China meluncurkan misi luar angkasa Shenzhou-23 dengan tiga astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Tiangong, pada Minggu malam, 24 Mei 2026, guna melanjutkan langkah ambisiusnya mendaratkan manusia ke permukaan Bulan sebelum tahun 2030.
Tiga awak misi ini adalah komandan Zhu Yangzhu, pilot Zhang Zhiyuan, dan spesialis muatan Lai Ka-ying —mantan petugas polisi Hong Kong yang akan menjadi astronot pertama dari Hong Kong yang berpartisipasi dalam misi luar angkasa China.
Nama Lai Ka-ying jelas menjadi sorotan dunia. Keikutsertaannya jadi cermin ambisi China memperluas cakupan program luar angkasanya hingga merangkul berbagai latar belakang.
Yang membuat misi ini benar-benar berbeda adalah durasinya. Salah satu dari tiga astronot tersebut akan tinggal di Stasiun Luar Angkasa Tiangong selama satu tahun. Keputusan akhir mengenai siapa yang akan menjalani penugasan setahun itu akan ditentukan kemudian, bergantung pada perkembangan misi.
Hal itu menjadikannya salah satu misi terlama dalam sejarah penerbangan antariksa, meski masih di bawah rekor 14,5 bulan yang dicetak kosmonaut Rusia pada 1995.
Ini juga akan jadi rekor baru bagi China. Misi-misi Shenzhou sebelumnya rata-rata berlangsung enam bulan.
Mengapa setahun? Jawabannya berkaitan langsung dengan Bulan. Para ilmuwan akan mempelajari dampak fisiologis dari paparan radiasi, penurunan kepadatan tulang manusia, dan tekanan psikologis selama penerbangan jangka panjang di luar angkasa. Data ini krusial untuk memastikan tubuh manusia mampu bertahan dalam perjalanan panjang menuju Bulan —dan kembali lagi ke Bumi.
Shenzhou-23 juga membawa misi teknis yang langsung berkaitan dengan rencana pendaratan di Bulan. Penerbangan Shenzhou-23 akan mengeksekusi prosedur pertemuan dan penambatan otomatis pertama dengan modul inti Tiangong —sebagai persiapan untuk misi 2030 yang bergantung pada pertemuan orbit lunar otomatis antara kapsul Mengzhou dan pendarat Lanyue.
Dengan kata lain, setiap langkah misi ini dirancang agar sistem yang kelak digunakan di orbit Bulan sudah teruji dan terbukti andal sebelum momen itu tiba.
Bersamaan dengan peluncuran Shenzhou-23, pejabat tinggi Badan Antariksa Berawak China (China Manned Space Agency/CMSA) mengumumkan langkah strategis besar, pihaknya melakukan penyatuan dua program yang selama ini berjalan paralel.
Zhang Jingbo, juru bicara CMSA, mengumumkan bahwa program eksplorasi Bulan robotik Chang'e dan program penerbangan antariksa berawak akan diintegrasikan dalam tiga area: misi, sumber daya, dan tim. Program terpadu ini disebut "Lunar Exploration Program."
Selama puluhan tahun, kedua program itu berkembang sendiri-sendiri. Dengan menggabungkannya, Beijing mengefisienkan sumber daya, mempercepat transfer teknologi, dan menyatukan keahlian yang sebelumnya tersebar.
Stasiun Luar Angkasa Tiangong yang telah beroperasi di orbit sejak 2021, kata Zhang, telah menyebarkan dan memverifikasi sejumlah teknologi kunci yang dibutuhkan untuk pendaratan berawak di Bulan.
Eksperimen Paling Kontroversial: Embrio Manusia di Luar AngkasaDi antara semua yang diumumkan, satu eksperimen memantik perdebatan tersendiri. Beijing tengah menjalankan eksperimen "embrio buatan" manusia pertama di luar angkasa — mengirimkan sampel sel punca manusia ke kru Shenzhou-22 di Tiangong bulan ini. Eksperimen ini bertujuan mempelajari kemungkinan jangka panjang bagi manusia untuk menetap, bertahan hidup, dan bereproduksi di luar angkasa.
Perlombaan Luar Angkasa China vs ASSemua ini terjadi dalam konteks persaingan luar angkasa yang semakin memanas antara China dan Amerika Serikat. Sementara Beijing menargetkan pendaratan berawak di Bulan pada 2030 dan membangun pangkalan permanen di sana bersama Rusia pada 2035, NASA tengah berupaya mengembalikan astronautnya ke Bulan paling cepat pada 2028 melalui program Artemis.
Dengan kurang dari empat tahun tersisa menuju tenggat 2030, China menghadapi tantangan besar dalam mengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak baru yang seluruhnya spesifik untuk misi lunar —sekaligus membuktikan kesiapan misinya.
Pada 2024, China menjadi negara pertama yang berhasil membawa kembali sampel tanah dari sisi jauh Bulan menggunakan misi robotik. Batu demi batu, langkah demi langkah, Beijing membangun reputasi sebagai kekuatan antariksa yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.





