IHSG Pekan Pendek: Danantara, China dan Inflasi AS Jadi Fokus

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar keuangan domestik memasuki pekan yang pendek. Bursa hanya aktif beberapa hari sebelum libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada 27-28 Mei 2026. Volume transaksi biasanya menyusut dalam situasi seperti ini.

Namun ruang gerak pasar tetap sempit untuk disebut tenang. Ada serangkaian agenda global yang datang hampir bersamaan dengan perubahan besar tata kelola ekspor komoditas Indonesia.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada langkah pemerintah yang mulai memfinalisasi operasional PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Entitas BUMN khusus ekspor itu akan menjadi pintu utama ekspor sawit dan batu bara mulai 1 September 2026. Pemerintah bahkan sudah menyiapkan aturan transisi sejak Juni hingga akhir Agustus.

Pasar sedang mencoba membaca arah kebijakan tersebut. Investor komoditas akan menghitung ulang jalur ekspor, distribusi hak ekspor, hingga dampaknya terhadap arus perdagangan batu bara dan CPO nasional. Emiten batu bara dan sawit pun berpotensi bergerak lebih sensitif dalam beberapa sesi mendatang.

Danantara DSI Jadi Sorotan Baru Pasar

Kementerian Perdagangan memastikan Permendag teknis akan segera terbit sebagai turunan dari PP Tata Kelola Ekspor SDA. Dalam masa transisi, ekspor tetap berjalan menggunakan izin eksportir lama, namun aktivitas ekspor dilakukan atas nama PT DSI. Mulai September, ekspor hanya dapat dilakukan BUMN ekspor yang memiliki hak ekspor hasil DMO maupun pengalihan hak eksportir pelaku usaha.

Bagi pasar, isu ini jauh lebih besar dibanding perubahan administrasi biasa. Indonesia sedang mengubah struktur distribusi ekspor komoditas strategis. Dampaknya dapat merambat ke harga acuan, arus dolar hasil ekspor, posisi tawar Indonesia di pasar global, sampai margin perusahaan sektor energi dan perkebunan.

Saham batu bara dan CPO diperkirakan menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap perkembangan aturan ini. Investor akan mulai memilah emiten yang memiliki eksposur ekspor besar dan ketergantungan tinggi terhadap jalur distribusi lama.

Inflasi AS Kembali Menghantui Pasar

Sentimen domestik itu datang di tengah pasar global yang kembali sensitif terhadap inflasi Amerika Serikat. Pekan depan investor menunggu data Core PCE AS periode April yang akan dirilis Kamis malam waktu Indonesia. Angka ini menjadi indikator inflasi favorit bank sentral AS atau The Federal Reserve.

Core PCE bulan sebelumnya berada di level 0,3% secara bulanan. Pasar ingin melihat apakah tekanan harga mulai melandai atau tetap tinggi setelah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.

Pilihan Redaksi
  • Purbaya Blak-Blakan: dari Ide Lahirnya Badan Ekspor - Rupiah Rp15.000
  • Purbaya Pede IHSG Bisa 8.000, Bakal Lari Kencang Minggu Depan!
  • 20 Tahun Rekor Terburuk! IHSG Jadi Bursa Saham Paling Lemah di Dunia

Data tersebut akan langsung mempengaruhi arah dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Dua instrumen itu masih menjadi kompas utama aliran modal asing di emerging market, termasuk Indonesia.

Jika inflasi kembali panas, peluang pemangkasan suku bunga The Fed berpotensi mundur. Situasi seperti itu biasanya menekan aset berisiko. Rupiah dapat kembali tertekan dan investor asing cenderung menahan ekspansi di pasar saham domestik.

Ekonomi AS Masih Bertahan

Pada hari yang sama, pasar juga akan memantau revisi kedua pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026. Sebelumnya ekonomi AS tumbuh 2,0% secara tahunan, naik dari 0,5% pada kuartal sebelumnya. Konsumsi rumah tangga mulai melambat, namun investasi bisnis melonjak tajam didorong belanja teknologi dan kecerdasan buatan.

Data ekonomi AS lain yang ikut dipantau adalah personal income dan personal spending. Pendapatan masyarakat AS naik 0,6% pada Maret, sementara belanja masyarakat melonjak 0,9%.

Kondisi ini membuat pasar belum sepenuhnya yakin inflasi AS akan cepat turun. Konsumsi yang tetap kuat berpotensi menjaga tekanan harga dalam beberapa bulan mendatang.

China Jadi Penopang Sentimen Komoditas

Dari Asia, China kembali menjadi pusat perhatian pasar komoditas. Minggu depan investor menunggu data PMI manufaktur resmi NBS dan PMI manufaktur Caixin/RatingDog.

PMI manufaktur resmi China sebelumnya berada di level 50,3. Angka itu masih menandakan ekspansi walau lajunya mulai melunak. Sementara PMI manufaktur versi swasta melonjak ke 52,2, tertinggi sejak akhir 2020.

Ada detail yang diperhatikan pelaku pasar komoditas: harga input pabrik China naik tajam akibat gangguan rantai pasok dan kenaikan harga minyak. Aktivitas pembelian bahan baku juga meningkat.

Permintaan industri China yang tetap kuat menjadi penyangga penting bagi batu bara, nikel, tembaga, hingga CPO Indonesia.

Pasar juga akan melihat data ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat pada awal Juni. Angka sebelumnya bertahan di 52,7, tertinggi sejak 2022. Namun tekanan biaya produksi mulai naik akibat lonjakan harga energi selama konflik Iran.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Antre Panjang! Ini Momen Bansos Beras 40 Kilogram & Minyak Goreng Dibagikan ke Warga Cilegon
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Warga Malaysia Pilih Ikut RI, Janji Setia Cinta Tanah Air
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jamaah Haji Asal Jambi Wafat di Makkah akibat Gangguan Jantung dan Krisis Tiroid
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Sinopsis Drama Korea Recipe for Love, Kisah Dendam Keluarga yang Luluh oleh Cinta
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Polisi Bongkar Fakta di Balik Viral Prostitusi Anak WNA Jepang
• 55 menit laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.