Lapisan Kertas Kedap Air dari Minyak Nabati, untuk Kemasan yang Ramah Lingkungan

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Kemasan makanan berbahan kertas semakin sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hingga kini, pada umumnya kemasan itu masih dilapis plastik agar cairan dari makanan dan minuman tidak bocor. Baru-baru ini, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, melakukan inovasi dengan menggunakan minyak nabati sebagai pelapis kertas yang dapat digunakan untuk kemasan makan yang aman dan berkelanjutan.

Gelas kopi atau teh yang digunakan dalam acara keluarga atau kantor, kini, memang lebih banyak menggunakan gelas kertas dibandingkan gelas plastik. Selain itu, wadah makanan yang dibeli dari pedagang kaki lima atau toko di pusat perbelanjaan juga hampir semuanya menggunakan kemasan berbahan kertas. Wadah tersebut bahkan juga digunakan untuk makanan berkuah.

Bagi banyak orang, wadah kertas tersebut mungkin dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan wadah plastik ataupun styrofoam. Namun, di balik anggapan sebagai wadah ramah lingkungan tersebut, ada fakta yang belum banyak orang ketahui.

Baca JugaSemua Kemasan Plastik Rentan Picu Penyakit Berbahaya
Baca JugaPlastik Kemasan Bebas BPA Bukan Berarti Tidak Berisiko

Sebagian besar kemasan kertas yang tersedia untuk wadah makanan dan minuman tersebut sebenarnya masih menggunakan lapisan plastik tipis di bagian dalamnya. Lapisan plastik seperti polyethylene (PE) atau polylactic acid (PLA) pada kemasan tersebut digunakan agar makanan atau minuman di dalamnya yang berkuah atau berair tidak mudah bocor.

Persoalannya, ketika bahan kertas dan plastik menyatu dalam satu kemasan, proses daur ulang untuk kemasan tersebut menjadi lebih kompleks. Kemasan jenis tersebut bahkan seringkali tidak dapat didaur ulang maupun dikomposkan secara sempurna. Wadah kertas dengan lapisan plastik yang tipis sulit untuk dipisahkan.

Akibatnya, banyak kemasan kertas dengan lapisan plastik tersebut hanya berakhir di tempat pembuangan akhir. Tempat daur ulang pun tidak dapat menerima kemasan jenis tersebut. Hal ini akhirnya hanya menambah persoalan lingkungan akibat plastik.

Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup, sekitar 10,8 juta ton atau hampir 20 persen dari total sampah nasional merupakan sampah plastik. Dengan jumlah yang sangat besar tersebut, tingkat daur ulang baru mencapai 22 persen.

Itu artinya, sampah plastik lain yang tidak terdaur ulang berakhir di tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan akhir, badan air, pinggir jalan, sawah, pesisir, dan laut. Adapun tiga jenis sampah kemasan paling banyak ditemukan adalah kemasan saset, gelas, dan botol.

Selain berdampak pada lingkungan, kemasan plastik yang tidak terdaur ulang tersebut juga bisa berdampak bagi kesehatan masyarakat. Plastik yang terbuang di lingkungan dapat mencemari lingkungan. Air dan tanah dapat terkontaminasi nanoplastik yang jika sampai terkonsumsi atau masuk ke dalam tubuh manusia bisa menyebabkan masalah kesehatan.

Baca JugaMikroplastik Ditemukan di Hampir Semua Sampel Otak Manusia
Baca JugaWadah Plastik Bisa Melepaskan Triliunan Nanoplastik

Berbagai riset pun menunjukkan bahwa penggunaan kemasan plastik, termasuk kemasan kertas dengan lapisan plastik bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Komponen plastik pada kemasan bisa bermigrasi ke dalam makanan atau minuman, terutama ketika kemasan bersentuhan dengan makanan yang panas, berminyak, atau disimpan dalam waktu yang lama.

Lapisan minyak nabati

Kondisi tersebut yang kemudian mendorong peneliti dari Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan bahan pelapis kemasan kertas yang lebih aman dan berkelanjutan. Bahan pelapis kemasan kertas yang dikembangkan tersebut berbasis minyak nabati.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Zatil Afrah Athaillah, yang mengembangkan penelitian tersebut, menuturkan, kemasan kertas selama ini memang punya keunggulan untuk digunakan karena ringan dan praktis dengan harga yang relatif murah. Namun, kandungan plastik sebagai pelapis kemasan membuat tujuan untuk menghasilkan kemasan yang ramah lingkungan menjadi tidak tercapai.

Untuk itu, penelitian dilakukan untuk mengembangkan bahan yang dapat digunakan untuk menggantikan lapisan plastik pada kemasan kertas. Peneliti mencoba mencari bahan alami yang dapat berfungsi sebagai lapisan pelindung dari air dan minyak yang lebih aman bagi kesehatan dan ramah terhadap lingkungan.

“Saya mengembangkan kertas kemasan yang dilapisi dengan bahan nabati yang membuat kertas menjadi fully degradable (terurai sepenuhnya) saat dikompos atau dibuang ke lingkungan. Dan kertasnya juga tidak akan menimbulkan migrasi plastik atau (bahan) aditifnya,” ujar Zatil dalam video yang dipublikasi oleh BRIN pada 12 Maret 2026.

Saya mengembangkan kertas kemasan yang dilapisi dengan bahan nabati yang membuat kertas menjadi fully degradable (terurai sepenuhnya) saat dikompos atau dibuang ke lingkungan.

Penelitian mulai dilakukan pada awal 2025, yakni dengan mengembangkan lapisan kertas dengan bahan berbasis lemak nabati. Dalam pengembangan, para peneliti berlandaskan pada tiga hal utama, yakni bahan yang digunakan harus praktis digunakan untuk kemasan, bahan punya keberlanjutan lingkungan, serta aman bagi konsumen.

Baca JugaKurangi Plastik, Warga Banyumas Gunakan Daun untuk Bungkus Daging Kurban
Baca JugaPiring Ramah Lingkungan dari Pelepah Pinang

Dalam riset tersebut, peneliti mengeksplorasi berbagai jenis minyak nabati yang berpotensi menjadi lapisan pelindung di permukaan kertas. Awalnya, riset dilakukan dengan menggunakan minyak dari biji rami atau linseed oil, minyak dari biji walnut, biji kedelai, kemiri, minyak sawit merah, dan minyak zaitun.

Setelah melalui pengembangan dan uji coba, bahan yang digunakan dari minyak sawit dan minyak zaitun menunjukkan hasil yang kurang memadai. Ditemukan Adanya rembesan cairan masih ditemukan pada kemasan. Kertas dengan lapisan jenis minyak rami, walnur, kedelai, dan kemiri, jauh lebih efektif menahan cairan.

Dalam melakukan pengembangan, setiap kemasan makanan yang sudah dilapisi minyak nabati tersebut kemudian dilakukan uji tetes air dan minyak. Setelah itu, pengamatan dilakukan selama 60 menit untuk melihat apakah cairan air dan minyak meresap ke bagian bawah kemasan atau tidak.

Jika tidak ditemukan rembesan maupun perubahan tampilan pada kertas hingga waktu pengamatan tersebut, bahan pelapisan dianggap berhasil dan berpotensi untuk digunakan. Sebaliknya, jika ditemukan rembesan berarti bahan pelapisan tidak dapat digunakan.

Selain pengujian dengan tetesan air dan minyak, peneliti juga melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop tiga dimensi. Dengan alat tersebut, peneliti dapat melihat bentuk tetesan air dari sisi samping kertas. Pada kertas tanpa pelapis, tetesan air cenderung melebar. Sementara pada kertas yang dilapisi minyak nabati, tetesan air tampak lebih membulat.

Pengukuran lebih lanjut menunjukkan sudut kontak air pada permukaan kertas berlapis mendekati angka 90 derajat. Angka tersebut menandakan bahwa permukaan kertas dengan lapisan menjadi lebih tahan terhadap penetrasi air atau hidrofobik dibandingkan tanpa pelapis.

Baca JugaInovasi Ramah Pengganti Plastik
Baca JugaInovasi Daur Ulang Sampah Plastik dari Gerai Kopi

Tim peneliti juga melakukan analisis lain, mulai dari pengujian kekuatan dan kelenturan kertas dengan analisis tekstur, pengujian gugus fungsi dengan metode Fourier Transform Infrared (FTIR), pengujian kristalinitas dengan X-ray Diffraction (XRD), analisis viskositas minyak, hingga pengamatan morfologi dengan berbagai teknik mikroskopi.

“Dari sisi sifat mekanik, kertas berlapis minyak nabati menunjukkan kekuatan dan kelenturan yang mirip, bahkan dalam beberapa kasus lebih baik dibandingkan kertas tanpa pelapis,” kata Zatil.

Ia menyebutkan, penelitian yang dilakukan saat ini masih berupa lembaran kertas dengan lapisan minyak nabati. Penelitian belum masuk dalam tahap pengujian dengan kertas yang sudah dalam bentuk kemasan gelas minuman atau wadah makanan.

Meski begitu, paten pada penelitian ini telah didapatkan pada tahun 2025 yang dikembangkan dengan skema pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN. Paten yang didapatkan dengan nomor P00202508952.

Pengembangan

Zatil menyampaikan, riset lanjutan masih akan dilakukan dengan pengujian sensori untuk mengetahui apakah lapisan yang digunakan berpengaruh pada rasa atau aroma minuman, seperti kopi dan teh. Pengembangan lain juga akan dilakukan dengan menggunakan bahan pelapis dari epicuticular lipid yang berasal dari lapisan luar daun atau kulit buah.

“Daun atau kulit buah sebenarnya mengandung lipid (minyak) alami. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pelapis, itu akan sangat menarik karena berasal dari limbah,” tuturnya.

Baca JugaSampah yang Tidak Kunjung Hilang di Marunda Kepu
Baca JugaEkonomi Sirkular Belum Berjalan Sesuai Harapan

Secara terpisah, Direktur Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, dikutip dalam siaran pers yang terbit pada 11 Mei 2026, menuturkan, sampah plastik dan sampah elektronik menjadi persoalan lingkungan yang tengah menjadi perhatian. Peningkatan jumlah penduduk, urbanisasi, serta konsumsi yang meningkat di masyarakat membuat timbulan sampah plastik dan elektronik (e-waste) semakin meningkat. Ia pun mendorong agar pengelolaan sampah tidak lagi berpedoman pada prinsip mengumpulkan sampah, mengangkut sampah, dan membuang sampah.

Sampah, termasuk sampah plastik dan elektronik harus dikelola dengan prinsip siklus ekonomi sehingga nilai material bisa terjaga selama mungkin. Sampah plastik dan elektronik dapat didaur ulang dengan sistem pengumpulan yang efektif serta bertanggung jawab pada seluruh rantai nilai produk.

“E-waste dan sampah plastik pada dasarnya mencerminkan masalah yang sama, yaitu kegagalan sistem linear dalam mengelola sumber daya. Karena itu, transisi menuju ekonomi sirkular menjadi suatu keharusan,” ujar Agus.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warga Senang Bikin Paspor di CFD HI: Bantu yang Sibuk Hari Kerja
• 11 jam laludetik.com
thumb
Baleg Yakin RUU Satu Data Bisa Atasi Bansos Salah Sasaran
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
PT SMI Salurkan Pembiayaan Rp125 Miliar untuk Pengembangan PLTS GREI
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Eliano Reijnders Takjub Atmosfer Bobotoh Melebihi di Eropa
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Berita Terpopuler: PPPK Butuh Jaminan Pensiun, Perlu Kementerian Khusus, Pemerintah Merespons Begini
• 16 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.