Di salah satu meja kantin Pojok Istana di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (12/5/2026) petang, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono membaca ulang berkas materi yang akan disampaikan dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto.
Salah satu fokus utamanya sore itu adalah memastikan bagaimana infrastruktur nasional siap menunjang ketahanan pangan, terutama di tengah ancaman El Nino yang mulai membayangi. Sore itu Agus menyadari masih memerlukan data tambahan untuk dilaporkan ke Presiden.
Waktu kian terbatas. Alih-alih meminta staf khusus di sebelahnya mencarikan data tambahan, Agus justru meraih ponsel yang diletakkannya di meja. Jarinya bergerak mencari kontak Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani dan langsung meneleponnya. Begitu panggilan tersambung, Agus langsung berucap, “Bang, tolong saya di-brief.”
Wajar jika banyak alumni Taruna Nusantara di kabinet karena Presiden merasa dekat dengan mereka akibat kesamaan nilai didikan militer dan kedisiplinan yang konsisten.
Di ujung telepon, Faisal langsung menjabarkan berbagai skenario untuk menghadapi El Nino. Selama sekitar lima menit, Agus mendengarkan dengan saksama sembari mencatat poin-poin penting, mulai dari ancaman kekeringan berkepanjangan, risiko gagal panen, hingga langkah mitigasi yang mesti dilakukan. Informasi dari Faisal tersebut lantas dijadikan referensi bagi AHY untuk dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo dalam rapat terbatas.
Momen di Kantin Pojok Istana itu kemudian diceritakan kembali oleh AHY saat memberikan sambutan dalam Munas ke-11 Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) di Wisma Serba Guna, kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (23/5/2026). Acara tersebut dihadiri oleh lintas generasi alumnus SMA Taruna Nusantara, mulai dari angkatan pertama hingga angkatan ke-33.
Bagi Agus, respons secepat kilat dari Kepala BMKG waktu itu bukan sekadar karena mereka berada di dalam satu gerbong pemerintahan yang sama. Sekat birokrasi yang biasanya kaku runtuh seketika karena adanya ikatan kuat sesama alumnus Taruna Nusantara. Faktor "satu rahim" pendidikan di kawah candradimuka Lembah Tidar itulah yang membuat telepon langsung diangkat tanpa ragu.
Secara silsilah angkatan, Teuku Faisal Fathani merupakan alumnus angkatan pertama (TN 1) yang lulus pada tahun 1993. Sedangkan Agus adalah adik kelasnya di angkatan kelima (TN 5) yang lulus tahun 1997. Perbedaan generasi ini tidak menjadi penghalang berkat budaya hormat kepada senior dan asuh kepada junior yang melekat kuat. "Kebetulan, abang kelas sendiri, kakak kelas sendiri," kenang Agus.
Kemudahan koordinasi di saat genting tersebut memperlihatkan bagaimana kedekatan emosional bekerja di level pengambil kebijakan. Rasa saling percaya yang dipupuk sejak masa sekolah terbukti ampuh memangkas jalur formal yang panjang. "Itulah pentingnya connection," ucap Agus.
Jejaring alumni SMA Taruna Nusantara terlihat dari komposisi Kabinet Merah Putih yang dihuni lulusan Lembah Tidar tersebut. Selain AHY, di angkatan kelima (TN 5) terdapat nama Menteri Luar Negeri Sugiono. Posisi kabinet lainnya terus menyambung ke generasi di bawahnya lewat Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (TN 6), Wakil Menteri Pertanian Sudaryono (TN 11), hingga Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (TN 15).
Alumni Taruna Nusantara juga menempati berbagai posisi strategis lainnya, di antaranya Komandan Pasukan Pengamanan Presiden yang diisi Mayor Jenderal TNI Edwin Adrian Sumantha (TN 2), Wakil Kepala II Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara Tedi Bharata (TN 11), dan Direktur Utama Pertamina Simon Mantiri (TN 6).
Agus memaparkan bahwa pada mulanya, SMA Taruna Nusantara memang didesain sebagai lumbung untuk mencetak perwira TNI/Polri serta birokrat andal. Namun, seiring berjalannya waktu, lanskap zaman telah bergeser dan menuntut korps alumni untuk berani mendobrak batas profesi konvensional tersebut.
Salah satu ekspansi peran yang dinilainya paling krusial saat ini adalah keterlibatan aktif di sektor politik praktis. Langkah ini penting karena, menurutnya, jalur politik merupakan hulu dari seluruh aturan yang mengikat hajat hidup orang banyak. "Setiap kebijakan politik itu diawali dan diakhiri oleh proses politik, baik di ranah legislatif maupun eksekutif," ucap Agus.
Oleh karena itu, ia berharap penetrasi alumnus Lembah Tidar ke depan tidak hanya menumpuk di tingkat pusat atau nasional. Distribusi kader harus dimulai secara berjenjang dari struktur pemerintahan daerah di tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi. Diversifikasi posisi di jalur eksekutif maupun legislatif inilah yang akan menjadi kunci agar jejaring alumni tetap relevan dan memberikan dampak konkret bagi masyarakat.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengakui bahwa SMA Taruna Nusantara sedang memasuki masa keemasan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. Perkembangan sekolah ini melesat bukan cuma dari urusan fisik bangunan, melainkan juga dari besarnya kepercayaan negara terhadap kualitas sumber daya manusia yang dicetak oleh kampus Magelang tersebut.
Menurutnya, salah satu bukti paling konkret terlihat dari kursi menteri di jajaran Kabinet Merah Putih yang kini banyak diisi oleh lulusan Taruna Nusantara. Banyaknya alumni yang memegang kendali pemerintahan saat ini dinilainya menjadi bukti kuat bahwa lulusan Taruna Nusantara mempunyai kesiapan mental dan modal kepemimpinan yang matang.
Sudaryono mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat dengan sejarah pendirian SMA Taruna Nusantara bersama Jenderal L.B. Moerdani pada 14 Juli 1990 silam. Hubungan historis yang terjalin sejak awal sekolah ini berdiri itulah yang menjadi alasan di balik besarnya perhatian sang presiden untuk terus merawat dan membesarkan almamater mereka hingga saat ini.
Lebih jauh, kata Sudaryono, kepercayaan besar itu juga sejalan dengan langkah Presiden Prabowo yang memperbanyak cabang sekolah ini di berbagai wilayah pada 2026. Kampus SMA Taruna Nusantara yang selama puluhan tahun hanya ada satu di Magelang, Jawa Tengah, kini resmi ditambah menjadi enam kampus, termasuk di Cimahi, Jawa Barat; Malang, Jawa Timur; Pagaralam, Sumatera Selatan; Langowan, Sulawesi Utara; hingga Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Tak hanya memperluas sekolah, Presiden Prabowo juga mengembalikan aturan awal dengan menggratiskan kembali seluruh biaya pendidikan lewat jalur beasiswa penuh. Sudaryono menceritakan kembali pasang surut sekolah mereka, di mana angkatan 1 sampai 12 sempat menikmati sekolah gratis, sebelum akhirnya sempat berganti menjadi sistem berbayar pada angkatan-angkatan setelahnya.
Sudaryono pun mengajak seluruh keluarga besar Ikastara untuk merapatkan barisan dan memberikan karya terbaik di tempat kerja masing-masing. Sebab, posisi strategis yang kini banyak dipegang oleh alumni bukan untuk ajang gagah-gagahan, melainkan sebuah tanggung jawab moral yang besar karena setiap keputusan mereka akan menentukan nasib orang banyak.
"Kita ini sudah menempati satu kalangan elite. Elite dalam hal ini adalah kalangan pemimpin di mana keputusannya, di mana tindakan dan aksi nyatanya itu kemudian punya pengaruh besar terhadap banyak orang, baik itu di pemerintahan maupun di swasta," kata Sudaryono.
Perhatian Presiden Prabowo terhadap pengembangan SMA Taruna Nusantara ditunjukkan saat meresmikan kampus baru di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (13/1/2026). Sebelumnya, Presiden juga meninjau progres pembangunan kampus serupa di Ibu Kota Nusantara (IKN) guna memastikan standar kualitas tetap terjaga.
Dalam sambutannya, Presiden menekankan kembali tujuan awal pendirian sekolah ini. "SMA Taruna Nusantara didirikan sekian puluh tahun yang lalu dengan maksud untuk mencari putra putri bangsa Indonesia yang memiliki kapasitas akademis yang unggul untuk dibina, diberi kesempatan yang terbaik, sehingga dapat meraih ilmu pengetahuan dengan cepat, dan pada ujungnya dapat menjadi kader bangsa yang berguna,” ujar Presiden.
Bagi Prabowo, sekolah model Taruna Nusantara merupakan kebutuhan fundamental sebuah negara. Pandangan ini merujuk pada pengamatannya terhadap praktik di berbagai negara yang telah mencapai kemajuan pesat. Sebagai contoh, ia menyebut Malaysia telah mengelola puluhan sekolah dengan pola serupa selama dua dekade, sementara Inggris telah menerapkannya selama ratusan tahun.
"Dari pengamatan kita kepada negara-negara yang berkembang dengan pesat, bahkan dengan negara-negara yang sudah jauh pembangunannya, peradabannya, terdapat di sebuah negara mungkin di atas 100, sekolah-sekolah semacam ini," tutur Presiden.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai, ada pergeseran pola jejaring dalam dua rezim terakhir, di mana pengaruh alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) sangat dominan pada era Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Kuatnya jejaring "Bulaksumur Connection" ini tampak melalui pengisian berbagai jabatan strategis yang didorong oleh kedekatan emosional maupun historis sang presiden sebagai alumnus Fakultas Kehutanan UGM.
Dominasi ini tecermin dari penunjukan sosok penting seperti Pratikno (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) yang dilantik saat menjabat Rektor UGM, hingga tokoh pengurus PP Kagama seperti Budi Karya Sumadi (Fakultas Teknik) sebagai Menteri Perhubungan dan AAGN Ari Dwipayana (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) sebagai Koordinator Staf Khusus Presiden.
Jejaring ini pun meluas dengan banyaknya menteri lulusan UGM lainnya di kabinet, seperti Basuki Hadimuljono (Fakultas Teknik), Retno Marsudi (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), dan Mahfud MD (Fakultas Hukum). Kemudian ada Airlangga Hartarto (Fakultas Teknik) serta Terawan Agus Putranto (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan) yang membantu Jokowi di pemerintahan.
Kini, di era Presiden Prabowo, kiblat jejaring tersebut perlahan bergeser ke arah alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara). Pengaruh alumni Ikastara ini kini menjadi warna baru dalam formasi kabinet saat ini.
Menurut Agung, pergeseran ini adalah cerminan dari hak prerogatif presiden dalam membangun ekosistem kerja yang efisien dengan memilih figur-figur yang memiliki kedekatan historis serta kesamaan nilai kedisiplinan yang ditempa sejak di Bumi Tidar. Dengan menempatkan nama-nama seperti Agus Harimurti, Sugiono, Prasetyo, hingga Sudaryono, Prabowo ingin memastikan mesin pemerintahannya diisi oleh orang-orang yang telah teruji loyalitas dan ritme kerjanya tanpa perlu waktu adaptasi yang panjang.
"Hak prerogatif presiden memainkan peranan penting. Wajar jika banyak alumni Taruna Nusantara di kabinet karena Presiden merasa dekat dengan mereka akibat kesamaan nilai didikan militer dan kedisiplinan yang konsisten," ujar Agung saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Namun, ia menilai bahwa masuknya alumni SMA Taruna Nusantara ke dalam kabinet tidak semata-mata didasari oleh ikatan almamater. Figur-figur yang dipilih Presiden memiliki rekam jejak akademik maupun profesional, mengingat tidak semua alumnus yang memiliki kedekatan personal lantas diangkat untuk mengisi posisi strategis.
Selain itu, bekerja dengan figur yang memiliki ikatan historis dinilai jauh lebih efektif karena mereka telah memahami standar loyalitas dan cara kerja Presiden. Hal ini bukan sekadar urusan almamater, melainkan upaya membangun mesin pemerintahan yang solid dan siap bekerja cepat demi menuntaskan janji politik dalam periode jabatan yang relatif singkat. "Mereka tidak perlu lagi 'diretreat' karena setiap hari mereka sudah ditempa di Bumi Tidar," ujar Agung.





