Setiap kali seseorang merobek bungkus mi instan, membuka sachet kopi, atau membeli air mineral dingin di minimarket, sebagian dari plastik itu sedang memulai perjalanan panjang menuju laut. Ia mengalir dari selokan ke sungai, terseret arus hingga akhirnya pecah menjadi mikroplastik yang masuk ke tubuh ikan, dan kembali ke meja makan manusia sendiri.
Penelitian global terbaru membuktikan, kmasan makanan dan minuman dari plastik sekali pakai, serta botol plastik menjadi sampah paling dominan di pesisir dunia. Riset yang dipublikasikan di jurnal One Earth pada Rabu (20/5/2026) itu mencakup 112 negara dan menunjukkan bahwa sampah plastik terkait konsumsi sehari-hari itu melampaui jenis sampah lain seperti puntung rokok atau kantong plastik, sebagai sampah yang paling umum berikutnya.
Studi dilakukan tim dari dari Universitas Plymouth, Inggris bersama dengan kolega dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Universitas Brunel London, dan Laboratorium Kelautan Plymouth. Indonesia termasuk negara yang disebut secara khusus dalam studi tersebut. Bersama India, China, Amerika Serikat, dan Pakistan, Indonesia masuk kelompok negara berpenduduk terbesar di dunia yang menunjukkan dominasi sampah plastik makanan dan minuman di kawasan pesisirnya.
Richard Thompson, pendiri dan Kepala Unit Penelitian Sampah Laut Internasional Universitas Plymouth dan penulis senior studi ini, mengatakan, "Pencemaran plastik adalah masalah lingkungan global yang memiliki dampak buruk yang besar terhadap lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia."
Richard Thompson, pendiri dan Kepala Unit Penelitian Sampah Laut Internasional Universitas Plymouth dan penulis senior studi ini, mengatakan, "Pencemaran plastik adalah masalah lingkungan global yang memiliki dampak buruk yang besar terhadap lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia."
Studi ini mengidentifikasi untuk pertama kalinya kategori sampah yang paling melimpah pada skala nasional, regional, dan global, yang menunjukkan tidak hanya di mana intervensi harus diprioritaskan. Akan tetapi, studi ini juga mengidentifikasi jenis barang spesifik mana yang harus difokuskan.
Laut memberi makan jutaan orang Indonesia, tapi plastik yang dibuang ke sungai hari ini sedang dalam perjalanan kembali ke meja makan kita.
"Penelitian ini memberikan bukti penting untuk memandu industri dan kebijakan tentang poin-poin fokus spesifik yang dibutuhkan untuk mengatasi pencemaran plastik. Misalnya, penelitian kami menunjukkan bahwa tindakan terhadap plastik yang terkait dengan makanan dan minuman merupakan prioritas utama di 93 persen negara di seluruh dunia," sebut Thompson.
Menurut Thompson, di negara-negara dengan pengelolaan sampah yang cukup maju, plastik pembungkus makanan dan minuman tersebut menjadi sampah yang dominan di garis pantai.
Temuan itu sejalan dengan kondisi Indonesia sebagai salah satu penyumbang utama sampah plastik laut dunia. Di banyak pantai Indonesia, mulai dari Teluk Jakarta hingga pesisir Bali dan Sulawesi, bahkan Natuna, botol minuman, sachet kopi, bungkus mi instan, sedotan, hingga styrofoam menjadi pemandangan harian yang terseret ombak dan sungai.
Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia bukan sekadar korban, melainkan juga pelaku sekaligus. Laut memberi makan jutaan orang Indonesia, tapi plastik yang dibuang ke sungai hari ini sedang dalam perjalanan kembali ke meja makan kita.
Muhammad Reza Cordova dari Pusat Penelitian Oseanografi BRIN, yang terlibat dalam penelitian di jurnal ini telah lama melakukan kajian tentang pencemaran plastik dan mikroplastik di perairan Indonesia. Dalam penelitiannya bersama Intan Suci Nurhati di jurnal Marine Research Indonesia (2020), Reza menyebutkan, sampah plastik yang bocor ke laut Indonesia mencapai 520 ribu ton sampah plastik laut per tahun sebelum 2020.
Sedangkan laporannya di jurnal Frontiers in Marine Science (2024) menemukan distribusi mikroplastik di perairan bawah permukaan laut Indonesia, bukan hanya di permukaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa polusi mikroplastik telah tersebar luas di perairan kepulauan Indonesia.
Serial Artikel
Plastik Mikro Mencemari Air dan Ikan di Muara Ciliwung
Kajian terbaru menunjukkan, plastik berukuran mikro ditemukan di muara Sungai Ciliwung dan pesisir Jakarta Utara. Kandungan mikroplastik juga ditemukan pada ikan kepala timah yang banyak ditemui di perairan ini.
Berbagai penelitian lain juga menemukan mikroplastik pada ikan dan garam laut di berbagai wilayah Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik di laut kita pada akhirnya masuk ke rantai makanan dan mencemari tubuh kita sendiri.
Berbagai upaya untuk mengatasi pencemaran plastik di laut telah dilakukan, di antaranya dengan mengurangi sampah plastik masuk ke laut. Indonesia memiliki target nasional mengurangi 70 persen sampah laut pada 2025 melalui Peraturan Pressiden No. 83/2018.
Berbagai penelitian lain juga menemukan mikroplastik pada ikan dan garam laut di berbagai wilayah Indonesia.
Namun demikian, Hasil kajian Tim Koordinasi Nasional (TKN) Penanganan Sampah Laut pada 2025 menunjukkan capaian riil penurunan kebocoran sampah laut di Indonesia baru sekitar 41,68 persen, jauh dari target 70 persen. Artinya, ada selisih hampir 30 poin persentase dari target nasional.
Dalam berbagai kesempatan, Reza Cordova menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi plastik pascapandemi. Hal ini terutama karena lonjakan belanja daring dan kebutuhan kemasan makanan, menjadi hambatan besar pencapaian target tersebut.
Saat ini, sejumlah kebijakan pengelolaan sampah daerah telah menunjukkan kemajuan seperti bertambahnya bank sampah dan fasilitas TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Akan tetapi, lonjakan penggunaan plastik sekali pakai dan perilaku masyarakat yang terbiasa belanja online memperparah situasi.
Implikasi penting dari riset terbaru di One Earth ini mengungkap bahwa upaya yang dilakukan untuk membatasi masuknya sampah plastik ke laut kurang memadai, tanpa adanya upaya mengatasi masalah di tingkat hulu.
Max Kelly dari Universitas Plymouth yang menjadi penulis utama studi ini, mengatakan, "Mengumpulkan data sampah laut dalam skala sebesar ini merupakan upaya yang kompleks, tetapi untuk pertama kalinya memungkinkan kami memetakan barang-barang yang paling banyak ditemukan di sepanjang garis pantai di seluruh dunia."
Menurut dia, temuan risetnya memberikan bukti yang tak terbantahkan bahwa kemasan makanan dan minuman sekali pakai merupakan kontributor utama polusi plastik di lautan kita secara global. "Tindakan untuk mengurangi konsumsi barang-barang ini akan menjadi langkah kunci untuk mengatasi tantangan lingkungan global ini,” ucapnya.
Penelitian kali ini juga merupakan bagian dari proyek PISCES (Plastics in Indonesian Societies), sebuah inisiatif internasional yang dipimpin oleh Universitas Brunel. Tujuannya untuk menciptakan "titik harapan" dalam perjuangan Indonesia melawan sampah plastik.
Direktur proyek, Susan Jobling, Direktur Institut Lingkungan, Kesehatan, dan Masyarakat di Universitas Brunel London dan salah satu penulis studi baru ini mengatakan, "Studi ini menunjukkan mengapa polusi plastik tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengelolaan sampah. Di berbagai konteks nasional yang sangat berbeda, termasuk Indonesia, plastik makanan dan minuman yang berumur pendek berulang kali mendominasi polusi di garis pantai," kata dia.
Temuan riset ini menggarisbawahi pentingnya penanganan plastik di tingkat hulu, dengan membatasi produksi plastik, yang pada akhirnya akan bermuara di laut. Upaya ini sebenarnya telah disuarakan berbagai kalangan masyarakat sipil dalam perundingan tingkat tinggi tentang plastik (INC).
Temuan risetnya memberikan bukti yang tak terbantahkan bahwa kemasan makanan dan minuman sekali pakai merupakan kontributor utama polusi plastik di lautan kita secara global.
Namun, dua kali putaran perundingan INC di Busan, Korea Selatan dan Jenewa, Swiss dua tahun terakhir gagal membuat kesepakatan final. Perbedaan pendapat yang signifikan antar negara mengenai isu-isu kunci, terutama menyangkut komitmen untuk mengurangi produksi plastik.
Negara-negara penghasil minyak dan petrokomia, seperti Arab Saudi dan Rusia, enggan membatasi produksi plastik. Indonesia yang berambisi menjadi produsen plastik di Asia Tenggara juga berada di barisan negara yang enggan membatasi produksi plastik.
Namun, kini dengan gejolak geopolitik yang meningkatkan harga minyak dunia dan otomatis menaikkan harga bahan baku plastik, seharusnya bisa jadi momentum untuk membatasi produksi plastik, terutama plastik-plastik sekali pakai.
Krisis plastik ini seharusnya mendorong perubahan gaya hidup untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang biasa dipakai untuk membungkus makanan atau minuman. Karena, plastik yang kita buang sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk, lalu kembali kepada manusia melalui laut yang selama ini kita kotori sendiri.




