JAKARTA, KOMPAS - Polisi menyatakan kelumpuhan sistem kelistrikan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Jambi beberapa waktu lalu bukan karena sabotase, melainkan akibat faktor cuaca. Masyarakat diminta tidak terpengaruh informasi yang menyebut bahwa peristiwa itu merupakan sabotase.
Badan Reserse dan Kriminal Polri pada Minggu (24/5/2026) pagi menurunkan tim investigasi bersama tim dari PT PLN ke lokasi yang diduga merupakan lokasi awal gangguan kelistrikan di sebagian besar wilayah Sumatera. Lokasi itu di menara 175 dan menara 176 di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.
Dari pemeriksaan lapangan tersebut, ditemukan adanya kabel transmisi yang putus. Adapun kondisi struktur menara listrik dalam keadaan baik tanpa ada kerusakan.
”Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca yang ekstrem yang menyebabkan gangguan pada sistem transmisi kelistrikan," kata Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Polri Inspektur Jenderal Nunung Syaifuddin dalam jumpa pers "Hasil Investigasi Gangguan Sistem Kelistrikan (Blackout) di Wilayah Sumatera" oleh Bareskrim Polri di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Tim kemudian meminta keterangan terhadap tiga orang saksi yang rumahnya berada di sekitar lokasi kejadian, yakni Sabridal selaku ketua RT, Narto Wijoyo, dan Eka Dedi Setyawan. Dari mereka didapatkan keterangan bahwa sesaat sebelum listrik padam, terjadi ledakan di sekitar menara listrik tersebut. Untuk kepentingan pendalaman lebih lanjut, potongan kabel transmisi tersebut kini ditangani oleh Puslabfor Polri untuk pemeriksaan dan analisis.
Menurut Nunung, dugaan sementara penyebab terputusnya kabel transmisi disebabkan oleh beberapa kemungkinan, antara lain faktor mekanik akibat gesekan dan pengaruh angin, faktor panas akibat sambungan longgar yang menimbulkan rongga, dan faktor tarikan atau goyangan akibat cuaca ekstrem.
"Kenapa kami bisa pastikan ini bukan faktor sabotase? Karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapih, dia lebih berbentuk serabut. Jadi, kalau itu sabotase pasti dia potongannya lebih rapi," ujarnya.
Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN Edwin Nugraha Putra mengatakan, untuk mencegah berulangnya kejadian serupa, pihaknya akan melakukan pengecekan berulang untuk melihat kondisi sambungan transmisi dengan menggunakan perangkat sinar inframerah. Jika memang kondisi kabel sudah retas, maka akan muncul perbedaan suhu.
"Kalau ada yang (suhunya) tinggi, biasanya kami akan melakukan pemeliharaan khusus di tempat-tempat tersebut," terangnya.
Kenapa kami bisa pastikan ini bukan faktor sabotase? Karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapih, dia lebih berbentuk serabut. Jadi, kalau itu sabotase pasti dia potongannya lebih rapi.
Sebelumnya, PT PLN telah menyampaikan kepada publik bahwa gangguan di jalur transmisi 275 kV Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi karena cuaca buruk pada Jumat pukul 18.44 WIB. Gangguan transmisi itu menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera bagian tengah terputus dari sistem Sumatera bagian utara (Sumbagut) yang meliputi Sumut, Aceh, Sumbar, Riau, dan Jambi.
Hal ini membuat sistem Sumbagut mengalami shock karena putusnya pasokan ataupun beban kelistrikan secara tiba-tiba. Akibatnya, pembangkit listrik di Sumbagut langsung secara otomatis keluar dari sistem. Pembangkitnya juga secara otomatis padam karena menanggung beban yang sangat besar.
Pembangkit lainnya pun padam karena kehilangan beban sehingga tegangan naik dan otomatis padam. Padamnya sejumlah pembangkit listrik menyebabkan efek domino di seluruh sistem Sumbagut sehingga semua pembangkit di sistem itu padam.
Saat ini, kondisi kelistrikan di Sumatera telah kembali normal 100 persen. Nunung pun meminta masyarakat agar tidak terpengaruh berbagai informasi yang beredar di publik.
"Kami imbau agar tetap tenang dan tidak resah serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya serta adanya narasi-narasi yang menyesatkan bahwa seolah-olah ini adalah sabotase," ujar Nunung.





