REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah Penelitian baru menemukan bahwa individu paruh baya, berusia sekitar 40 hingga 49 tahun, yang mengalami migrain dengan aura memiliki risiko lebih tinggi terkena strok. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology tersebut menunjukkan penderita migrain dengan aura memiliki risiko strok 73 persen lebih tinggi.
Sebaliknya, migrain tanpa aura tidak ditemukan memiliki hubungan dengan peningkatan risiko strok. Aura sendiri merupakan gangguan visual atau sensorik yang muncul sebelum serangan migrain. Gejalanya dapat berupa kilatan cahaya, titik-titik terang, garis zigzag, pandangan berkabut hingga munculnya titik buta (skotoma).
Baca Juga
PCOS Kini Disebut PMOS, Istilah Baru yang Ubah Cara Pandang Kesehatan Perempuan
Tiket Konser 25 Tahun Westlife di GBK Ludes Terjual
Rupiah Melemah, Ini Tips Bijak Atur Keuangan Menurut Pakar
Atasi migrain tanpa obat. - (Republika.co.id)
Peneliti utama dari University of Vermont, dr Adam Sprouse Blum, mengatakan sebelumnya hubungan migrain dengan strok lebih banyak diteliti pada kelompok usia muda. Karenanya kali ini kelompok paruh baya yang menjadi subjek penelitian.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Studi kami menemukan bahwa, mirip seperti orang yang lebih muda, migrain dengan aura juga terkait dengan peningkatan risiko stroke iskemik pada orang dewasa usia paruh baya dan lanjut usia," kata dia dilansir laman US News, Jumat (22/6/2026).