi. Kehadiran media sosial membuat kafe suburban cepat dikenal, sementara budaya kerja fleksibel mendorong kafe menjadi ruang kerja alternatif.
Selain menjadi ruang sosial, pertumbuhan kafe suburban juga memunculkan efek ekonomi berlapis di tingkat lokal. Kehadiran kedai kopi di permukiman tidak hanya menguntungkan pemilik usaha, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Menurut Rakhmat, fenomena itu memproduksi ekonomi informal baru di kawasan suburban. ”Yang menikmati dampaknya bukan hanya pemilik kafe atau pekerja kafe. Warga sekitar juga ikut bergerak ekonominya,” ujarnya.
Warga, misalnya, bisa menitipkan makanan ringan, memasok kebutuhan dapur, hingga membuka usaha pendukung lain. Di sekitar kafe, muncul pengemudi ojek daring, penjual kaus, hingga usaha kuliner kecil lain yang ikut memanfaatkan arus pengunjung.
Efek tersebut menciptakan apa yang disebut sebagai snowball effect. Aktivitas ekonomi kecil terus menggelinding dan memunculkan usaha-usaha baru di sekitar titik keramaian. ”Perputaran ekonomi berjalan meskipun skalanya mikro. Kalau ini tumbuh di banyak titik, dampaknya bisa besar bagi ekonomi lokal,” katanya.
Di tengah mahalnya biaya sewa ruang usaha di pusat kota, kafe suburban juga menawarkan model bisnis yang lebih terjangkau. Pemilik usaha tidak harus membayar sewa ruko mahal yang pada akhirnya membuat harga kopi menjadi eksklusif.
Kafe suburban lahir bukan semata-mata untuk mengejar ekspansi bisnis besar, melainkan untuk menawarkan pengalaman sosial dan budaya yang berbeda. Ia kembali menjadi medium perjumpaan sosial yang lebih dekat dengan warga, lebih cair antarkelas, dan memberi jeda di tengah ritme cepat masyarakat urban modern.





