Dari Mekkah Menuju Arafah, Berhaji Ceria Ala Mbah Marsiyah

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Banyak cara menghayati perjalanan spiritual, seperti naik haji. Ada yang menjalaninya dengan khusyuk dan tawaduk. Ada yang menghayati dengan penuh khidmat dan haru, hingga berurai air mata. Tak sedikit pula yang mengekspresikan dengan cara lain, yakni penuh kegembiraan.

Dalam haji, gembira merupakan ekspresi bersyukur telah mendapat panggilan Allah SWT hingga mampu tiba di Tanah Suci, menunaikan rukun kelima Islam. Tak terhitung kata “alhamdulillah”, wujud syukur, diucapkan Mbah Marsiyah (104). Sejak pertama kali menginjakkan kaki di bumi Mekkah, Arab Saudi, Jumat (22/5/2026) lalu, ziarah ke Masjidil Haram, dan hingga saat ini menjelang puncak haji di Arafah.

Semuanya dilalui dengan penuh suka cita dan kegembiraan. Tak ada keluhan saat ia menunaikan tawaf qudum—tawaf kedatangan bagi jemaah yang berhaji ifrad—di Masjidil Haram, Sabtu (23/5/2026) dini hari. Mbah Marsiyah, dengan duduk di kursi roda, yang didorong oleh putrinya Muidah, menyelesaikan tawaf tanpa ada kendala.

Baca JugaMemandang Kabah, Nenek Jumaria ”Sang Kuli Kebun”: Aku Orang Miskin...

Namine Mbah Marsiyah. Kula umur satus sekawan (Namanya Mbah Marsiyah. Umur saya 104 tahun),” ujarnya saat tiba di Kota Mekkah bersama rombongan jemaah Kloter 112 Embarkasi Surabaya (SUB 112), Jumat (22/5/2026) pagi waktu setempat.

Pagi di kota suci itu cerah. Udaranya masih segar. Sesekali burung merpati hinggap di depan Hotel Luluat Al-Sharq Al-Awsat, kawasan Syisyah-Raudhah, tempat jemaah kloter itu menginap.

Mbah Marsiyah harus dipapah petugas saat turun dari bus yang membawanya dari Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, lalu didudukkan di kursi roda. “Alhamdulillaaah…,” sebutnya saat diberi tahu bahwa ia sudah tiba di Mekkah.

Dalam usia 104 tahun, Mbah Marsiyah dinyatakan sebagai jemaah haji Indonesia tertua pada musim haji ini.

Wajahnya semringah. Ia melambaikan tangan ke arah beberapa petugas yang menyambutnya di depan hotel. Tidak tampak kelelahan di wajahnya meski baru melalui perjalanan jauh, termasuk penerbangan pertamanya dalam hidup, selama lebih dari 12 jam dari Surabaya.

Baca JugaSetelah Musibah, Ibu Fuadah Menyapa Kabah

Dalam usia 104 tahun, Mbah Marsiyah dinyatakan sebagai jemaah haji Indonesia tertua pada musim haji ini. Ia didampingi putri keduanya, Muidah, yang juga sudah lansia. Aniswatun Nadiroh, ketua kloternya, tampak terheran-heran melihat kebugaran Mbah Marsiyah.

Sambil menunggu antrean masuk hotel, dalam wawancara dengan awak Media Center Haji (MCH), termasuk Kompas, Mbah Marsiyah bercerita banyak hal. Dari pengalamannya sering didatangi wartawan, jerih payahnya menabung untuk berhaji, persiapannya sebelum terbang, hingga penerbangan pertamanya setelah meninggalkan kampung halamannya di Kediri, Jawa Timur.

Sopire nggih uuaaluuss. Buuuanter (Pilot menerbangkan dengan halus. Lajunya kencang),” ujarnya lalu tertawa, saat ditanya bagaimana rasanya naik pesawat.

Kula tiyang ndesa. Cocok mawon (Saya orang desa, cocok saja dengan sajian makanannya),” ucapnya lagi.

Baca JugaHaji, Perjalanan Iman, Harapan Makin Nyaman
Tanpa beban

Ia tertawa lepas, mengingat saat di kampung halamannya ia selalu dicari wartawan yang ingin mewawancarainya. Ternyata, sampai di Mekkah juga sama. Wawancara dengan Mbah Marsiyah dilakukan dalam Bahasa Jawa. Sambil menjawab pertanyaan, ia sesekali tertawa. Hidupnya tampak enteng, tanpa beban.

Selama wawancara ia sangat cepat menangkap pertanyaan dan cepat pula menjawabnya. Ia dengan akurat menyebut kampung asalnya: Bogo, Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Ia mengoreksi seorang petugas yang mengira dan menyebutnya berasal dari Kabupaten Nganjuk, tetangga Kediri.

Menurut Muidah, putrinya, Mbah Marsiyah mendaftar haji tahun 2021 melalui jalur lansia. Mbah Marsiah bercerita, untuk membiayai naik haji, ia menabung dari hasil menjual jenang. Sedikit demi sedikit. Tak jarang kadang Rp 2.000 atau Rp 5.000 yang disimpan di kaleng. Kekurangan dari hasil tabungan ditambahi anak-anaknya.

“Saya jualan jenang di depan rumah, kebetulan ada pohon sawo, sehingga teduh,” tutur Mbah Marsiyah.

”Itu dulu. Sekarang saya sudah tua, tidak ada kegiatannya,” ujarnya lalu tertawa.

Mbah Marsiah bercerita, untuk naik haji, ia menabung dari hasil menjual jenang. Sedikit demi sedikit, kadang Rp 2.000 atau Rp 5.000.

Saat menuju lift, Mbah Marsiah terus menceritakan aktivitas hidupnya sehari-hari saat kursi rodanya didorong Nunuk Hidayati, anggota Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bagian Lansia dan Disabilitas (Landis). ”Makan nasi, kalau pagi minum susu. Saya juga tidak makan daging ayam. Saya tidak pernah sakit,” katanya saat ditanya resep panjang umur.

”Angan-angan saya pergi ke Mekkah, akan memohon agar diberi panjang umur,” kata Mbah Marsiyah.

Baca JugaApa Saja Kisah Inspiratif Jemaah Haji asal Indonesia?

Mbah Marsiyah punya lima anak. Anak pertama tinggal di Pare, Kediri; anak kedua Muidah (yang kini mendampinginya di Tanah Suci); anak ketiga yang tinggal bersamanya di Kediri; anak keempat di Jakarta, dan anak kelima bekerja sebagai polisi di Sulawesi.

Menurut Muidah, setelah kelima anaknya berkeluarga, Mbah Marsiyah awalnya hidup sendirian di rumah. Memasak makanan sendiri, bersih-bersih rumah sendiri. Ia baru ditemani putranya nomor tiga setelah Mbah Marsiyah terjatuh di kamar mandi di rumahnya.

Makan menu normal

Selama tiga hari di Mekkah, Mbah Marsiyah praktis tidak merepotkan. Makan enak, tidur nyenyak. Seperti sebagian jemaah lain sekloter, ia berhaji ifrad. Sejak mengucapkan niat di mikat pada Kamis malam sampai saat melontar jamrah pada Rabu mendatang—hampir sepekan—jemaah haji ifrad terkena larangan-larangan ihram.

Meski demikian, semua dijalani Mbah Marsiyah dengan gembira. ”Tak ada permintaan untuk menu lansia. Mbah Marsiyah makan seperti jemaah yang lebih muda. Sayur terong juga dihabiskan,” kata Aniswatun Nadirah, ketua kloternya, soal kebutuhan makannya.

Baca JugaPergerakan Jemaah dan Pengaturan Konsumsi Tentukan Sukses Puncak Haji

Senin (25/5/2026), seperti jemaah lainnya, Mbah Marsiyah akan diberangkatkan ke Arafah—sekitar 23 kilometer tenggara Masjidil Haram—untuk melaksanakan wukuf. Rencananya, dari hotel akan berangkat naik bus yang disiapkan syarikah (perusahaan penyedia layanan haji) mulai pukul 06.00. Mbah Marsiyah akan tinggal di tenda di Arafah sehari semalam, lalu mengikuti murur (hanya melintas dengan bus) di Muzdalifah dan bertolak ke Mina.

Hingga Minggu siang, Aniswatun belum mendapat kabar, apakah Mbah Marsiyah akan termasuk dalam 20.000 jemaah yang ikut program tanazul atau tidak. Dalam usianya lebih seabad, ia jelas berhak ikut tanazul. Dengan program ini, seusai lewat Muzdalifah, jemaah bisa kembali ke hotel—tanpa mabit di Mina. Lempar jamrahnya bisa dibadalkan jemaah lain.

Sejak Sabtu (23/5/2026), petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) mempersiapkan ratusan lansia, jemaah sakit, dan difabel untuk mengikuti safari wukuf. Selama mengikuti safari wukuf, mereka diangkut dengan bus ke Arafah, dan hanya singgah sebentar di tempat itu, lalu pulang kembali ke hotel.

Aniswatun memastikan, Mbah Marsiyah akan mengikuti safari wukuf di Arafah, seperti jemaah lainnya. Muidah akan mendampinginya hingga menyelesaikan seluruh rangkaian haji, termasuk tawaf ifadah, sai, dan tahalul. ”Saya menyampaikan agar kesehatan selalu dijaga. Barang bawaan juga secukupnya, jangan sampai berlebihan,” ujar Aniswatun.

Sejak Sabtu (23/5/2026), petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) mempersiapkan ratusan lansia, jemaah sakit, dan difabel untuk mengikuti safari wukuf.

Baca JugaAroma Indonesia di Balik Menu untuk Jemaah Haji

Untuk menguatkan jemaah anggota kloternya, termasuk Mbah Marsiyah, agar menjalani wukuf dengan gembira tanpa beban akibat keterbatasan fasilitas di tenda, Aniswatun mengajarkan doa sederhana kepada mereka. ”Setelah membaca shalawat tiga kali, bacalah dengan yakin akan dikabulkan: Ya Allah! Jadikan makananku sebagai tenaga, jadikan kencingku sebagai keringat atau peluhku, dan jadikan kentutku sebagai sendawa,” jelas pegawai Kementerian Agama Surabaya itu kepada jemaah kloternya.

Jumat lalu, Mbah Marsiyah sempat memuji seorang anggota PPIH, Nunuk, yang mengantarnya ke kamar hotel. Pujian itu disampaikan saat Nunuk akan berpamitan. “Cantiknya kamu, Nduk…,” ujarnya.

“Mbah Marsiyah dulu mudanya juga cantik, jadi kembang desa,” sahut Nunuk.

Mendengar hal itu, Mbah Marsiyah tertawa lepas…. 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Listrik di Pekanbaru Kembali Normal, Warga Harap Tak Terulang
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Bakal Ikut Konvoi, Dedi Mulyadi Beri Pesan Khusus ke Bobotoh Soal Perayaan Persib: Jangan Ada yang Aneh
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Soal Tembak Pelaku Begal di Tempat, Ini Respons Polisi
• 21 jam laluokezone.com
thumb
‎Bikin Anji Manji Bucin, Sahabat Ungkap Sosok Istri Sang Musisi yang Lembut
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Maurico sebut dirinya dan manajemen Persija tertarik lanjutkan kontrak
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.