PADANG, KOMPAS — Sistem listrik di Sumatera Barat kembali pulih 100 persen pada Minggu (24/5/2026) pagi. Sebelumnya, seluruh wilayah Sumbar terdampak pemadaman total atau black out akibat gangguan pada jalur transmisi Sumatera.
“Alhamdulillah sistem listrik Sumbar pagi ini pada jam 05.10 WIB sudah bisa 100 persen,” kata General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumbar Ajrun Karim, Minggu (24/5/2026).
Ajrun menjelaskan, dari total 394 penyulang (feeder) dan 12.558 gardu distribusi terdampak di Sumbar, semuanya sudah menyala pada Minggu pagi. Seluruh pelanggan di Sumbar yang totalnya 1.849.589 pelanggan juga sudah kembali terlayani.
Namun, Ajrun menyebut, pasokan dari PLTU Ombilin masih gagal tersambung ke sistem listrik Sumbar. Akibatnya, Sumbar masih mendapat pasokan dari Sumatera Selatan.
“Ada vibrasi di turbin. Sempat masuk satu jam, tetapi keluar lagi sampai dengan beban 12 MW,” kata Ajrun.
Ajrun pun menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan selama proses pemulihan. Ia juga berterima kasih atas keikhlasan dan kesabaran pelanggan.
“Terkait kompensasi, nanti kami mengikuti arahan Kementerian ESDM. Biasanya, jika ada, akan direduksikan ke tagihan bulan mendatang,” ujar Ajrun.
Sebelumnya, terjadi pemadaman total listrik di wilayah Sumbagut sejak Jumat (22/5/2026) pukul 18.44 WIB. Pemicunya, gangguan jalur transmisi 275 kilovolt (kV) Muaro Bungo-Sungai Rumbai di Jambi. Provinsi terdampak adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumbar, dan Riau.
Di Kota Padang, listrik padam dari Jumat (22/5/2026) malam, yakni sejak maghrib hingga dini hari.
Di Kelurahan Dadok Tunggul, misalnya, listrik baru menyala pada pukul 02.25 WIB. Pemadaman berjam-jam itu berdampak signifikan pada masyarakat, termasuk UMKM.
Mardian Fauzi (30), pengusaha jahit salempang wisuda di Kelurahan Air Tawar Barat, misalnya, tidak dapat bekerja pada Jumat malam. Padahal, saat itu, pesanan dari pelanggan relatif banyak.
”Saya tidak dapat bekerja sama sekali karena 95 persen aktivitasnya bergantung pada listrik,” kata Mardian, pemilik usaha Salempang Kelok S.
Mardian mengatakan, Jumat malam itu, ia berupaya menjelaskan kepada pelanggan kendala yang ia hadapi dan meminta menunggu hingga listrik menyala.
Namun, hingga ia tidur sekitar pukul 23.30 WIB, listrik belum juga hidup. Ia baru tahu listrik kembali menyala pada Sabtu pagi.
Mardian pun tidak menyalahkan adanya pemadaman listrik jika itu bagian dari perawatan jaringan. Namun, ia berharap kepada PLN, jika hendak melakukan pemadaman, semestinya ada pemberitahuan. Jika ada insidennya mendadak, seharusnya ada estimasi waktu yang jelas kapan listrik dapat menyala kembali.
”Jadi, dengan adanya pemberitahuan pemadaman atau estimasi waktu yang jelas, saya bisa melakukan antisipasi dan memberikan kepastian kepada pelanggan,” kata Mardian.
Selain itu, Mardian berharap pula ada antisipasi secara lokal. Jadi, jika ada kendala di suatu daerah, tidak semua daerah terkena imbas pemadaman.





