REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya telah memasuki fase paling menentukan.
Kedua pihak kini berada di persimpangan yaitu membangun kesepahaman menuju sebuah perjanjian, atau kembali tergelincir ke babak perang baru jika masing-masing tetap bersikeras pada tuntutan dan syarat mereka.
Baca Juga
Perang Iran Menguras Sebagian Besar Kemampuan Militer AS, Hanya Demi Israel!
Tidak Langsung Menerima Juga tak Serta Merta Menolak Pemikiran Syekh Yusuf Al-Qaradhawi
Media Israel Ungkap Mengapa Komandan Tertinggi Al-Qassam Berjuluk Sang Hantu Bisa Terbunuh
Di tengah percepatan manuver diplomatik, beberapa jam terakhir diwarnai munculnya rancangan nota kesepahaman awal yang disebut-sebut dapat membuka jalan menuju kesepakatan lebih besar terkait isu-isu paling sensitif antara kedua negara.
Berikut perkembangan terbaru mengenai nota kesepahaman tersebut, reaksi berbagai pihak, serta atmosfer politik yang mengiringinya sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Ahad (24/5/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pertama, apa perkembangan terbarunya?
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengumumkan bahwa sebuah kesepakatan dengan Iran “hampir sepenuhnya selesai dinegosiasikan”.
“Kami tinggal menunggu penyelesaian akhir,” tulis Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social.
Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya melakukan “pembicaraan yang baik” dengan para pemimpin dan pejabat dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain terkait perkembangan dengan Iran.
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah seorang pejabat Iran mengatakan kepada Aljazeera bahwa telah tercapai nota kesepahaman melalui mediasi Pakistan, meskipun Teheran masih menunggu tanggapan resmi dari Washington.