VIVA – Iran dilaporkan telah menyetujui rancangan kesepakatan damai untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat serta membuka kembali Selat Hormuz, menurut liputan The New York Times, dikutip Minggu, 24 Mei 2026.
Usulan kesepakatan damai tersebut akan mencakup penghentian konflik di semua front, termasuk di Lebanon, dengan fokus utama pada pembukaan Selat Hormuz, kata media tersebut mengutip tiga pejabat senior Iran.
Kesepakatan yang diusulkan mencakup pencabutan blokade laut AS terhadap Iran serta diizinkannya kembali lalu lintas pelayaran komersial melalui Selat Hormuz yang strategis tanpa pemungutan bea lintas oleh Iran, kata The New York Times.
Isu-isu terkait program nuklir Iran, yang menjadi ganjalan besar dalam negosiasi, akan dikesampingkan dalam pembicaraan terpisah dalam 30-60 hari.
Usulan kesepakatan juga meliputi pencairan aset-aset Iran senilai 25 miliar dolar AS yang dibekukan di luar negeri, menurut laporan itu.
The New York Times menambahkan mediator Pakistan dan Qatar memfasilitasi perumusan kesepakatan damai tersebut.
Sebelumnya pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump mengatakan sebuah kesepakatan damai dengan Iran "sebagian besar telah dinegosiasikan", dengan rincian akhirnya masih dalam proses perundingan.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali memberikan pernyataan terbaru terkait dengan perang melawan Iran. Pada Rabu waktu setempat, Trump mengatakan bahwa AS dan Iran kini berada di tahap akhir pembicaraan (untuk damai).
Namun di saat yang bersamaan, Trump juga mengancam akan kembali melancarkan serangan dalam beberapa hari ke depan jika Iran tidak menerima syarat yang diajukan Washington. Ancaman serupa sudah beberapa kali ia lontarkan sejak gencatan senjata diberlakukan.
“Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau kita akan melakukan sesuatu yang cukup buruk. Tapi semoga itu tidak terjadi,” kata Trump dikutip dari laman NDTV, Kamis 21 Mei 2026.
AS bersikeras Iran harus menghentikan seluruh rencana pengayaan nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas perdagangan internasional. Namun tuntutan itu ditolak Teheran. Iran justru meminta AS lebih dulu mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak berada di ambang menyerah.





