AS dan Iran Beri Sinyal Kemajuan Negosiasi Damai, Belum Sepakat Soal Uranium

katadata.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Amerika Serikat (AS) dan Iran mengisyaratkan kemajuan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang, tetapi kedua pihak yang bertikai tetap berselisih mengenai persediaan uranium yang diperkaya milik Teheran dan pungutan di Selat Hormuz yang merupakan jalur minyak strategis.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan ada "tanda-tanda baik" kesepakatan untuk mengakhiri konflik sudah di depan mata. Namun, ia memperingatkan kesepakatan semacam itu akan "tidak layak" jika Iran mengejar langkah-langkah untuk secara permanen mengendalikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

“Tidak seorang pun di dunia yang mendukung sistem pungutan. Itu tidak mungkin terjadi [dan] itu tidak dapat diterima,” kata Rubio kepada wartawan di Miami, pada Kamis (21/5).

“Jika kita tidak bisa mendapatkan kesepakatan yang baik, presiden telah menjelaskan bahwa dia memiliki pilihan lain,” kata Rubio, seperti dikutip CNBC.

Hal ini terjadi tak lama setelah Iran mengatakan proposal terbaru dari AS telah membawa kedua pihak yang bertikai lebih dekat ke kesepakatan perdamaian. Republik Islam Iran saat ini sedang dalam proses meninjau pandangan pihak Amerika, dengan pertukaran pesan yang berkelanjutan berdasarkan kerangka kerja 14 poin asli Iran dari beberapa minggu lalu.

Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), media semi-resmi, melaporkan proposal terbaru yang diajukan oleh AS telah mempersempit kesenjangan sampai batas tertentu.

Sistem Pembayaran di Selat Hormuz

Perundingan untuk mengakhiri perang Iran menunjukkan sedikit kemajuan dalam beberapa pekan terakhir, dengan kedua pihak terkunci dalam gencatan senjata yang tidak stabil, sementara Teheran memblokir Selat Hormuz dan Washington memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Ditanya tentang laporan diskusi antara Iran dan Oman, sekutu AS, mengenai potensi kedua negara untuk berkolaborasi dalam membangun sistem pembayaran untuk mengendalikan lalu lintas melalui Selat Hormuz, Presiden AS Donald Trump menolak inisiatif tersebut. Trump mengatakan pemerintahannya memiliki "kendali penuh" atas jalur air tersebut.

“Kami ingin jalur air itu terbuka. Kami ingin jalur air itu bebas. Kami tidak menginginkan pungutan tol. Ini jalur air internasional. Ini jalur air internasional,” kata Trump kepada wartawan pada hari Kamis (21/5).

Selat Hormuz yang terletak di teluk antara Oman dan Iran diakui sebagai salah satu titik rawan minyak terpenting di dunia. Sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz, tetapi lalu lintas pengiriman praktis terhenti sejak serangan yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.

Persediaan Uranium

Presiden Trump juga berjanji untuk mengambil kembali persediaan uranium yang diperkaya milik Iran. Masalah ini telah menjadi hambatan utama selama negosiasi. Washington mendesak Teheran untuk menyerahkan uranium yang diperkaya, karena khawatir uranium tersebut mungkin ditujukan untuk senjata nuklir.

Iran menolak seruan tersebut dan mengatakan persediaannya ditujukan untuk tujuan damai. Reuters melaporkan, Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan seruan bahwa uranium tingkat mendekati senjata nuklir di negara itu tidak boleh dikirim ke luar negeri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Alasan PLN Padamkan lagi Listrik Sumatra pada Minggu Malam: Beban Magrib Naik
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Buyback Emas Antam Hari Ini Senin 25 Mei 2026 & Besaran Pajaknya
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
BTN Banting Harga 10.000 Unit Hunian 40 Persen di Bawah Harga Pasar, Begini Cara Dapatnya
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
SMAN 2 Sidrap Juara LKBB-PB MPR RI Sulsel 2026 dan Melaju ke Final Nasional di Jakarta
• 10 jam lalupantau.com
thumb
ATTI Kota Kediri Resmi Dikukuhkan, Gus Qowim Dorong Pembinaan Atlet dan Kolaborasi
• 14 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.