Tanda Kiamat Kian Jelas, Kini Muncul di Susu hingga Sawah

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Seorang pekerja memerah sapi di peternakan sapi di kawasan mampang Jakarta, Sabtu (15/11/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak perubahan iklim semakin terasa dan dirasakan di berbagai sektor kehidupan. Cuaca ekstrem dan kenaikan suhu disebut mulai mengganggu ketahanan global. Tanda-tanda itu juga sudah mulai terlihat mulai dari produksi beras hingga susu.

Gelombang panas ekstrem, kekeringan panjang, banjir, hingga perubahan pola musim yang tidak menentu berdampak langsung pada sektor peternakan dan pertanian.

Sebuah studi menemukan padi bisa tidak bertahan karena adanya kenaikan suhu.


Baca: Malapetaka Mengancam, Kota di Pegunungan Ini Mulai Tenggelam

Penelitian tersebut menemukan suhu udara telah melebihi batasan budi daya padi dalam 9.000 tahun terakhir. Pemanasan Bumi juga disebutkan lebih cepat 5.000 kali dibanding kemampuan padi untuk berevolusi.

Penulis utama studi Nicolas Gauthier menjelaskan keadaan ini membuat padi mungkin telah mencapai batas termal. Sebutan ini merujuk pada titik saat padi tidak bisa dengan mudah beradaptasi pada kenaikan suhu.

Bahkan, Gauthier mengatakan pemanasan global di masa depan juga dapat mengganggu miliaran orang yang bekerja pada budi daya padi.

Dalam sejarahnya, tumbuhan padi berada di tempat dengan suhu rata-rata tahunan di bawah 28 derajat Celcius dan maksimal 33 derajat Celcius.

Tempat-tempat yang dingin mungkin akan lebih hangat karena adanya perubahan iklim. Gauthier menjelaskan kemungkinan ada pergeseran geografis dalam budidaya.

Gauthier mengatakan tantangannya adalah sawah yang dibangun selama berabad-abad tidak mudah untuk pindahkan. Pada akhirnya gangguan ini bakal berdampak besar pada perekonomian dan ketahanan pangan.

"Anda bisa mempertahankan produksi beras global, namun sama dengan memindahkan lahan budidaya. Tapi ini tidak menyelesaikan masalah untuk orang yang berada di Asia Selatan yang konsumsinya bergantung pada beras," kata Gauthier yang merupakan Antropolog dan Ahli Geografi Museum Sejarah Alam Florida, dikutip dari Live Science, Minggu (24/5/2026).

Sebagai informasi, fotosintesis padi berhenti pada suhu sekitar 40 derajat Celcius. Meski tanaman itu menyukai panas, namun suhu tinggi yang berlebihan bisa mempengaruhi viabilitas serbuk sari dan pertumbuhan biji.

Masalah lainnya adalah, padi membutuhkan banyak air. Perubahan musim hujan dan musim kemarau menjadi masalah, selain juga kenaikan permukaan laut yang dapat membuat air asin menggenang sawah di dataran rendah.

Baca: Serangan Trump Ke China Jadi Senjata Makan Tuan, AS Pusing Sendiri

Dampak Perubahan Iklim Pada Industri Susu dan Keju

Para peneliti menyoroti kualitas susu sapi yang mulai berubah akibat kondisi lingkungan dan pola pakan ternak yang terdampak perubahan cuaca ekstrem.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Dairy Science oleh Universite Clermont Auvergne di Prancis menunjukkan rasa susu sapi mengalami perbedaan dibanding sebelumnya. Perubahan itu berkaitan dengan jenis makanan yang dikonsumsi sapi.

Karena perubahan itu, membuat rasa kandungan gizi susu berubah. Pada akhirnya rasa keju pun menjadi kurang nikmat.

"Kalau perubahan iklim terus berjalan seperti sekarang, kita akan merasakannya dalam rasa keju kita," ujar Matthieu Bouchon, peneliti utama dari studi tersebut kepada Science News.

Mereka melakukan penelitian pada 2021 dengan membandingkan dua kelompok sapi. Salah satunya mengonsumsi rumput dan sisanya diberi pakan tambahan.

Sapi yang makan jagung akan menghasilkan sapi dengan volume setara dan emisi metana lebih rendah. Namun rasa susu yang dihasilkan kurang gurih dan kaya dibandingkan dengan sapi yang mengonsumsi rumput.

Sapi yang merumput juga memiliki lebih banyak asam lemak omega-3 dan asam laktat. Kandungan ini penting bagi kesehatan jantung dan sistem pencernaan.

Fenomena ini terjadi pada banyak wilayah. Mulai dari Eropa hingga Brasil.

Salah satu peternak sapi perah asal Brasil, Gustavo Abijaodi mengatakan perubahan iklim membuat kandungan susu di sana menurun.

"Kami menghadapi banyak masalah dengan kandungan protein dan lemak dalam susu karena suhu panas," ungkap Abijaodi. "Kalau kami bisa menstabilkan dampak panas, sapi akan menghasilkan susu yang lebih baik dan bergizi."

Temuan lainnya adalah pola makan sapi berubah. Sebab suhu ekstrem karena pemanasan global membuat sapi makan lebih sedikit.

"Sapi menghasilkan panas saat mencerna makanan, jadi kalau mereka sudah merasa panas, mereka akan makan lebih sedikit untuk menurunkan suhu tubuhnya," kata Pakar peternakan lainnya, Marina Danes dari Universitas Federal Lavras, Brasil.

Sapi yang makan lebih sedikit akan membuat daya tahan tubuh hewan menjadi menurun. Selain itu juga akan membuat hewan menjadi rentan terkena penyakit.

"Proses ini bisa berujung pada penurunan daya tahan tubuh, membuat hewan lebih rentan terkena penyakit," jelasnya.

 


(emy/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Infrastruktur Data Perkuat Daya Saing Bisnis Ekonomi Digital

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jauh-jauh Hari KDM Berpesan untuk Warga Jabar, Tidak Euforia Berlebihan
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Harga Emas Pegadaian Kembali Turun pada 24 Mei 2026, UBS Jadi Rp2,815 Juta per Gram
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Siapa Sosok Pelaku Penembakan Gedung Putih AS yang Tewas? Ditangkap Secret Service dan Punya Masalah Mental
• 5 jam laludisway.id
thumb
Presiden Yakin RI Berpotensi Produksi Udang Unggulan Dunia
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ramai Isu Kebocoran Data Bank, Ini Kata Praktisi Keamanan TI
• 23 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.