Jurnalis Relawan GSF: Saya Menyaksikan Langsung, Penyiksaan itu Benar Nyata

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) akhirnya tiba di Indonesia pada Minggu (24/5) sore, setelah sebelumnya sempat ditahan saat berlayar menuju Gaza.

Setiba di Indonesia, relawan ini bercerita pengalaman pedih saat berada di tahanan Israel. Sebab, penahanan diwarnai kekerasan fisik dan perlakuan tak manusiawi.

Salah satu relawan yang ditangkap Israel, Thoudy Badai, yang merupakan jurnalis Republika bercerita pengalamannya saat berada dalam tahanan. Sebagai jurnalis, ia menyampaikan fakta bahwa penyiksaan di tahanan Israel itu benar-benar nyata ia alami.

“Artinya ini bukan cerita tentang saya, ini bukan cerita tentang teman-teman yang lain, apa yang saya lakukan adalah bagian dari profesionalisme seorang jurnalis untuk memberikan kabar fakta bahwa situasi, saya mengalami secara langsung situasi di tahanan itu seperti apa,” ujarnya saat tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Minggu (24/5).

Ia juga menekankan bahwa pengalaman tersebut bukan untuk dirinya pribadi, melainkan untuk menyuarakan kondisi rakyat Palestina.

“Artinya cerita ini bukan cerita untuk kami tapi ini cerita untuk orang-orang Palestina. Saya harap suara-suara Palestina itu tidak pernah berhenti redup, api kemanusiaan itu tidak pernah padam,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial terkait dugaan relawan disuruh merangkak hingga penyiksaan, memang benar terjadi.

“Benar. Benar adanya dan bahkan dari penyiksaannya itu nggak main-main,” katanya.

Ia juga mengaku mengalami langsung tekanan fisik selama penahanan.

“Ya, berusaha untuk tegar terus sih. Bagaimanapun kondisinya, perasaan-perasaan itu ada tapi tentu yang saya pikirkan selama ditahanan itu toh ketika saya, karena saya berangkat ke sana sebagai seorang jurnalis media, artinya saya mendapatkan fakta sebenarnya bahwa situasinya bener seperti ini, penyiksaan dan lain-lain itu bener-bener nyata,” ujarnya.

Diwarnai dengan penyiksaan dan intimidasi, Thoudy terus berusaha tenang untuk menjaga kewarasannya.

“Jadi saya berusaha untuk membuat hati tenang, berusaha untuk tidak terlalu panik gitu, dan menanti terus hari demi hari,” katanya.

Meski begitu, ia masih menyerukan agar perjuangan menyuarakan nasib Palestina tak redup. Setiap bentuk dukungan terhadap Palestina, sekecil apa pun, memiliki makna.

“Jadi jangan pernah berkecil hati teman-teman bisa bersuara dengan jari-jari teman-teman di media sosial atau dengan tindakan, dengan donasi dan lain-lain itu silakan. Itu sama martabatnya. Ketika teman-teman ada di pihak yang terjajah, di pihak yang tertindas artinya teman-teman masih punya hati. Itu sih. Jadi lakukan saja apa yang teman-teman ingin lakukan terhadap Palestina, dukung sekecil apa pun bahkan hanya berdoa pun itu adalah sikap teman-teman untuk berpihak terhadap Palestina,” lanjutnya.

Rasa Lega Sang Ibu: Saya akhirnya lega bisa melihat langsung kondisi anak saya

Sementara itu, ibu kandung Thoudy, Hany Hanifa Humanisa, mengaku sempat diliputi kecemasan sejak mendengar kabar penahanan putranya dalam misi kemanusiaan tersebut.

Namun ia kini merasa lega setelah akhirnya dapat bertemu langsung dan memastikan kondisi anaknya dalam keadaan selamat.

“Udah ngerasa seratus persen yakin bahwa Odi (panggilan akrab Thoudy) selamat. Saya sudah bisa menyentuh wajahnya ya, berpegangan wajahnya, berpelukan,” ujarnya saat ditemui usai menyambut kedatangan anaknya.

Ia menuturkan bahwa sejak awal telah mengetahui risiko tinggi dari misi tersebut, termasuk kemungkinan ditangkap.

“Sebenarnya informasi tentang ini kan udah di-sounding ya sebelumnya bahwa risiko paling tinggi adalah ditangkap. Waktu itu, waktu ada berita itu sebenarnya saya tinggal menunggu waktu saja kapan Odi akan ditangkap, kapan Odi akan ditangkap gitu ya,” katanya.

Meski demikian, ia tetap merasakan keterkejutan saat kabar penahanan datang.

“Pas waktu dapet kabar itu tetep aja ya kaget, sedih udah nggak bisa apa-apa apalagi waktu itu saya di sana lagi bangun sendiri karena udah malam gitu. Jadi bener-bener apa ya yang harus saya lakukan gitu ya,” ujarnya.

Ia menggambarkan kondisi sebagai seorang ibu yang hanya bisa menunggu tanpa akses komunikasi.

“Artinya bukan mempersiapkan ya, tapi kita udah tahu gitu. Kemudian saya ya seperti ibu-ibu yang lain mungkin, orang tua yang lain saya khawatir, takut gitu ya terus bertanya-tanya juga gimana nasib anak saya selanjutnya gitu. Berdoa hanya itu yang bisa saya lakukan karena saya nggak punya akses ya saya mau menghubungi siapa gitu,” katanya.

Namun rasa lega akhirnya muncul setelah ia bisa bertemu langsung dengan anaknya.

“Tapi setelah ini saya lega sekali ya, udah ketemu sama Odi, bisa bersentuhan langsung, bisa menyentuh wajahnya,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penyebab Kecelakaan Mobil yang Ditumpangi Anggota DPR dari PKB Gus Hilman, Sopir Diduga Mengantuk
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
7 Tanda Rumah yang Menjadi Tempat Bersarang Ular
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Telur Ayam Vs Bebek, Mana yang Paling Baik Dikonsumsi?
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Begini Detik-detik Pemain Timnas Kehilangan Ponsel Saat Konvoi Juara Persib Bandung, Bobotoh Langsung Lakukan Ini
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
13 Orang Ditangkap karena Berusaha Masuk Makkah Secara Ilegal dan Penipuan Haji
• 16 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.