Emas Dunia Diramal Tembus US$4.943, Harga Logam Mulia Bisa Sentuh Rp2,9 Juta

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas dunia dan logam mulia dalam negeri diproyeksikan mengalami fluktuasi tajam dengan potensi reli jangka panjang yang kuat dalam sepekan ke depan. 

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menuturkan emas berpeluang menembus level resisten baru seiring eskalasi konflik geopolitik dan transisi kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.

Menurutnya, pergerakan emas saat ini tengah menghadapi sejumlah sentimen fundamental. Di pasar global, harga emas diperkirakan mampu menguji level resisten kedua di US$4.943 troy ounce jika momentum penguatan berlanjut.

Peningkatan harga emas dunia ini otomatis bakal mengerek harga logam mulia di pasar domestik ke level psikologis baru. Harga emas batangan diperkirakan dapat melonjak hingga Rp2,9 juta per gram jika target resisten tembus.

“Jika penguatan berlanjut, resisten pertama di US$4.606 dengan harga logam mulia mencapai Rp2,78 juta per gram dan resisten kedua di US$4.943 per troy ounce yang bisa membuat logam mulia domestik menyentuh Rp2,9 juta per gram,” pungkas Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026). 

Ibrahim menilai faktor utama yang menjaga daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai adalah memanasnya kembali situasi geopolitik di Eropa Timur.

Baca Juga

  • Harga Buyback Emas Antam Hari Ini Minggu 24 Mei 2026 & Besaran Pajaknya
  • Harga Emas Antam Hari Ini Minggu 24 Mei 2026, Berikut Daftar Lengkapnya
  • Harga Buyback Emas Antam, UBS & Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini Minggu, 24 Mei 2026

Konflik antara Rusia – Ukraina yang kian intensif dan mulai menyasar objek vital, seperti kilang-kilang minyak mentah disebut telah memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Selain ketegangan di Eropa Timur, Ibrahim mengatakan situasi di Timur Tengah yang masih membara turut menjadi bahan bakar bagi penguatan komoditas. 

Meski ada nota kesepahaman perdamaian yang diinisiasi Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz, pasar tetap mengantisipasi sikap skeptis dari para negosiator utama Iran yang menilai diplomasi AS tidak berlandaskan kejujuran.

Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim mengatakan pelaku pasar modal global saat ini tengah menanti arah kebijakan baru pascapelantikan Kevin Walsh sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat yang baru. 

Pasar berspekulasi mengenai langkah yang akan diambil Walsh dalam memimpin pertemuan kebijakan pasar terbuka (FOMC) pada Juni mendatang.

Kendati pasar memproyeksikan suku bunga tetap tinggi sampai dengan akhir tahun, kehadiran Walsh dinilai penting karena kebijakannya berpotensi melonggar demi mendukung strategi ekonomi Donald Trump.

“Trump sangat tergantung dengan Kevin Walsh untuk menurunkan suku bunga, walaupun jajak pendapat mengatakan bahwa sampai dengan akhir tahun bank sentral AS tidak akan menurunkan suku bunga,” ujar Ibrahim. 

_______ 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual emas. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hercules Dilaporkan ke Polisi Buntut Dugaan Penyekapan Anak Penulis di Depok
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Berlangsung Meriah, Tokoh Penting dan Artis Ramaikan Jogja Run D-City
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ribuan Ekor Ikan Lele Tumpah di SPBU Klaten, Warga Bantu Punguti
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Bukan Cuma Bojan Hodak, Pengamat Bongkar Rahasia Persib Bandung Juara 3 Kali Beruntun
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Foto: Bobotoh Tumpah Ruah Rayakan Persib Juara di Bandung
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.