Bisnis.com, JAKARTA – Perang Iran—AS dan Israel, telah memanaskan harga energi dunia dan membawa risiko inflasi yang lebih tinggi ke Tanah Air. Meskipun begitu, organisasi pemeringkat kredit menilai posisi Indonesia cenderung memiliki prospek yang solid.
Chief Economist Asia Pacific S&P Global Ratings Louis Kuijs, dalam seminar Annual Indonesia Credit Spotlight yang digelar di Jakarta, membeberkan fakta bahwa konflik yang berkecamuk antara Iran—AS telah mengakibatkan tekanan pada harga energi dan pada gilirannya, menggeser sikap bank sentral terhadap arah suku bunga.
Louis menilai, gangguan pasar energi yang berkepanjangan merupakan risiko utama bagi negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pasalnya, memanasnya harga energi dapat menaikkan biaya hidup, mengikis daya beli, hingga menyebabkan keterbatasan secara sektoral.
"Kami memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan tetap solid pada tahun 2026 di tengah langkah-langkah kebijakan untuk mendukung pertumbuhan dan menekan dampak kenaikan harga minyak terhadap harga bahan bakar domestik serta perubahan kebijakan tarif AS baru- baru ini. Permintaan yang lebih rendah dari mitra dagang besar seperti Tiongkok, AS, dan India merupakan risiko utama,” kata Louis, dikutip Minggu (24/5/2026).
Di satu sisi, S&P Global Ratings menilai risiko perang Iran—AS terhadap sektor keuangan RI cenderung minim. Hal itu lantaran eksposur langsung perbankan RI terhadap negara-negara Timur Tengah cenderung terbatas.
Hanya saja, dalam skenario terburuk yang berisiko membuat harga energi memanas secara berkepanjangan, kerugian kredit diprediksi bakal meningkat.
Baca Juga
- Outlook Kredit 2026: Pefindo Optimistis Bisa Tumbuh Double Digit
- S&P Global Soroti Kebijakan Fiskal Berisiko Tekan Rating RI
- Tangkal Risau S&P hingga Fitch, Purbaya Targetkan Setoran Pajak Tumbuh 30% pada 2026
Director of Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings Ivan Tan, memprediksi total biaya kredit dapat mencapai sekitar 100 bps, dengan prediksi kerugian tambahan sebesar 35 bps pada 2026—2027 akibat gangguan energi.
“Terlepas dari risiko-risiko ini, fundamental sektor tetap kuat. Bank-bank Indonesia diuntungkan oleh profitabilitas yang solid dan rasio kecukupan modal mendekati 25%, yang memberikan penyangga yang berarti terhadap tekanan eksternal,” kata Ivan dalam kesempatan yang sama.
Meskipun begitu, dampak perang Iran—AS justru dinilai akan lebih terasa pada rumah tangga berpenghasilan rendah dan UKM yang lebih rentan terhadap memburuknya kondisi ekonomi karena cenderung sensitif terhadap volatilitas.
Senada, Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Danan Dito, menilai perang Iran—AS berisiko memberikan tekanan pada perekonomian RI lantaran perbankan dan perusahaan keuangan bersiap menghadapi pertumbuhan bisnis yang lebih lesu pada tahun ini.
“Terlepas dari kondisi keuangan mereka yang solid, yang ditunjukkan oleh penyangga modal yang kuat dan indikator kualitas aset yang terkendali, harga minyak yang tinggi dalam jangka panjang akan mengikis kepercayaan konsumen, daya beli, dan kemampuan pembayaran kembali,” katanya.




