Tragedi MU5735:  Membedah 23 Detik Terakhir di Balik Dinding Keheningan

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada sore yang tenang, 21 Maret 2022, sebuah suara dentuman yang memekakkan telinga merobek kesunyian di pegunungan Desa Molang, Kabupaten Teng, Wuzhou. China Eastern Airlines dengan nomor penerbangan MU5735, sebuah Boeing 737-800 yang membawa 132 jiwa, terjun bebas dari ketinggian 8.900 meter dengan sudut yang hampir vertikal sebelum hancur menjadi kepingan di tanah. 

Benturan tersebut begitu dahsyat hingga menciptakan kawah sedalam 20 meter dan membuat seluruh pesawat hancur total, menyisakan hanya puing-puing hangus dan duka yang mendalam bagi keluarga korban.

Empat tahun telah berlalu, namun otoritas penerbangan Tiongkok (CAAC) tetap bungkam tanpa merilis laporan akhir investigasi. Namun, sebuah kebocoran data besar dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi (FOIA) akhirnya menyingkap tabir gelap yang selama ini ditutupi dengan alasan “keamanan nasional”. 

Laporan setebal 2.000 halaman data mentah tersebut kini menjadi dasar analisis yang mengejutkan: tragedi ini bukan disebabkan oleh kegagalan mesin, melainkan aksi sengaja dari dalam kokpit.

“Violent Push”: Detik-Detik Menuju Kematian

Data dari Flight Data Recorder (FDR) yang bocor mengungkap anomali teknis yang mustahil terjadi karena malfungsi sistem. Pada fase jelajah yang stabil, dua mesin pesawat tiba-tiba mati bukan karena kerusakan, melainkan karena intervensi manual.

Dalam data tersebut tercatat: “Dua sakelar kontrol bahan bakar mesin tiba-tiba dialihkan secara manual dari posisi run (berjalan) ke posisi cut-off (mati) hanya dalam waktu satu detik”. 

Para ahli penerbangan menekankan bahwa pada model Boeing 737, sakelar ini memiliki mekanisme pengunci yang mengharuskan pilot menariknya ke atas secara fisik sebelum bisa memutarnya. “Sangat tidak mungkin mesin mati sendiri; ini adalah tindakan manusia yang sangat spesifik,” ungkap Saluran YouTube 新聞最嘲點 Mr.姜光宇 (News Point)

Segera setelah pasokan bahan bakar terputus, sistem auto-pilot terlepas secara otomatis. Pada titik inilah terjadi aksi yang digambarkan sebagai “dorongan kasar” (violent push) pada kolom kemudi. Pesawat dipaksa menukik tajam secara vertikal. FDR berhenti merekam pada ketinggian 7.900 meter karena hilangnya daya listrik akibat matinya mesin, namun sisa 23 detik terakhir sebelum transmisi terputus menjadi bukti kunci bahwa pesawat diperintahkan untuk jatuh oleh seseorang di balik kemudi.

Luka di Balik Seragam: Rivalitas Guru dan Murid

Penyelidikan mendalam kini tertuju pada dinamika psikologis di dalam kokpit yang dihuni oleh tiga orang: Kapten Yang Hongda (32), Wakil Pilot Pertama Zhang Zhengping (59), dan Wakil Pilot Kedua Ni Gongtao (27).

Zhang Zhengping bukanlah pilot sembarangan. Ia adalah pilot senior dengan pengalaman lebih dari 40 tahun dan 30.000 jam terbang, yang dikenal luas sebagai “Instruktur Zhang”. Tragisnya, Kapten Yang Hongda yang memimpin penerbangan tersebut adalah mantan murid didikan Zhang sendiri.

Di usia senjanya, Zhang mengalami degradasi karier yang menyakitkan. Ia yang pernah menjabat sebagai Kepala Pilot di China Eastern Yunnan diturunkan pangkatnya menjadi wakil pilot pertama, kemungkinan besar karena kesalahan administratif atau gesekan dengan manajemen. “Siswa menjadi kapten, sementara gurunya menjadi wakilnya. Ada kesenjangan psikologis yang tak terkatakan di sini,” sebut laporan tersebut menggambarkan situasi di kokpit.

Penurunan pangkat ini berdampak drastis pada ekonominya. Gaji Zhang dilaporkan merosot dari 800.000 yuan per tahun menjadi hanya 200.000 yuan—sebuah pemangkasan sebesar 75 persen yang menghancurkan stabilitas finansialnya.

Tekanan Ekonomi dan Krisis Evergrande

Selain masalah karier, Zhang Zhengping diduga terjerat dalam krisis finansial yang melanda Tiongkok. Muncul laporan bahwa Zhang menginvestasikan seluruh tabungan hidupnya ke dalam produk keuangan yang terkait dengan raksasa properti Evergrande, yang meledak dan gagal bayar pada tahun 2021.

“Seorang pria berusia 60 tahun yang melihat tabungan seumur hidupnya lenyap seketika akibat kegagalan investasi, ditambah penghinaan profesional di tempat kerja, menghadapi tekanan mental yang luar biasa,” demikian analisis mengenai kondisi psikis Zhang sebelum penerbangan maut tersebut. Tekanan ini diduga memicu apa yang disebut sebagai “balas dendam yang bersifat bunuh diri” terhadap sistem yang dianggapnya tidak adil.

Pergulatan Terakhir di Ketinggian 20.000 Kaki

Ada dua versi mengenai apa yang terjadi di dalam kokpit selama detik-detik jatuh. Versi pertama menyebutkan bahwa Zhang mungkin menggunakan dalih meminta kopi untuk membuat Kapten Yang keluar dari kokpit, lalu mengunci pintu dan memulai manuver mautnya.

Namun, versi kedua yang didukung oleh data FDR menunjukkan adanya “input kontrol yang saling berlawanan”. Pada ketinggian sekitar 20.000 kaki, sempat ada tanda-tanda pesawat mencoba untuk mendatar (level flight) sejenak. Ini mengindikasikan adanya pergulatan fisik di kokpit. Sementara satu orang (diduga Zhang) mendorong kemudi sekuat tenaga ke bawah, orang lain (diduga Yang) berusaha menariknya ke atas untuk menyelamatkan pesawat.

Seorang konsultan teknis NTSB mencatat bahwa setelah bahan bakar diputus dan pesawat meluncur dengan kecepatan mendekati kecepatan suara dalam posisi menukik, peluang untuk pemulihan sangatlah tipis. “Dibutuhkan ruang dan waktu yang sangat besar untuk menghidupkan kembali mesin dan mengangkat hidung pesawat dalam kondisi seperti itu,” jelasnya. Perlawanan Kapten Yang sayangnya sudah terlambat.

Sensor dan “Stabilitas Sosial”

Sikap diam pemerintah Tiongkok selama empat tahun terakhir menuai kritik internasional. Pada tahun 2025, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mulai mempertanyakan keterlambatan laporan akhir CAAC. Jawaban resmi dari otoritas Tiongkok tetap konsisten: mengungkap kebenaran dapat “membahayakan keamanan nasional dan stabilitas sosial”.

Para pengamat menilai bahwa Tiongkok sangat takut jika masyarakat mengetahui bahwa seorang pilot senior memilih untuk menghancurkan diri dan 131 orang lainnya karena kemarahan terhadap ketidakadilan sistemik dan kerugian ekonomi akibat kebijakan negara. Kasus MU5735 dianggap sebagai refleksi dari “tekanan tinggi” di dalam masyarakat Tiongkok yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Meskipun rekaman suara kokpit (CVR) merekam setiap teriakan dan percakapan terakhir dengan jelas berkat baterai cadangannya, data audio tersebut tetap menjadi rahasia negara di tangan Beijing. Tanpa transparansi penuh, tragedi MU5735 akan terus menjadi luka terbuka dan pengingat kelam bahwa di balik kecanggihan teknologi penerbangan, faktor manusia tetaplah yang paling rapuh. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi pastikan dugaan prostitusi anak libatkan WNA di Jakbar adalah hoaks
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Bandung Membiru! Tom Haye-Marc Klok Pimpin Aksi Koreo Bobotoh saat Konvoi Juara
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Timwas Haji DPR Sidak Dapur Ketering di Makkah, Jaraknya 12 Km dari Hotel Jemaah
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Cerita Relawan Global Sumud Flotilla Saat Dievakuasi Turki Usai Ditangkap Israel
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Penggunaan Rudal Oreshnik Jadi Bukti Rusia Mulai Kehabisan Jalan di Ukraina, Kata Prancis
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.