Bisnis.com, JAKARTA – Tekanan terhadap pasar Surat Utang Negara (SUN) makin terasa di tengah gejolak geopolitik dan keraguan investor ihwal kredibilitas fiskal RI. Lelang SUN sepanjang 2026 menunjukkan terdapat kecenderungan penurunan minat investor terhadap pasar surat utang RI.
Melansir data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, lelang SBSN atau Sukuk pada Selasa (19/5) mencatatkan nilai penawaran terendah sepanjang tahun ini. DJPPR hanya mampu membukukan total penawaran senilai Rp18,79 triliun.
Dalam lelang tersebut, DJPPR menawarkan total 8 seri Sukuk dengan 3 Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPNS) dan 5 lainnya Project Based Sukuk (PBS) yang menawarkan tenor lebih panjang.
Penawaran tertinggi terhadap SPNS jatuh kepada seri SPNS03022027 dengan nilai mencapai Rp4,49 triliun. Seri ini memiliki tenggat jatuh tempo pada 3 Februari 2027 dan mencatatkan nilai bid-to-cover-ratio sebesar 1,84 kali.
Sementara pada seri PBS, penawaran terbesar jatuh kepada PBS038 dengan nilai mencapai Rp4,69 triliun atau mencerminkan bid-to-cover-ratio sebesar 1,06 kali. Produk ini menawarkan imbal hasil sebesar 6,87% dan tenggat jatuh tempo pada 15 Desember 2049.
“Total penawaran yang masuk sebesar Rp18,79 triliun. Total nominal yang dimenangkan dari kedelapan seri yang ditawarkan tersebut adalah Rp12 triliun,” tulis DJPPR dalam pengumuman resminya.
Baca Juga
- Wamenkeu Komitmen Defisit di Bawah 3%, Surat Utang 75% Rupiah
- Pasar Surat Utang Dibayangi Awan Mendung Kebijakan Fiskal
- Imbal Hasil Surat Utang AS 30 Tahun Naik ke 5,09%, Jepang Pecah Rekor Sentuh 4%
Sementara itu, produk dengan nominal dimenangkan tertinggi juga digenggam oleh PBS038 dengan total mencapai Rp4,45 triliun. Dari seri tenor pendek, SPNS03022027 mencatatkan nominal dimenangkan senilai Rp2,45 triliun dan menjadi yang tertinggi.
Beberapa produk lain, seperti SPNS13072026 mencatatkan nominal dimenangkan senilai Rp500 miliar, SPNS23112026 senilai Rp1,50 triliun, PBS030 senilai Rp1,25 triliun, PBS040 senilai Rp500 miliar, PBSG002 senilai Rp750 miliar, dan PBS034 dengan nominal dimenangkan senilai Rp600 miliar.
Nilai bid-to-cover-ratio pada produk SPNS juga berkisar pada level 1,06—1,86 kali. Sementara pada seri PBS, nilai bid-to-cover-ratio sebesar 1,06—2,93 kali.
Menengok data historis, realisasi penawaran masuk dalam lelang kali ini menjadi yang terkecil sepanjang tahun berjalan 2026 (year-to-date / YtD).
Pada lelang Sukuk perdana 2026 misalnya, Kemenkeu mampu mencatatkan total penawaran masuk mencapai Rp55,26 triliun. Angka bid-to-cover-ratio yang mencerminkan total penawaran dibandingkan total dimenangkan, berkisar pada level 3,36—10,40 kali untuk seri SPNS dan 2,08—9,76 kali untuk seri PBS.
Artinya, jumlah penawaran pada seri SPNS mencapai lebih dari 10 kali dari total dimenangkan. Begitu juga pada seri PBS dengan nilai penawaran lebih besar 9 kali dibandingkan yang dimenangkan oleh pemerintah.
Lesunya penawaran pada lelang SUN sejalan dengan kinerja imbal hasil acuan SBN RI yang kini telah bertengger pada level 6,85%. Telah meningkat signifikan dibandingkan 6,11% pada awal tahun, yang mencerminkan telah jatuhnya harga SUN RI di pasar sekunder.
Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Salvian Fernando, menilai pemerintah perlu tetap fleksibel dalam menerbitkan SUN di tengah kondisi pasar yang tengah volatil.
Menurutnya, memperbesar porsi tenor pendek dan menengah dapat menjadi strategi yang cukup rasional dalam jangka pendek untuk mengurangi tekanan melemahnya yield.
”Namun, tentunya pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan struktur maturity utang agar risiko refinancing di masa depan tidak meningkat terlalu besar akibat dominasi tenor pendek,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (24/5/2026).
Lelang Sukuk
Tanggal
Penawaran Masuk
Rentang bid-to-cover-ratio (kali)
Dimenangkan
SPNS
PBS
1/13/2026
55.260.000.000.000,00
3,36-10,40
2,08-9,76
12.000.000.000.000,00
1/27/2026
38.594.100.000.000,00
3,15-4,64
1,50-5,85
12.000.000.000.000,00
2/10/2026
43.825.800.000.000,00
1,55-3,09
1,86-17,45
12.000.000.000.000,00
2/24/2026
35.612.800.000.000,00
1,02-1,33
1,34-3,35
20.000.000.000.000,00
3/10/2026
30.981.000.000.000,00
1,04-1,42
2,67-5,67
15.000.000.000.000,00
7/4/2026
30.571.100.000.000,00
1,50-10,62
1,31-3,60
15.000.000.000.000,00
4/21/2026
33.553.200.000.000,00
1,62-4,19
1,04-5,84
15.000.000.000.000,00
5/5/2026
21.197.000.000.000,00
1,87-3,14
1,04-2,52
12.000.000.000.000,00
5/19/2026
18.795.300.000.000,00
1,06-1,86
1,06-2,93
12.000.000.000.000,00
Sumber: DJPPR, diolah.





