Transformasi besar tengah disiapkan Persik Kediri untuk menghadapi musim depan. Klub berjuluk Macan Putih itu tak hanya fokus pada prestasi di lapangan, tetapi juga mulai serius membangun kekuatan bisnis, pemasaran, hingga pendekatan baru kepada generasi muda.
Arthur Irawan owner Persik mengakui perkembangan sisi komersial klub dalam beberapa musim terakhir masih belum maksimal. Karena itu, manajemen kini menyiapkan strategi baru agar Persik bisa berkembang menjadi klub modern yang dekat dengan anak muda dan memiliki daya tarik nasional.
“Secara komersial, beberapa musim terakhir memang cukup stagnan. Kami tidak ingin menjadi klub yang stuck in the past. Sekarang era modern, jadi klub sepak bola juga harus berkembang mengikuti zaman,” kata Arthur, Sabtu (23/5/2026) malam.
Menurutnya, perubahan perilaku generasi muda menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi klub sepak bola Indonesia. Arthur menilai pasar penggemar sepak bola saat ini masih didominasi generasi milenial dan usia yang lebih tua, sementara Persik ingin mulai membangun kedekatan dengan Gen Z dan Gen Alpha.
“Di Kediri dan sekitarnya jumlah penduduknya sangat besar. Kami ingin menangkap market Gen Z dan Gen Alpha. Persik harus bisa relate dengan mereka, bukan hanya sebagai klub sepak bola, tetapi juga sebagai brand yang keren dan modern,” ujarnya.
Arthur menyebut media sosial akan menjadi salah satu fokus utama pengembangan Persik. Ia ingin akun-akun digital klub tampil lebih aktif, kreatif, dan menghibur tanpa meninggalkan identitas sebagai klub profesional.
“Kami ingin media sosial Persik lebih engaging dan entertaining. Sekarang semuanya bergerak lewat media sosial dan TikTok. Indonesia juga termasuk negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia, jadi itu harus dimanfaatkan,” ucapnya.
Selain memperkuat identitas digital, Persik juga berencana memperluas bisnis merchandise dan kolaborasi dengan berbagai brand lokal. Arthur menilai tren fashion dan gaya hidup kini memiliki pengaruh besar terhadap minat generasi muda terhadap sebuah klub sepak bola.
“Kami ingin bekerja sama dengan brand-brand lokal dan UMKM. Anak muda sekarang bukan hanya mengikuti sepak bola, tetapi juga tren dan fashion,” katanya.
Arthur mencontohkan sejumlah klub besar dunia yang sukses membangun identitas melalui kolaborasi dengan brand fashion. Ia membuka peluang Persik menghadirkan jersey edisi khusus, jersey retro, hingga kolaborasi dengan brand non-olahraga.
“Jersey retro dan limited edition itu sangat menarik. Klub-klub besar juga melakukan hal yang sama. Ke depan kemungkinan kami akan bergerak ke arah sana,” ujarnya.
Persik juga mengevaluasi sisi merchandising dan toko resmi klub yang dinilai masih perlu banyak pembenahan. Menurut Arthur, pengembangan merchandise bisa menjadi salah satu sumber pemasukan penting bagi klub apabila dikelola secara serius.
Meski demikian, Arthur secara terbuka mengakui kondisi bisnis klub sepak bola Indonesia saat ini masih belum sehat. Menurut Arthur, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi mayoritas klub di Indonesia.
“Situasi ekonomi memang tidak gampang. Jadi klub harus lebih kreatif dan inovatif mencari pemasukan,” katanya. (saf/iss)




