Bontang Buka Pintu Investasi Asam Lemak Senilai Triliunan Rupiah

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SAMARINDA — Kota Bontang berupaya memasarkan proyek industri fatty acid (asam lemak) senilai Rp3,77 triliun melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO). 

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur menyatakan komitmen pemerintah daerah dalam mengawal proyek hilirisasi oleokimia tersebut.

 "Proyek ini adalah langkah konkret mempercepat hilirisasi kelapa sawit nasional. DPMPTSP Bontang memastikan siap memberikan pengawalan maksimal bagi investor yang masuk, baik dari sisi kemudahan perizinan maupun fasilitasi insentif," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (22/5/2026).

Dia menambahkan, pabrik bernilai triliunan rupiah itu direncanakan berdiri di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. 

Dari sisi lahan, proyek ini menyiapkan area pabrik pengolahan seluas 5 hektar serta area penyimpanan bahan baku dan produk jadi seluas 15 hektar. 

Dia menyebutkan, kapasitas produksi dirancang mencapai 91.200 ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku Crude Palm Oil (CPO) sebesar 45.000 ton per tahun. 

Baca Juga

  • Bontang Sodorkan Dua Kawasan Industri Raksasa untuk Investor
  • Kaltim Tawarkan Proyek Fatty Amine Senilai Rp1,88 triliun di Bontang
  • Bontang Bidik Industri Pengalengan Ikan Jadi Andalan Ekonomi Maritim

Menurutnya, kebutuhan ini relatif mudah dipenuhi mengingat produksi CPO di wilayah ini mencapai sekitar 3,8 juta ton per tahun.

Aspian menjelaskan, asam lemak merupakan produk hilirisasi oleokimia dengan permintaan global yang terus menanjak. 

"Produk ini menjadi bahan baku vital bagi berbagai industri manufaktur, mulai dari kosmetik, sabun, deterjen, plastik, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi," jelasnya. 

Dia menyebutkan proyeksi pertumbuhan konsumsi produk turunan oleokimia mencapai 7% per tahun, terutama didorong oleh ekspansi pasar di kawasan Asia dan Eropa.

Adapun, dia menuturkan sejumlah insentif fiskal dan kemudahan perizinan telah disiapkan sebagai karpet merah bagi para pemodal, termasuk implementasi sistem perizinan berbasis risiko melalui Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA) yang diharapkan mampu memangkas birokrasi yang kerap menjadi batu sandungan bagi investor.

"Kehadiran industri ini tidak hanya akan memperkuat posisi Bontang sebagai kota industri strategis, tetapi yang paling penting adalah menciptakan ratusan lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperluas kontribusi ekspor produk hilir bernilai tambah tinggi ke pasar global," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tim dengan 79 Poin Tak Juara, Bojan Hodak: Musim Ini Lebih Sulit
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Tonsil Bukan Organ Tak Berguna: Kenapa Dokter Jarang Sarankan Operasi Amandel?
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Totalitas Jadi Dono, Desta Mahendra Rela Tahan Sariawan hingga Tak Hitung-hitungan Soal Honor
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Misbakhun Sebut Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini Lebih Baik dari Krisis 1998, Apa Alasannya?
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Kronologi Kecelakaan Mobil Anggota DPR Gus Hilman di Tol Pasporo yang Tewaskan 2 Staf
• 15 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.