Nenek Berusia 80 Tahun di Zhejiang, Tiongkok Masih Bekerja untuk Menafkahi Keluarga, Picu Perdebatan Hangat

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada 23 Mei 2026, media Zhejiang melaporkan bahwa seorang lansia berusia 80 tahun di Jiaxing, Zhejiang, masih bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan pertamanan dengan gaji bulanan sekitar 3.400 yuan. Ditambah uang pensiunnya, total pendapatan bulanannya mencapai 7.000 yuan.

Saat ini, lansia tersebut bertugas melakukan pekerjaan ringan sesuai kemampuannya di perusahaan itu. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa setelah pensiun ia merasa “bosan” jika hanya tinggal di rumah, sehingga memutuskan mencari pekerjaan paruh waktu. Sebagian besar uang yang diperolehnya diberikan untuk cicitnya, digunakan untuk biaya pendidikan dan kebutuhan hidup. Ia juga memegang prinsip: “Selama masih mampu bekerja, maka harus bekerja.”

Berita tersebut dengan cepat menyebar di internet dan memicu banyak komentar emosional dari netizen:

“Seorang lansia 80 tahun, usia yang seharusnya dirawat anak dan cucu, malah masih bekerja demi mereka. Ini sebenarnya kelanjutan kasih sayang keluarga atau justru pemindahan tekanan antar generasi?”

Ada juga yang berpendapat: “Ini mencerminkan fenomena aneh di masyarakat saat ini: banyak anak muda menganggur di rumah dan memilih rebahan, sementara para lansia justru aktif masuk ke persaingan kerja dan menjadi penopang utama ekonomi keluarga.”

Sebagian lainnya bertanya: “Ketika lansia secara sukarela masuk ke persaingan kerja demi membantu ekonomi keluarga, sementara anak muda yang seharusnya menjadi tulang punggung malah terpaksa memilih rebahan karena sulit mendapat pekerjaan, sebenarnya kesulitan hidup seperti apa yang sedang tercermin di zaman ini?”

Analisis: Lansia 80 Tahun Harus Membuktikan Diri “Masih Berguna”, Itu Sendiri Sudah Kejam

Komentator media independen “Shanshui Xianping” menulis bahwa kehidupan pensiun bagi orang berusia 80 tahun seharusnya diisi dengan berjalan-jalan di taman, berlatih tai chi, menjaga cucu, atau duduk menikmati matahari di panti jompo.

Namun nenek 80 tahun ini masih bekerja demi anak, cucu, dan cicitnya. Menurutnya, ini adalah “corong kekayaan” khas keluarga Tiongkok — uang selalu mengalir ke bawah, tidak pernah ke atas. Setiap sen yang dihemat generasi tua dengan susah payah akan terus mengalir kepada generasi berikutnya.

Artikel itu menyebut bahwa saat sang nenek berkata “uang ini untuk cicit saya”, mungkin ia masih tersenyum. Dalam budaya tradisional Tiongkok, mampu membantu keturunan dianggap sebagai bukti bahwa seseorang “masih berguna” dan memiliki martabat.

Namun justru di situlah masalahnya. Sebuah masyarakat yang membuat orang berusia 80 tahun harus membuktikan nilainya dengan cara “masih berguna”, pada dasarnya adalah sesuatu yang kejam. Martabat yang sesungguhnya adalah ketika seseorang di usia 70 atau 80 tahun bisa memilih untuk tidak bekerja — bukan terpaksa bekerja di usia yang seharusnya sudah beristirahat.

Artikel tersebut menekankan bahwa ini bukan sekadar pilihan pribadi sang nenek, melainkan kesulitan yang dihadapi satu generasi. Bayangkan, seorang nenek berusia 80 tahun masih memperoleh penghasilan 7.000 yuan per bulan dan tetap bekerja paruh waktu. Lalu apa yang dilakukan anak, cucu, dan cicitnya? Seberapa rendah pendapatan mereka hingga harus bergantung pada bantuan seorang leluhur berusia 80 tahun?

Dan ini bukan kasus tunggal. Di kota-kota kecil di Tiongkok, para lansia yang berjualan di pasar, memungut botol bekas di taman, atau menjaga parkiran sepeda di kompleks perumahan — uang pensiun, hasil jual sayur, atau pendapatan kecil mereka sering kali berubah menjadi uang susu cucu, biaya sekolah, atau uang muka rumah bagi keturunan mereka.

Anak Muda Menghadapi Krisis Pekerjaan

Berbeda tajam dengan para lansia yang aktif ikut “persaingan kerja”, generasi muda Tiongkok kini menghadapi kesulitan pekerjaan yang serius.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus memburuk. Banyak pabrik dan perusahaan tutup, sehingga situasi pekerjaan bagi anak muda makin suram. Ditambah persaingan industri yang semakin ketat, biaya hidup yang naik, serta tekanan harga rumah, pendidikan, dan biaya kesehatan, generasi muda menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Semakin banyak anak muda terjebak dalam kondisi “tidak bisa rebahan dengan tenang, tetapi juga tidak mampu terus bersaing”.

Universitas Renmin Tiongkok pernah merilis “Survei Perkembangan Pemuda Tiongkok” yang menunjukkan bahwa 28,5% anak muda hidup dalam kondisi “45 derajat” — istilah untuk keadaan “tidak sanggup terus bersaing, tetapi juga tidak bisa benar-benar menyerah”. Sementara yang benar-benar memilih “rebahan” hanya 12,8%. Sebanyak 58,7% anak muda masih berada dalam tekanan persaingan yang berat.

Presiden Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanghai, Liu Yuanchun, pernah memperingatkan dalam laporan gabungan bahwa masalah pengangguran pemuda di Tiongkok mungkin akan berlanjut hingga 10 tahun ke depan. Dalam jangka pendek, situasi diperkirakan terus memburuk. Jika tidak ditangani dengan baik, persoalan ini dapat memicu masalah sosial lain di luar bidang ekonomi, bahkan berpotensi menjadi pemicu masalah politik.

Laporan gabungan reporter Li Yun/Li Quan – NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dedi Mulyadi: Saya Lagi Panen Sapi, Pasti Ada Untungnya, Untungnya Saya Sumbangkan Rp1 Miliar untuk Persib
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Harga Emas Pegadaian Kembali Turun pada 24 Mei 2026, UBS Jadi Rp2,815 Juta per Gram
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Mahasiswa Makin Bergantung pada AI, Pendidikan Indonesia Siap?
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Persib pastikan hattrick juara usai imbang lawan Persijap
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Kisah Presiden RI dan Satu Dunia Kena "Prank" Gunung Emas 53 Juta Ton
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.