Bisnis.com, PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mengimbau petani melakukan tanam serentak pada musim tanam kedua 2026 guna mengantisipasi serangan hama tikus.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengatakan pola tanam yang tidak serempak selama ini menjadi salah satu pemicu tingginya serangan tikus, terutama di kawasan pasang surut dan lahan rawa lebak.
Menurutnya, petani di wilayah pasang surut umumnya baru mulai menanam kembali pada April hingga Mei setelah panen musim pertama Oktober–Maret.
Namun, pertanaman dilakukan secara sporadis sehingga memicu perkembangan hama tikus saat memasuki masa panen Juni–Juli.
“Kalau tanamnya tidak dalam satu hamparan dan tidak serentak, maka tanaman yang lebih dulu tumbuh akan habis diserang tikus,” katanya saat ditemui, dikutip Jumat (22/5/2026).
Dia menjelaskan pemerintah kini mendorong gerakan tanam bersama melalui program Gerakan Tanam Menyongsong El Nino yang digelar serentak di 17 kabupaten/kota pada 19 Mei 2026.
Baca Juga
- Dukung Ketahanan Pangan, Petani Siak Terima Bantuan Alsintan Rp8,7 Miliar
- Pusri Jaga Distribusi Pupuk Lewat Penguatan Sinergi dengan Petani Jambi
Melalui program tersebut, petani mendapat dukungan benih padi, pupuk, alat mesin pertanian hingga pompa air untuk mendukung percepatan tanam di kawasan rawa dan cetak sawah baru.
Selain mendorong percepatan tanam, Dinas Pertanian Sumsel bersama Kementerian Pertanian juga menyiapkan langkah pengendalian hama tikus melalui pemantauan rutin oleh UPTD pertanian di daerah.
“Kita akan melakukan gerakan pengendalian tikus bersama Kementerian Pertanian agar tidak menjadi endemi pada Juni-Juli,” tuturnya.
Bambang menambahkan, luas tanam Sumsel juga ditargetkan mencapai 500.000 hektare hingga September 2026. Sasaran itu guna mendukung target produksi 4 juta ton gabah kering giling (GKG) tahun ini.
“Atau paling tidak produksi 2026 harus lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 3,6 juta ton GKG,” pungkasnya.




