Bisnis.com, CIREBON- Produksi garam rakyat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tahun ini terancam kembali anjlok akibat fenomena kemarau basah yang terjadi sejak beberapa pekan terakhir.
Curah hujan yang masih tinggi pada periode musim kemarau membuat proses penguapan air laut di tambak terganggu sehingga panen garam tidak maksimal.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Pengolahan dan Pengawasan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Cirebon Teguh Budiman mengatakan, kondisi cuaca yang tidak menentu mulai memukul produksi garam rakyat di sejumlah wilayah pesisir utara Cirebon.
"Produksi garam rakyat sangat tergantung pada panas matahari dan proses penguapan. Ketika hujan masih sering turun saat musim kemarau, kristalisasi garam terganggu bahkan banyak yang gagal panen," kata Teguh belum lama ini.
Menurut dia, fenomena saat ini merupakan anomali iklim ketika hujan masih kerap terjadi meski sudah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor global, mulai dari suhu muka laut yang hangat hingga perubahan pola angin akibat krisis iklim.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon menunjukkan, produksi garam daerah itu sebenarnya sudah mengalami penurunan tajam pada 2025.
Baca Juga
- Industri Batik Cirebon Tumbuh Pelan, Tetapi Tetap Tahan Krisis
- Bank Indonesia Cirebon Pastikan Stok Pangan Terjaga Jelang Iduladha
- Pemerintah Petakan 21 Titik Rawan Kekeringan di Cirebon
Dalam publikasi Kabupaten Cirebon Dalam Angka 2026, total produksi garam tercatat hanya mencapai 12.282 ton pada 2025. Padahal pada 2024 produksi masih berada di angka 91.459 ton.
Penurunan produksi mencapai lebih dari 86% tersebut terjadi meski luas lahan tambak garam justru meningkat dari 1.283 hektare menjadi 1.324 hektare. Jumlah petambak juga relatif stabil, dari 1.017 orang pada 2024 menjadi 1.005 orang pada 2025.
Sentra produksi garam terbesar masih berada di wilayah pesisir seperti Kecamatan Pangenan, Kapetakan, Suranenggala, Gebang, Mundu, dan Astanajapura. Namun, sebagian besar wilayah itu kini mulai terdampak hujan yang turun di tengah musim produksi.
Teguh mengatakan, banyak petambak kehilangan siklus panen akibat air laut yang sudah diendapkan kembali encer setelah diguyur hujan. Akibatnya, garam gagal membentuk kristal dan tambak tidak menghasilkan panen.
"Normalnya satu siklus panen bisa sekitar 10 sampai 15 hari. Sekarang banyak tambak kosong karena hujan datang terus," ujarnya.
Selain menurunkan kuantitas produksi, kualitas garam rakyat juga disebut mengalami penurunan. Garam yang tercampur air hujan memiliki kadar air tinggi, berwarna kusam, dan mudah hancur sehingga sulit memenuhi standar industri.
Dalam kondisi normal, garam rakyat Cirebon dapat dipasarkan untuk kebutuhan industri maupun konsumsi. Namun saat kualitas turun, harga jual di tingkat petambak ikut merosot karena hanya terserap pasar tradisional.
"Petambak sekarang menghadapi situasi berat. Banyak yang pendapatannya turun drastis karena hasil panennya sedikit dan kualitasnya juga rendah," kata Teguh.
Menurut dia, kondisi tersebut memperlihatkan sektor garam rakyat masih sangat rentan terhadap perubahan iklim. Sebagian besar petambak di Cirebon masih menggunakan metode produksi tradisional dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
DKPP Kabupaten Cirebon saat ini mulai menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk membantu petambak menghadapi anomali cuaca. Salah satu upaya yang tengah dikaji yakni penerapan teknologi geomembran dan penutup tambak agar produksi tetap berjalan saat hujan turun.
Selain itu, DKPP juga berupaya memperkuat sistem informasi cuaca bagi petambak agar mereka dapat menyesuaikan siklus produksi dengan kondisi iklim jangka pendek.
"Kami sedang berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kementerian supaya ada dukungan teknologi dan anggaran. Harapannya produksi garam rakyat bisa lebih tahan terhadap perubahan iklim," ujar Teguh.





