Lumpur hitam menelan betis mereka hingga hampir sebatas lutut. Sandal beberapa kali tertinggal di dasar tambak. Tangan-tangan muda itu sibuk menancapkan bibit mangrove ke tanah basah di pesisir Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara, Jawa Tengah, Minggu (24/5/2026).
Sesekali terdengar teriakan saat ada yang terpeleset atau terbenam lumpur. Suasana keceriaan itu mewarnai 120 mahasiswa yang tampak menikmati sebagai pengalaman baru dalam menjaga kelestarian pesisir utara.
Sebanyak 3.000 bibit mangrove ditanam di kawasan Kampung Nelayan Tambakrejo. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah komunitas, Walhi, pemerintah Kecamatan Semarang Utara, warga pesisir, hingga mahasiswa.
Penanaman mangrove tersebut berlangsung di tengah terus menyusutnya kawasan mangrove di pesisir utara Jawa. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, kerusakan mangrove di pantai utara Jawa telah mencapai puluhan ribu hektar akibat abrasi, alih fungsi tambak, permukiman, hingga tekanan pembangunan kawasan pesisir.
Di Jawa Tengah, ancaman itu terlihat nyata di sejumlah wilayah pesisir seperti Semarang, Demak, hingga Pekalongan yang selama bertahun-tahun berhadapan dengan abrasi dan rob. Hilangnya sabuk hijau mangrove membuat gelombang laut lebih mudah mengikis daratan dan memperparah masuknya air laut ke permukiman warga.
Camat Semarang Utara Siwi Wahyuningsih mengatakan penanaman mangrove menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kawasan pesisir Tambakrejo yang terus terancam abrasi dan rob.
”Kegiatan pagi ini luar biasa. Penanaman 3.000 bibit mangrove ini merupakan bantuan Rotary Bimasena yang dikerjakan bersama Walhi, mahasiswa, dan warga secara gotong royong,” ujarnya.
Menurut Siwi, proses penanaman tidak dilakukan secara instan. Selama dua pekan terakhir, kawasan pesisir yang sebelumnya dipenuhi semak dan rumput liar dibersihkan terlebih dahulu sebelum siap ditanami.
Ia berharap mangrove yang ditanam dapat menjadi pelindung alami kawasan pesisir sekaligus membantu mengurangi limpasan air laut ke permukiman warga.
”Harapannya, abrasi bisa ditekan dan air laut tidak terus masuk ke rumah-rumah warga,” ujar Siwi.
Koordinator kegiatan, Mellysa, mengatakan keterlibatan generasi muda sengaja diperbesar karena upaya menjaga pesisir membutuhkan keberlanjutan.
”Kalau mahasiswa tidak paham bagaimana menjaga pesisir, nanti siapa yang melanjutkan?” ujarnya.
Menurut dia, persoalan kawasan pantai tidak mungkin ditangani satu pihak saja. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan anak muda menjadi kunci menjaga pesisir tetap bertahan di tengah ancaman abrasi dan rob yang terus berulang.
Semangat serupa dirasakan Meysha, mahasiswa asal Sumatera Barat yang baru pertama kali mengikuti penanaman mangrove di kawasan rob Semarang. ”Awalnya penasaran saja ikut, ternyata seru, jadi pengalaman baru,” ujarnya.
Sementara aktivitas bersih pantai dan penanaman mangrove pagi itu menjadi dua wajah dari upaya yang sama, menjaga pesisir. Melalui tangan-tangan muda yang rela berkubang lumpur pagi itu, tumbuh harapan agar pesisir Semarang Utara tidak terus kehilangan daratannya.





