Liputan6.com, Jakarta - Suasana haru dan senang menyelimuti Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Tempat yang biasanya hanya dipadati lalu lalang pengunjung atau penumpang itu tampal berbeda hari ini, menyusul kedatangan sembilan WNI yang sempat diculik tentara Israel dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla.
Di tengah penyambutan yang hangat dari keluarga dan kerabat, ada cerita tak terlupakan yang dialami WNI selama ditahan. Salah satunya Andre, seorang jurnalis Tempo yang turut bergabung dalam misi kemanusiaan tersebut. Nahas, kapal yang ditumpanginya menuju Palestina diintersepsi oleh tentara Israel di tengah perjalanan.
Advertisement
Andre bersama aktivis lainnya dibawa ke kapal penjara milik tentara Israel. Di tempat itulah, ia mengaku mengalami banyak penyiksaan.
"Saya disitu dimasukin ke kapal penjara, bukan kapal penjara besar. Terus abis itu saya mengalami banyak penyiksaan," ungkap Andre kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).
Kepada wartawan, Andre menunjukan bekas luka yang masih membekas di pergelangan tangan. Bekas tersebut yang menjadi bukti kekerasan yang dialaminya selama ditangkap oleh tentara Israel. Tangannya diikat dengan kabel ties, hingga diborgol secara paksa bersama para aktivis lainnya.
Penyiksaan yang alami aktivis tak berhenti sampai situ. Andre menuturkan, sejumlah aktivis yang berasal dari Eropa menjadi korban penembakan peluru oleh tentara Israel hanya untuk dibangunkan setiap pagi.
Sementara itu, Andre mengaku melakukan mogok makan (hunger strike) selama tiga hari sebagai bentuk protes. Namun, sebelum dipindahkan ke Penjara Ashdod bersama para aktivis lainnya, Andre mulai sedikit makan dan minum untuk memulihkan kondisinya saat di penjara.
"Sebelum saya dilempar ke Ashdod saya makan sedikit dan minum sedikit," ungkapnya.




