Alunan musik tradisional tanjidor kembali menggetarkan telinga masyarakat Kota Pontianak, khususnya di kawasan Sungai Jawi pada 22 Mei 2026 di Jalan Puyuh, Pontianak, Kalimantan Barat melalui gelaran ‘Habe Fest’.
Pada perayaan tahun kedua ‘Habe Fest’ ini, Tanjidor Sumber Rejeki membawa penonton melintasi lorong waktu, memadukan megahnya musik tiup tradisional dengan memori kejayaan transportasi jalur air yang kian dirindukan, yaitu sampan.
Meski secara format tidak ada yang membedakan dari gelaran tahun lalu, daya pikat pertunjukan kali ini justru terletak pada kedalaman rasa dan kesetiaan menjaga tradisi.
Mereka menampilkan karya dari komposer kebanggaan Kalbar, Nursalim Yadi Anugrah, yang berjudul ‘Habe Habe’.
Tak hanya itu, sebanyak kurang lebih 15 musisi dari Tanjidor Sumber Rejeki juga memainkan beberapa lagu daerah, yakni ‘Joget Gembira’, ‘Penasaran’, ‘Aek Kapuas’, dan ‘Tanjung Katung’.
“Ruang publik seperti ini bukan cuma tempat singgah, tapi modal utama kita untuk saling bertukar ide. Ketika komunitas dan kreativitas diberi ruang, di situlah inovasi lokal bisa tumbuh dan berdampak nyata bagi kemajuan daerah,” kata Yadi, Direktur Artistik Habe Fest.
Lebih dari sekadar tontonan, pagelaran ini memikul misi budaya yang mendalam. Penyelenggara berharap lewat nada-nada yang ditiupkan, masyarakat terutama generasi muda bisa lebih mengenal dan mencintai musik tanjidor.
“Semoga masyakarat lebih banyak tau tentang tanjidor, serta nostalgia bersama dengan transportasi jalur air, yaitu sampan,” ujar Uray Ferry, salah satu pemain Tanjidor Sumber Rejeki.
Selain itu, adapun salah satu penonton yang turut mengungkapkan pendapatnya terhadap pertunjukan musik ini.
“Sangat luar biasa melihat bagaimana energi lokal di sini berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal disini. Keramahan dan atmosfer unik di Pontianak adalah magnet nyata yang membuat siapa pun, merasa sangat terkesan,” ungkap Katline.





