HARIAN FAJAR, KUALA LUMPUR — Ilmuwan Indonesia, Taruna Ikrar, kembali mencatatkan jejak penting di panggung sains global. Di tengah penerbangan dari Malaysia menuju Jakarta, ia secara simbolis meluncurkan buku terbarunya berjudul Advanced Cell & Gene Therapy: Towards a New Era of Pharmacology Medicine.
Peluncuran unik yang dilakukan di atas pesawat itu berlangsung tak lama setelah Taruna Ikrar dikukuhkan sebagai Profesor Kehormatan oleh Universiti Teknologi Malaysia. Pada ketinggian sekitar 40 ribu kaki, langit antara Malaysia dan Indonesia menjadi saksi lahirnya karya ilmiah yang menegaskan kiprah ilmuwan Tanah Air di kancah farmakologi dan bioteknologi kesehatan dunia.
Momentum tersebut dimaknai sebagai simbol bahwa karya ilmiah Indonesia kini tak lagi terbatas pada ruang akademik nasional, melainkan telah ikut mewarnai percakapan global tentang terapi sel, terapi gen, dan masa depan pengobatan modern.
Suasana peluncuran berlangsung sederhana namun sarat makna, mencerminkan dedikasi Taruna Ikrar terhadap ilmu pengetahuan di tengah padatnya agenda internasional dan tanggung jawab besarnya sebagai Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Salah seorang penumpang berkewarganegaraan Belanda yang turut menyaksikan momen tersebut menilai peluncuran buku ini terasa semakin istimewa karena dihadiri keluarga inti, termasuk sang istri dr. Elfie Ikrar, anak-anak, serta sahabat dekat. Kehadiran keluarga memberikan nuansa humanis di balik capaian akademik kelas dunia yang diraih Taruna Ikrar.
Dari kalangan pelaku usaha, Elsyeida Napitupulu menyampaikan bahwa Taruna Ikrar tidak hanya dikenal sebagai regulator dan ilmuwan, tetapi juga sosok panutan bagi industri kesehatan nasional. Menurutnya, kepemimpinan Taruna Ikrar menegaskan pentingnya sinergi konsep ABG (Academic, Business, Government) dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan Indonesia.
Penilaian serupa disampaikan Hj Nor Andi Arina Wati Arsyad, Staf Khusus Kepala BPOM RI. Ia menilai konsep ABG yang terus digaungkan Taruna Ikrar menjadi fondasi penting dalam mempercepat pengembangan riset, industri farmasi nasional, hingga teknologi kesehatan masa depan berbasis bioteknologi dan terapi presisi.
Secara akademik, karya-karya Taruna Ikrar juga mendapat pengakuan luas di tingkat internasional. Ia tercatat memiliki lebih dari 1.700 sitasi ilmiah, dengan H-Index Google Scholar 24 dan H-Index Scopus 17. Di bawah kepemimpinannya, BPOM RI berhasil meraih status WHO Listed Authorities (WLA), menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju dalam sistem pengawasan obat dan makanan.
Menutup momentum tersebut, Taruna Ikrar menegaskan bahwa sains harus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Sains tidak boleh berhenti di laboratorium atau sekadar menjadi arsip jurnal. Keberhasilan tertinggi seorang ilmuwan adalah ketika inovasi riset mampu diwujudkan menjadi terapi klinis yang menyelamatkan nyawa manusia serta melahirkan kebijakan publik yang melindungi kesehatan bangsa,” ujarnya. (*)





