Bisnis.com, JAKARTA – Sukuk Tabungan perdana 2026 bertajuk ST016 mampu membukukan penjualan yang impresif selama lebih dari 14 hari penawaran, terdorong oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang baru-baru ini menaikkan suku bunga acuan BI Rate.
Melansir data Bibit sebagai mitra distribusi produk ST0116, ST016-T2 kini tinggal tersisa 22,3% atau Rp2,22 triliun dari target. Dengan kata lain, ST016-T2 telah ludes terjual sekitar Rp7,78 triliun dari target Rp10 triliun.
Sementara ST016-T4, kini tersisa 24,9% dari target, yang mencerminkan sisa sekitar Rp1,24 triliun. Artinya, produk ini juga telah ludes terjual Rp3,76 triliun dari target Rp5 triliun.
Laris manisnya penjualan ST016 salah satunya ditopang oleh keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mengerek suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Pasalnya, peningkatan suku bunga bakal turut mempengaruhi besaran imbal hasil yang ditawarkan produk dengan keunggulan floating with floor ini.
Bibit memprediksi imbal hasil yang ditawarkan oleh ST016-T2 bakal terkerek menjadi 6,55% dari level 6,05% dan menjadi 6,75% bagi ST016-T4 dari level 6,25% selepas kenaikan suku bunga ini. Hanya saja, belum ada keterangan resmi mengenai kenaikan imbal hasil dari produk ini.
Perhitungan imbal hasil ini didasarkan pada besaran BI Rate ditambah spread tetap ST016. Dalam komentarnya, Bibit menerangkan bahwa imbal hasil baru akan berlaku mulai pembagian kupon 10 September 2026 jika BI Rate ditahan di level 5,25% hingga 6 Agustus 2026.
Laris manisnya penjualan ST016 sebetulnya telah diprediksi oleh kalangan analis. Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) Banjaran Surya Indrastomo, memprediksi daya beli pasar terhadap ST016 akan solid.
Hal itu tampak dari realisasi penjualan SR024 yang mencapai Rp17,49 triliun, yang menunjukkan minat investor ritel yang besar, khususnya bagi produk syariah dengan imbal hasil yang menarik.
”ST016 ditawarkan dengan karakteristik floating with floor, sehingga relatif masih menarik di tengah ketidakpastian suku bunga dan volatilitas pasar,” katanya kepada Bisnis, dikutip Jumat (15/5/2026).
Proyeksi positif penjualan ST016 juga ditopang oleh potensi reinvestasi dari investor ST012 yang akan jatuh tempo pada 10 Mei 2026. Nilai jatuh tempo ST012-T2 bahkan mencapai Rp14,57 triliun, hampir menyamai target penjualan ST016 secara total.
“Dalam kondisi ekonomi yang masih tumbuh tetapi dibayangi risiko inflasi, volatilitas rupiah, dan tekanan pasar obligasi, ST016 dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin menjaga nilai kekayaannya sekaligus memperoleh imbal hasil secara rutin,” tutupnya.
General Manager Divisi Wealth Management BNI Henny Eugenia, turut memasang sikap optimistis terhadap penjualan ST016. Salah satu yang menjadi dasar kepercayaan diri BNI adalah animo masyarakat terhadap penawaran SBN Ritel sepanjang 2026.
”Memperhatikan tren penjualan SBN Ritel sebelumnya serta animo yang BNI terima, peluang serapan pasar terhadap ST016 diperkirakan masih kuat dengan basis investor SBN Ritel yang senantiasa tumbuh,” katanya kepada Bisnis, Minggu (10/5/2026).
Henny memprediksi, ST016-T2 akan lebih diminati investor lantaran jangka waktu yang lebih pendek dan sejalan dengan horizon investasi oleh investor ritel yang cenderung berjangka waktu pendek.
Hal itu sejalan dengan data realisasi penjualan SBN Ritel yang cenderung ’laku keras’ pada tenor pendek ketimbang panjang. Pada SR024 misalnya, tenor pendek membukukan penjualan senilai Rp12,14 triliun, sementara tenor panjang hanya Rp5,34 triliun.
Begitu pula pada ORI029 yang kendati tidak mencapai target penjualan, tetapi mampu membukukan penjualan pada tenor pendek Rp10,95 triliun dan hanya Rp3,48 triliun pada tenor panjang.
”Dalam setiap penerbitan, upaya literasi dan pendalaman pasar selalu menjadi perhatian utama. Dalam hal ini, BNI bersama Kemenkeu senantiasa bekerja sama dengan melakukan sosialisasi dan penawaran kepada masyarakat seluas-luasnya,” tambah Henny.





