Catur Besar Global 2026: Di Balik Tirai Beijing dan Strategi “Cekikan” Maritim AS

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia– Pukul 20.03 waktu Beijing, 13 Mei 2026, dunia menyaksikan sebuah fragmen sejarah yang kontradiktif. Di landasan pacu Bandara Internasional Ibu Kota Beijing, karpet merah dibentangkan lebar-lebar untuk menyambut Donald Trump. Namun, di saat yang sama, ribuan mil jauhnya di Selat Gibraltar, Selat Malaka, hingga pesisir Afrika, mesin perang dan diplomasi Amerika Serikat sedang bekerja dalam kesenyapan untuk satu tujuan: mengunci jalur nadi ekonomi Tiongkok.

Skizofrenia Politik di Karpet Merah

Kunjungan Trump ke Beijing disambut dengan kemegahan yang hampir melampaui protokol kenegaraan biasa. Barisan kehormatan tiga angkatan bersenjata Tiongkok berdiri tegak di bawah temaram lampu malam, sementara ratusan pemuda mengibarkan bendera. Namun, sebuah insiden ganjil terjadi. Tepat saat Trump hendak melangkah turun dari Air Force One, media pemerintah Global Times (Huanqiu Wang) tiba-tiba memutus siaran langsung domestiknya.

Jiang Feng, pengamat politik dalam kanal YouTube 江峰·視界 (Jiang Feng Shijie), menyebut fenomena ini sebagai bentuk ketakutan akut rezim akan realitas.

“Di satu sisi, melalui kanal bahasa Inggris, para pakar Tiongkok memohon kerja sama dengan nada yang sangat rendah hati kepada dunia. Namun di sisi lain, siaran dalam negeri diputus total karena Beijing tidak berani memperlihatkan kepada rakyatnya betapa tunduknya pejabat tinggi mereka di hadapan pemimpin Amerika,” ujar Jiang Feng dalam laporannya.

Sensor ini dilakukan untuk menjaga narasi “Serigala Pejuang” (Wolf Warrior) agar tidak runtuh di mata publik domestik, meski secara diplomatik Tiongkok sedang berada di posisi tawar yang sangat lemah.

Diplomasi “Pintu Belakang” di Incheon

Ketidakhadiran He Lifeng, arsitek ekonomi Tiongkok, dalam upacara penyambutan di Beijing terjawab melalui laporan intelijen terbuka. Ia diketahui berada di ruang VIP Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan, melakukan negosiasi darurat selama tiga jam dengan Menteri Keuangan AS sebelum pesawat Trump mendarat di Beijing.

Jiang Feng mendeskripsikan pertemuan ini sebagai “serah terima di pasar gelap” (black market delivery).

“Ini adalah tragedi rezim diktator; wajah (prestise) dipertahankan di bawah lampu malam Beijing, tetapi ‘isi perut’ (konsesi ekonomi) telah dikuras habis di ruang rahasia Incheon bahkan sebelum Trump mendarat,” papar Jiang Feng.

Di Beijing, Trump tidak datang sekadar dengan diplomat, tetapi dengan “Dewa Kematian Teknologi”: Elon Musk dan Jensen Huang. Kehadiran Musk dengan Starlink-nya dan Huang dengan dominasi AI NVIDIA mengirimkan pesan jelas bahwa Amerika memegang kunci saraf masa depan Tiongkok.

Zhongnanhai: Rezim “Zombie” dan Transisi Kekuasaan

Laporan Jiang Feng juga mengungkap keretakan di jantung kekuasaan Zhongnanhai. Xi Jinping digambarkan sebagai “zombie politik” yang secara de facto telah kehilangan kendali militer kepada faksi reformis yang dipimpin oleh Liu Yuan dan para tetua partai. Xi dibiarkan berada di baris depan karpet merah sebagai “kambing hitam” untuk menandatangani perjanjian-perjanjian yang dianggap merugikan kedaulatan ekonomi Tiongkok di masa depan.

Strategi “Unilateral” AS: Mengunci Titik Didih Dunia

Namun, narasi besar bukan hanya terjadi di Beijing. Kanal YouTube 天高海闊 (Tian Gao Hai Kuo) mengungkapkan bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump sedang menjalankan strategi penguasaan jalur maritim secara unilateral, melepaskan ketergantungan pada sekutu lama yang dianggap tidak lagi sejalan.

Latihan militer “Africa 2026” di Maroko yang melibatkan 5.000 personel menjadi sinyal kuat. AS kini membangun aliansi militer baru dengan Maroko untuk mengontrol Selat Gibraltar secara mandiri, tanpa bergantung lagi pada Inggris dan pangkalan Gibraltar mereka.

“AS memberi tahu orang Inggris bahwa mereka tidak lagi memerlukan kerja sama mereka. AS telah mencapai kesepakatan dengan Maroko… sehingga pengendalian Selat Gibraltar dapat dilakukan oleh kekuatan AS sendiri secara sepihak,” ungkap narator kanal 天高海闊.

Selat Malaka dan Ancaman di Bawah Laut

Di Asia Tenggara, AS mempererat cengkeraman di Selat Malaka dan Selat Lombok melalui kerja sama militer dengan Indonesia. Pada 14 April 2026, kesepakatan modernisasi militer ditandatangani untuk meningkatkan kehadiran fisik AS di jalur yang sangat krusial bagi Tiongkok ini.

Tiongkok sangat bergantung pada Selat Malaka, di mana 80% energi mereka mengalir melalui jalur tersebut.

“Ketika Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk mengendalikan Selat Malaka… jika hubungan diplomatik kedua belah pihak pecah, kendali AS akan menghasilkan strategi yang sangat kuat terhadap Tiongkok,” jelas laporan tersebut.

Ketegangan ini diperparah dengan penemuan pesawat bawah laut (UUV) tak berawak buatan Tiongkok di perairan Indonesia, yang memicu kewaspadaan tinggi di Jakarta dan mempercepat aliansi militer dengan Washington dan Canberra.

Somaliland: Pangkalan Baru di “Gerbang Air”

Langkah paling berani adalah upaya AS untuk mengakui kedaulatan Somaliland guna membangun pangkalan udara dan laut di Berbera. Langkah ini bertujuan untuk mengontrol Selat Bab el-Mandeb dan menjauhkan pengaruh dari Djibouti, di mana Tiongkok juga memiliki pangkalan militer.

Somaliland menawarkan pelabuhan air dalam dan landasan pacu terpanjang di Afrika (bekas fasilitas NASA) yang siap digunakan tanpa perlu pembangunan infrastruktur dasar yang besar. Dengan mengakui Somaliland, AS tidak hanya mengamankan jalur minyak global, tetapi juga secara efektif “mengepung” aset strategis Tiongkok di Tanduk Afrika.

Kesimpulan: Menuju Ketidakpastian Global

Dunia di tahun 2026 tidak lagi digerakkan oleh diplomasi multilateral yang manis, melainkan oleh penguasaan titik-titik mati (choke points) strategis. Dari karpet merah Beijing yang penuh kepura-puraan hingga pangkalan militer sunyi di Somaliland, Amerika Serikat sedang menggambar ulang peta kekuatan dunia.“Dari aksi strategis Amerika Serikat ini, tampaknya mereka telah membuat penilaian tentang apakah dunia akan damai di masa depan. Sayangnya, hubungan internasional di masa depan tidak akan tenang,” tutup laporan dari kanal 天高海闊 .


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Jabar Pastikan Sistem SPMB Sekolah Maung Siap, Pendaftaran Dibuka Besok 25 Mei
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Sastra Indonesia FIB Unhas PKM di SMAN 9 Gowa, Latih Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Manfaatkan Teknologi Digital dalam Pembelajaran
• 7 jam laluharianfajar
thumb
PLN Watch Ajak Masyarakat Dukung Pemulihan Sistem Listrik usai Blackout di Sumatera
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Kemenko PMK: Gempa Yogya 2006 Jangan Hanya Dikenang Sebagai Tragedi Tapi Harus Jadi Pelajaran
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
PHE Gandeng Exxon dan Korea Selatan Garap Proyek CCS Raksasa
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.