jpnn.com - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU KH. Macshoem Faqih merasa prihatin Iduladha 1447 Hijriah atau pada 2026 tahun ini hadir di tengah situasi dunia yang penuh ketegangan akibat perang, krisis kemanusiaan, dan tekanan ekonomi global.
"Saat gema takbir berkumandang, dunia justru sedang dipenuhi kabar tentang perang, ketegangan politik, dan krisis kemanusiaan yang belum juga reda,” ujar Gus Macshoem dalam refleksi Iduladha 2026, Minggu (24/5).
BACA JUGA: Panen Udang di Kebumen Hasilkan Rp 2,8 M Per Hektare, Prabowo: Sangat Menjanjikan
Dia mengatakan konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menciptakan ketidakpastian di dunia.
Konflik tersebut, kata Gus Macshoem, berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk naiknya harga kebutuhan pokok dan lemahnya rasa aman sosial.
BACA JUGA: Acara Peringatan 28 Tahun Reformasi Dibatalkan, Ubedilah Badrun: Tanda Pembungkaman
Namun, Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban itu mengingatkan momentum Iduladha menghidupkan kembali nilai kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan.
Gus Macshoem lantas mengungkit kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS terkait manusia bertawakal menghadapi ujian hidup yang berat.
BACA JUGA: Polisi Hentikan Kasus Kecelakaan WN Tiongkok yang Menewaskan Anggota TNI di Kepri
“Kesabaran yang diajarkan Iduladha bukan menyerah tanpa usaha, tetapi kemampuan menjaga arah hidup ketika keadaan terasa berat,” ujar dia.
Gus Macshoem juga mengatakan Iduladha mengajarkan ketaatan di tengah budaya instan yang mendorong manusia mengejar keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan nilai keluhuran.
"Kita melihat bagaimana perebutan kepentingan dan ambisi kekuasaan membuat dunia semakin gaduh, yang paling merasakan dampaknya justru masyarakat kecil,” lanjut dia.
Menurutnya, ujian ketaatan saat ini hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari godaan berbuat curang, mengabaikan tanggung jawab, hingga memilih keuntungan sesaat.
Menurutnya, semua umat bisa belajar dari pesan dalam perayaan Iduladha untuk tak mengedepankan ego pribadi.
"Inti Iduladha itu kesediaan mengorbankan ego demi kebaikan yang lebih besar,” ucapnya.
Dia mengatakan pengorbanan tidak selalu berbentuk hal besar, tetapi juga bisa diwujudkan melalui kepedulian sosial, membantu sesama, hingga menjaga perasaan orang lain di tengah kehidupan yang semakin keras.
Menurut Gus Macshoem, pembagian daging kurban menjadi simbol penting bahwa kebahagiaan tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus dirasakan bersama.
“Dunia hari ini mungkin tidak kekurangan orang pintar dan kuat, tetapi dunia sangat membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap tenang saat diuji, tetap jujur saat tergoda, dan tetap peduli ketika banyak orang sibuk dengan dirinya sendiri,” kata dia.(ast/jpnn)
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Aristo Setiawan




