Viral! Wanita Papua Ini Kecewa Wajahnya Muncul di Film Pesta Babi Tanpa Izin

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kontroversi kembali menyelimuti film dokumenter Pesta Babi setelah seorang perempuan adat asal Papua Selatan mengaku keberatan karena wajah dan suaranya ditampilkan tanpa persetujuan yang jelas. Pengakuan tersebut kini menjadi perbincangan luas di media sosial dan memicu perdebatan soal etika produksi film dokumenter yang mengangkat isu masyarakat adat.

Sosok perempuan tersebut adalah Yasinta Moiwen, warga Distrik Ilwayab, Kampung Wogekel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Perempuan berusia 61 tahun itu mengungkapkan rasa kecewanya setelah mengetahui dirinya muncul dalam film dokumenter Pesta Babi yang telah diputar di Jayapura. Scroll lebih lanjut yuk!

Baca Juga :
Pengakuan Mama Sinta soal Film Pesta Babi hingga Food Estate di Papua
Film Pesta Babi Kini Bisa Ditonton Gratis di Youtube, Sudah Lebih dari 4 Juta Penayangan!

Kekecewaan Yasinta mencuat lewat sebuah video wawancara singkat yang viral di platform X. Dalam video tersebut, ia mengaku sama sekali tidak mengetahui bahwa rekaman dirinya akan digunakan dalam proyek dokumenter tersebut.

"Itu tanpa izin dari saya, tanpa pengetahuan dari saya. Saya kaget waktu di Jayapura mereka putar, nama saya ditampilkan di depan," ujar Yasinta, dikutip dari video X @neVerAl0nely__, Senin 25 Mei 2026.

Pernyataan itu langsung menarik perhatian publik karena menyangkut hak privasi dan persetujuan individu dalam proses produksi dokumenter. Banyak warganet mempertanyakan apakah pihak pembuat film telah menjalankan prosedur etis sebelum menampilkan identitas masyarakat adat dalam karya mereka.

Yasinta juga mempertanyakan perlakuan yang ia rasakan selama keterlibatannya dengan pihak pendamping maupun pembuat film.

"Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat yang ditampilkan tanpa pengetahuan saya, tanpa izin dari saya? Jadi saya kecewa di situ sudah, sampai sekarang ini," lanjutnya.

Film Pesta Babi sendiri dikenal sebagai dokumenter investigatif yang menyoroti dampak sosial serta lingkungan dari proyek food estate dan pembukaan lahan berskala besar di Papua Selatan. Judul film tersebut diambil dari tradisi adat bakar batu atau pesta babi yang selama ini menjadi simbol persatuan, ketahanan pangan lokal, dan identitas budaya masyarakat Papua.

Namun di balik isu besar yang diangkat film itu, Yasinta menegaskan dirinya tidak pernah merasa diwawancarai secara resmi untuk kebutuhan dokumenter tersebut.

Baca Juga :
Publik Diminta Tak Sederhanakan Pembangunan Papua dari Satu Sudut Pandang
Horor hingga Drama Korea Mendominasi Mei 2026, The Mummy Versi Baru Jadi Sorotan
Hal Ini jadi Sorotan Tokoh Masyarakat Sipil Usai Nobar Film Pesta Babi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kisah Inspiratif Cahaya Manthovani Menjadi Entrepreneur Muda Kreatif 
• 17 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Profil Timnas Uruguay di Piala Dunia 2026: Tinggalkan Era Suarez dan Edinson Cavani
• 2 menit laluviva.co.id
thumb
Kondisi Terkini Anggota DPR Gus Hilman Usai Kecelakaan di Tol Paspro
• 17 jam laludetik.com
thumb
Beraksi di Medsos, Dua Pengedar Tembakau Sintetis Jaktim Ditangkap
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Sugiono Murka Usai 9 WNI Relawan Gaza Dipulangkan: Israel Langgar Hukum Internasional!
• 9 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.